Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #23

22. ZM Docs

Pukul 07.43 kami berada di ruang IT, sayap barat. Ruangan itu dipenuhi deretan monitor berukuran besar, rak server yang terus berdengung pelan, serta beberapa komputer dengan spesifikasi tinggi yang memang disiapkan untuk mengakses sistem keamanan keluarga Zaman. Bargha dan Ebra segera menempati kursi di depan meja utama, sementara aku, Adfan, Kak Barka, dan Kak Mafa berdiri di belakang mengelilingi mereka sambil memperhatikan setiap langkah yang mereka lakukan.

Selain dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses, Ebra juga memiliki kemampuan di bidang lain sebagai peretas. Kak Barka sebelumnya mengatakan, kemampuannya menjadi peretasnya memang belum sebanding dengan Bargha maupun Zaras, tetapi lebih dari cukup untuk membantu hari ini, terlebih Zaras mendadak jatuh sakit sehingga tidak dapat bergabung.

Ebra mengambil kartu hitam yang kami temukan di dalam brankas, lalu menempelkannya pada pemindai yang terhubung ke komputer. Dalam hitungan detik aplikasi Aleze terbuka dan meminta proses autentikasi. 

Sebuah bingkai pemindaian muncul di layar. Ia mengarahkan kartu itu ke kamera hingga terdengar bunyi bip singkat. Garis hijau melintas di permukaan kartu, disusul tulisan Verifikasi Berhasil. Beberapa saat kemudian tampilan layar berubah dengan sendirinya, memperlihatkan sebuah ikon berbentuk brankas digital yang perlahan terbuka.

"Apa maksudnya ini?" tanyaku sambil memperhatikan layar. "Kenapa tertulis dokumen berhasil ditemukan, tetapi tidak ada satu pun berkas yang bisa dibuka?"

Bargha menyandarkan tubuhnya ke kursi, sementara jemarinya masih bergerak cepat di atas papan ketik. "Karena kartu yang kita temukan di dalam brankas bukanlah dokumen itu sendiri," jelasnya tenang. "Kartu ini hanya berfungsi sebagai kunci autentikasi untuk masuk ke sistem Aleze. Anggap saja kita baru berhasil membuka pintu pertama. Setelah ini masih ada beberapa lapisan keamanan lain yang harus dilewati sebelum dokumen aslinya bisa diakses."

Aku mengangguk mengerti. Kami semua kembali menatap layar monitor yang dipenuhi folder bergambar gembok. Tak satu pun dapat diakses. “Hebat sekali. Kita sampai melupakan satu hal terpenting, orang yang merancang sistem ini memahami satu hal: manusia akan lengah ketika merasa telah menang. Brankas itu bukanlah tujuan akhir, melainkan umpan agar kami percaya semuanya sudah selesai. Padahal, setiap pintu yang terbuka hanya mengantarkan kita pada pintu berikutnya. Sebuah jebakan yang disembunyikan di balik jebakan lain.”

“Zafia benar, kita harus berhati-hati lagi,” sahut Kak Barka.

Sistem itu mulai terbuka, terlihat langsung sepuluh persen, lalu naik lagi, sampai satu menit berhenti, selanjutnya angka persentasenya naik menjadi tiga puluh lima persen. 

Namun dua menit kemudian, presentase itu kembali berhenti. Kami tetap menunggu. Satu menit… dua menit.

Hingga lima menit telah berlalu, tetapi angka di layar sama sekali tidak berubah. Ruangan kembali sunyi. Hanya terdengar suara kipas server yang terus berdengung memenuhi ruang IT. Aku melirik jam di sudut monitor.

Waktu kami terus berjalan. Bargha akhirnya memecah keheningan. “Waktu kita semakin menipis. Kita hanya punya empat menit lagi.”

Tidak ada yang menjawab. Aku, Kak Barka, Kak Mafa, Kak Tashbiya, dan Adfan memilih diam, menahan napas. Dalam keadaan seperti ini, kami sadar tidak ada satu pun yang bisa membantu selain menunggu.

“Semuanya tetap tenang,” kata Bargha tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Semoga lapisan kedua bisa kita lewati.”

“Semoga,” sahut Ebra pelan.

Tangan Ebra kembali bergerak di atas papan ketik. Beberapa jendela baru terbuka di layar. Bargha sesekali memberi isyarat singkat, lalu Ebra langsung mengikuti arahannya tanpa perlu banyak bertanya. Keduanya seperti sudah memahami ritme kerja masing-masing.

Perlahan persentase kembali bergerak. Empat puluh sembilan. Enam puluh dua. Tujuh puluh. Tujuh puluh lima.

 Tiba-tiba, alarm peringatan berdengung keras memenuhi ruangan. Lampu indikator di monitor berubah merah. Beberapa jendela peringatan bermunculan hampir bersamaan.

Aku refleks kembali menahan napas.

“Bagaimana bisa...?” Ebra bergerak lebih dulu. Jemarinya menekan beberapa tombol hingga suara alarm perlahan mereda. Sementara itu Bargha langsung memindahkan salah satu monitor ke hadapannya.

“Belum terkunci,” gumam Bargha. “Masih ada kesempatan. Kita ganti jalurnya.”

Ebra mengangguk tanpa bertanya. Tatapannya menyapu cepat setiap baris yang muncul di layar. Beberapa detik kemudian ia menarik papan ketik ke arahnya.

Sekarang mereka bekerja bersamaan. Satu orang membuka struktur sistem yang tadi gagal ditembus, sementara yang lain menelusuri celah lain yang masih bisa dimanfaatkan. Baris-baris kode terus bermunculan silih berganti. Sesekali Bargha menyebut beberapa angka pendek, lalu Ebra langsung memasukkannya tanpa ragu.

“Delapan.” Ebra mengetik. “Tujuh. Satu. Sembilan. Empat.”

Tanpa menunggu, Ebra langsung menekan tombol konfirmasi. Kami semua menghela napas pelan. Beberapa detik terasa jauh lebih lama.

Lalu terdengar bunyi pelan. Klik. Gembok kedua akhirnya terbuka. Aku mengembuskan napas lega. Namun rasa lega itu tidak bertahan lama.

Di layar kembali muncul satu ikon gembok berwarna hitam, kali ini disertai kolom sandi yang jauh lebih panjang daripada sebelumnya.

Bargha menyandarkan punggungnya sejenak. “Lapisan terakhir.”

Ebra membaca cepat beberapa simbol yang muncul di layar, lalu menggeleng pelan. “Bukan angka lagi.”

"Memang bukan.” Bargha memperbesar tampilan layar. “Ini sandi berbentuk frasa. Sebagian karakter sengaja disamarkan agar tidak bisa dibaca sistem biasa.”

Ia mengambil selembar kertas, mencatat beberapa karakter, lalu mulai menyusunnya kembali satu per satu. Ebra ikut memperhatikan, sesekali mengoreksi letak huruf yang dianggap tidak sesuai. Tidak sampai satu menit, Bargha mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya