Aku langsung mengangkat panggilan Kak Barka dengan memencet earphone yang sudah terpasang di telingaku sebelum memasuki rumah Tante Walleya, tersembunyi rapi di balik pashmina.
"Zaf, kami sudah sampai. Kami akan mulai sekarang."
Sambungan itu terputus secepat datangnya.
Aku mengembuskan napas pelan, lalu memasang raut wajah seolah seluruh ucapan mereka barusan mengguncangku. Padahal, sebagian besar cerita itu sudah pernah kudengar dari Mama. Mereka hanya menambahkan hal-hal yang tidak pernah diceritakan kepadaku, seperti Ayah menginginkan harta keluarga Zaman. Kemungkinan hanyalah cerita palsu yang sengaja dibuat oleh Tante Walleya. Tuduhan itu terdengar begitu kejam. Dan aku tetap mengingat jika wanita di hadapanku ini memiliki bakat tipu muslihat yang besar.
Aku menatap mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Jadi... itu yang sebenarnya terjadi, sampai kalian begitu membenci ayahku?" Aku bertanya dengan lirih. "Tolong jelaskan."
"Akan aku jelaskan, Zafia," Tante Walleya yang menjawab, menurunkan nada suaranya.
Dalam hati aku merasa lega. Masih ada waktu untuk Kak Barka dan Kak Mafa pergi ke ruang arsip mengambil dokumen itu. Mereka berdua tahu bentuk dokumennya seperti apa.
"Tolong, Tante... katakan." Aku sengaja memohon.
Tante Walleya menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. Ia menatapku seolah iba. "Mungkin, ibumu tidak pernah memberitahukan apa pun padamu tentang apa yang terjadi pada pernikahan orang tuamu. Karena itu akan menjadi aib besar bagi ketiga anaknya. Dan kalian tidak akan sanggup mendengarnya.” Tante Walleya terlihat meyakinkan dengan memasang wajah sedih.
“Sebenarnya puluhan tahun lalu orang tuamu tidak pernah mendapat restu. Bukan hanya dari keluarga Zaman, tetapi juga dari keluarga ayahmu sendiri. Kedua keluarga itu sudah saling membenci jauh sebelum orang tuamu menikah." Aku tetap diam, membiarkannya melanjutkan.
"Semuanya bermula dari kakek pihak ayahmu, Pak Nazan. Dulu dia adalah sahabat dekat Kakek Muria dan ikut membangun perusahaan Zaman. Namun ketika perusahaan sedang berada di masa sulit, dia memilih pergi. Kakek Muria menganggap itu sebagai pengkhianatan. Sejak saat itu, hubungan mereka renggang. Mereka saling bersumpah, jangan sampai keturunan keluarga Zaman atau kakek dari ayahmu besanan. Kalau itu sampai terjadi, mereka tidak akan pernah merestuinya, sekaligus memusuhinya seumur hidup sampai pada keturunannya."
Aku harus terlihat sangat menyedihkan demi meyakinkan semua orang yang ada di ruangan ini, seolah baru mendengar semua itu. Padahal dari sepuluh tahun lalu, aku sudah mengetahui semuanya. Aku sengaja membiarkan Tante Walleya mengarang cerita lebih banyak lagi untuk menambah waktu Kak Barka.
"Apa... itu benar?" Aku bertanya seolah tidak percaya.
"Kau bisa tanyakan sendiri kepada orang tuamu, Zafia. Semua orang di lingkungan kami tahu kisah itu. Kejadiannya bahkan jauh sebelum kakakmu, Lazam, lahir. Saat itu orang tuamu masih muda."
"Lalu?"
Tante Walleya melanjutkan tanpa ragu. "Setelah menikah, ayahmu semakin tidak tahu diri. Dia memengaruhi ibumu agar menjauhi keluarga Zaman, dan dia berhasil. Sejak saat itu hubungan kami semakin hancur. Belum lagi keserakahannya terhadap harta keluarga. Semua itu membuat kami semakin muak."
Aku menundukkan kepala sejenak, berpura-pura mencerna semuanya. "Sekarang... aku mulai mengerti."
Aku mengangkat kepala dan menatap Tante Walleya lagi. "Tapi, Tante... kalau memang semua berawal dari sana, apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan lama keluarga Zaman? Dan apa yang terjadi pada Tante, juga seluruh keluarga ini... sampai keluarga Zaman bisa terpecah seperti sekarang?"
Ini saatnya. Mereka terlihat mulai percaya padaku, lalu mengira aku sudah larut dalam emosi dan mulai mempercayai setiap ucapan mereka. Padahal, justru itulah yang kuinginkan sejak awal. Selama mereka merasa berhasil memengaruhiku, mereka akan terus membuka mulut tanpa menyadari bahwa setiap jawaban yang mereka berikan hanya mengulur waktu bagi Kak Barka dan Kak Mafa.
“Ya, kita sama, Zafia. Ayahmu sakit hati karena perlakuan Kakek Muria. Begitu pula dengan orang tuaku. Ibuku hampir bernasib sama dengan keluargamu. Tapi kami bukan orang-orang yang menyerah. Seharusnya, kau tidak perlu susah-susah mencari dokumen Zaman karena itu tidak diperlukan. Kalau kamu membuka semuanya, kamu justru akan membuka seluruh tabiat buruk ayahmu sendiri.”
Tante Walleya mendekatiku, ia mengusap punggungku, seolah menguatkan. Dari sorot matanya, aku tahu ia mulai percaya bahwa ucapannya berhasil menggoyahkan pikiranku. Itu yang kuinginkan.
Jadi Tante Walleya menghancurkan kami karena sakit hati.
Aku menundukkan kepala sejenak, lalu mengangguk pelan seolah sedang mempertimbangkan semua perkataannya. “Lalu... aku harus bagaimana, Tante?”
“Kamu perlu diam. Tidak melakukan apa pun. Itu yang terbaik. Daripada kamu membantu Barka dan yang lainnya mencari dokumen itu, yang ada justru kamu sendiri yang akan terjebak. Kamu tidak akan mendapat apa pun selain rasa malu.”
Aku mengangkat wajah perlahan. Kubiarkan keraguan terlihat jelas di mataku sebelum akhirnya mengangguk. “Aku akan lakukan itu. Terima kasih sudah beritahu aku.”
Jawabanku meluncur tanpa ragu. Kalimat yang sengaja kuberikan untuk memuaskan ego mereka. Semakin mereka yakin aku telah berpihak, semakin kecil kemungkinan mereka menyadari bahwa sejak awal aku hanya sedang mengulur waktu. Ponselku kembali menyala.
Rekaman suara yang tadi sempat kuhentikan masih tersimpan. Meski kurasa isinya sudah lebih dari cukup, aku tetap membiarkannya.
Aku segera menerima panggilan melalui earphone yang tersembunyi di balik pashmina.
“Zaf, aku berhasil mendapatkannya. Kami langsung pulang. Kita ketemu di rumah Kakek.” Sambungan itu berakhir. Aku menahan napas pelan.
Selesai. Tugasku di sini juga selesai. Aku kembali memasang raut wajah yang suram sebelum menoleh kepada Tante Walleya.
“Tante... terima kasih atas semua informasinya. Maaf kalau tadi aku lancang. Sekarang... aku harus pulang.”
Kusengaja melembutkan suaraku, seolah sedang menahan kekecewaan yang begitu besar. Aku bahkan mengusap sudut mataku, berpura-pura menahan air mata yang tak kunjung jatuh.
“Permisi, Tante.”
"Silakan, Zafia. Tante tahu kau pasti terpukul mendengar semua ini.”
Aku hanya mengangguk pelan, lalu melangkah keluar setelah berpamitan.
Begitu melewati ambang pintu, aku memperlambat langkah. Tubuhku berhenti tepat di samping dinding, cukup dekat untuk menangkap suara dari dalam ruangan tanpa terlihat masih menguping.
“Oh, Zafia... anak yang malang,” terdengar suara Tante Walleya. “Dia tidak tahu apa pun tentang keluarganya. Seharusnya dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sejarah orang tuanya. Sebagian cerita yang kukatakan itu hanya palsu dan itu cukup menghancurkannya.”
Mereka tertawa. Tante Walleya mengira dirinya berhasil membodohiku. Sayangnya, ia tidak menyadari tujuan kedatanganku yang sebenarnya ke rumah ini untuk apa. Dan itu cukup membuatku tersenyum.