Sakit hati, keinginan, dan tujuan.
Sepanjang perjalanan, tiga petunjuk itu terus berputar di kepalaku seperti rekaman yang diputar berulang-ulang. Mobil melaju membelah jalan raya Araya yang mulai dipenuhi cahaya lampu malam. Deretan pertokoan, kafe, gedung-gedung tinggi, dan kendaraan yang berlalu-lalang hanya menjadi bayangan samar di balik kaca. Aku bahkan hampir tidak menyadari setiap lampu lalu lintas yang kulewati.
Jari-jemariku mengetuk pelan setir mobil mengikuti irama pikiranku. Otakku bekerja keras, menyusun setiap kemungkinan, tetapi semuanya masih terasa seperti kepingan puzzle yang belum menemukan tempatnya. Buntu. Tidak ada jalan selain bertanya pada Alexa. Ia adalah AI yang bermetamorfosis menjadi tempat keluh kesah pikiranku. Aku lebih suka menggunakan rekam suara setidaknya saat aku menyetir mobil itu tidak merepotkanku.
“Alexa… aku butuh bantuanmu.”
“Katakan, Zafia.”
“Kalau benar seluruh perusahaan keluarga Zaman sudah berpindah kepemilikan, lalu apa hubungannya dengan tiga petunjuk yang diberikan Bu Laza? Beliau hanya mengatakan ada tiga hal yang harus kucari: sakit hati, keinginan, dan tujuan. Bu Laza adalah sepupu Tante Walleya. Dulu beliau juga dipercaya sebagai salah satu pengacara keluarga Zaman, jadi beliau pasti mengetahui banyak hal.”
Aku menggenggam kemudi sedikit lebih erat. Jalanan di depan tetap kupandangi, sementara pikiranku terus menyusun kepingan-kepingan yang selama ini terasa tercerai-berai.
“Aku rasa ada alasan mengapa Bu Laza hanya memberiku tiga petunjuk itu. Mungkin hanya sejauh itu beliau bisa membantuku tanpa membahayakan dirinya sendiri. Selebihnya, aku harus menemukan jawabannya sendiri. Dan aku yakin... semua yang terjadi ini tidak mungkin muncul begitu saja. Pasti ada satu peristiwa besar yang menjadi awal dari semuanya.”
“Analisamu tepat, Zafia,” jawab Alexa. “Hampir setiap tindakan manusia berawal dari sebuah tujuan. Namun, rasa sakit hati seringkali menjadi pemicu yang membuat seseorang berani melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.” Suara Alexa berhenti sejenak, seolah memberi waktu agar aku mencerna setiap katanya.
“Jika Walleya benar berada di balik semua ini, kemungkinan besar ada seseorang yang pernah melukai atau membuatnya menyimpan dendam yang sangat dalam. Itulah sebabnya, sasarannya adalah perusahaan keluarga Zaman. Tidak semua orang memilih membalas langsung kepada orang yang menyakitinya. Ada yang justru menyerang hal yang paling berharga bagi lawannya, karena cara itu sering kali meninggalkan kehancuran yang jauh lebih besar.”
Hening beberapa detik menyelimuti kabin mobil sebelum Alexa kembali berbicara. “Zafia, menurutku kau perlu mencari tahu sejarah dari orang yang kau percaya, alasan apa yang membuat Walleya mengambil jalan ini. Jawaban atas masa lalunya bisa menjadi kunci untuk memahami semua yang sedang terjadi.”
Aku mengembuskan napas pelan. Rasanya, untuk pertama kalinya, arah pencarianku mulai terlihat lebih jelas. “Baiklah. Alexa, hubungi Adfan lewat telepon sekarang juga. Aku butuh bantuannya untuk mencari sejarah yang baru saja kau jelaskan. Aku tidak bisa melakukannya sendiri karena sedang menyetir.”
Suara AI dari sistem Amazon Alexa langsung memenuhi kabin mobil. “Baik, Zafia. Akan segera kuhubungkan.”
Tak sampai beberapa detik, sambungan telepon tersambung. Suara Adfan langsung terdengar dari pengeras suara mobil.
"Ada sesuatu?"
"Adfan, aku butuh bantuanmu."
"Katakan."
"Tolong cari tahu apa pun yang berkaitan dengan riwayat hidup Tante Walleya. Clue yang kita punya hanya tiga: sakit hati, keinginan, dan tujuan."
Aku menghentikan ucapanku sejenak, berusaha menyusun setiap kalimat agar tidak ada yang terlewat. "Itu pasti berkaitan dengan seluruh perusahaan Zaman yang menghilang atau dijual atas nama Kakek. Aku mulai berpikir, mungkin sakit hati itu berasal dari seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya. Dari sanalah muncul keinginan untuk memiliki seluruh aset yang masih tersisa milik Nenek. Lalu kemudian, tujuan, itulah yang membuatnya terus bergerak sampai sekarang, apa pun caranya yang harus dia tempuh."
Beberapa detik hanya terdengar suara mesin mobil dan deru kendaraan dari kejauhan.
"Kamu bisa mulai dari Tante Riya, ibumu sendiri. Beliau tahu lebih banyak dari pada kita semua. Atau siapa pun yang benar-benar bisa dipercaya. Cari masa lalunya sedetail mungkin. Aku yakin jawabannya ada di sana."
"Baik, aku akan menemui Mama.”
"Terima kasih." Panggilan pun berakhir.
Pikiranku terasa sedikit lebih ringan. Setidaknya sekarang ada seseorang yang bergerak mencari jawaban dari arah yang berbeda, sementara aku akan mencarinya secara langsung.
"Alexa, hubungi Kak Barka."
"Baik, Zenriya." Panggilan langsung tersambung.
“Kak, aku butuh bantuanmu. Aku baru saja mendapat petunjuk tentang dokumen itu dari Bu Laza, salah satu pengacara lama keluarga Zaman. Dokumennya ada di ruang arsip rumah Tante Walleya. Aku sudah memastikan sendiri kalau beliau mengatakan yang sebenarnya. Tolong datang ke rumah Tante Walleya sekarang juga. Aku juga sudah hampir sampai di sana. Nanti aku akan mengalihkan perhatian mereka supaya kakak bisa mengambil dokumen itu.”
“Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?”
“Kebetulan sedang memihakku. Aku tadi baru sampai di rumah Om Karlam. Lalu tidak sengaja melihat mobil Bu Laza meninggalkan rumah itu, sepertinya ia baru menemuinya sepupunya itu. Dan tolong jangan bilang pada siapa pun kalau aku mengetahui semua ini dari Bu Laza. Kita tidak boleh mengambil risiko yang bisa membahayakan beliau. Ajak Kak Mafa juga. Jelaskan semuanya kepadanya supaya tidak terjadi salah paham.”
"Kenapa aku harus membawa dia?"
"Kita tahu, dia satu-satunya orang yang selama ini tidak dicurigai Tante Walleya sekaligus tidak terlihat berpihak kepada siapa pun."
"Baik. Aku jalan sekarang."
Sambungan telepon pun berakhir.
Tak lama kemudian, mobilku mulai melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan gerbang tinggi kediaman Om Karlam. Bangunan megah bergaya klasik itu berdiri kokoh di balik pagar besi hitam dengan pencahayaan taman yang redup, tetapi tetap memancarkan kesan elegan dan berwibawa.
Aku mematikan mesin mobil. Tatapanku tertuju beberapa detik ke arah rumah itu. Malam ini semuanya harus selesai. Apa pun yang terjadi, aku tidak boleh kehilangan kendali.
Aku turun dari mobil, lalu berjalan menuju gerbang. Jemariku menekan bel yang terpasang di samping pagar.
Ia membuka gerbang sedikit sebelum menatapku dengan sopan. Tak lama kemudian, seorang satpam menghampiri
"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Zafia Zenriya, ingin bertemu dengan Tante Walleya." Aku menunjukkan kartu lisensi anggota keluarga Zaman padanya.