Kak Tashbiya yang mengantarku pulang sampai rumah. Sepanjang perjalanan sampai ke rumah aku hanya diam memikirkan semuanya. Jalanan sore yang biasanya selalu ramai terasa begitu sunyi di telingaku. Aku hanya menatap keluar jendela, melihat deretan pepohonan, gedung-gedung perkantoran yang mulai lengang, kafe, kedai makanan yang dipenuhi pengunjung, serta kendaraan yang berlalu-lalang tanpa benar-benar kuperhatikan. Semua pemandangan itu terus bergerak melewati kaca mobil, tetapi pikiranku sama sekali tidak berada di sana.
"Zaf, kita sudah sampai,” suara Kak Tashbiya membuyarkan lamunanku.
Aku baru menoleh ketika Kak Tashbiya memberitahuku. Pandanganku beralih ke depan. Kami sudah berhenti tepat di depan gerbang rumahku.
"Terima kasih sudah mengantarku. Kakak mau mampir dulu?"
"Terima kasih, Zaf." Kak Tashbiya menggeleng pelan. "Lain kali saja. Ada banyak hal yang harus kuurus. Dan Kakak sarankan, kamu jangan terlalu larut memikirkan apa yang baru saja kita ketahui. Kakak tahu ini terlalu berat untuk diabaikan. Tapi kita juga harus ingat, masih ada banyak hal yang harus kita selesaikan nanti malam. Jadi sekarang sebaiknya masuk rumah dan ke ke kamar, bersihkan diri, lalu tidur. Itu akan membantumu berpikir lebih jernih."
Aku mengangguk pelan, menuruti sarannya. "Kalau begitu aku permisi."
"Hati-hati." Kak Tashbiya mengangguk.
Aku turun dari mobil sambil melambaikan tangan. Setelah memastikan aku sudah masuk ke area rumah, ia kembali menyalakan mesin mobilnya. BMW hitam itu perlahan meninggalkan halaman hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan.
Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Begitu melangkah memasuki rumah, aku harus kembali menjadi diriku yang biasa. Tidak boleh ada raut wajah yang memperlihatkan kegelisahan, tidak boleh ada sikap yang mengundang pertanyaan. Untungnya, aku sudah terbiasa melakukan itu.
Berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja adalah cara bertahan yang tanpa sadar dipelajari seluruh anggota keluarga Zaman. Kami terbiasa menyimpan luka masing-masing tanpa pernah benar-benar membicarakannya.
Aku tersenyum tipis ketika Pak Nam, satpam rumah kami, membukakan gerbang.
"Selamat sore, Nona."
"Sore, Pak."
Setelah menyapa, aku langsung melangkah pergi melewati jalan selebar satu meter menuju bangunan utama rumah. Jarak dari gerbang ke teras sekitar dua puluh meter. Di sisi kanan dan kiri terbentang taman yang selalu dirawat dengan rapi. Rumput hijau dipangkas pendek, beberapa pohon kamboja dan palem berdiri teduh, sementara lampu taman mulai menyala mengikuti redupnya langit sore.
Tak jauh dari sana, kulihat Bibi Nan sedang menyiram tanaman menggunakan selang air. Aroma tanah basah bercampur wangi bunga memenuhi udara, membuat suasana rumah terasa jauh lebih tenang dibandingkan isi kepalaku.
Aku menghampirinya sambil tersenyum. "Bibi, kelihatannya pekan ini bunganya tumbuh dengan baik. Mawarnya cantik sekali."
Aku mengusap pelan salah satu bunga mawar merah yang baru saja mekar. Kelopaknya tampak segar dengan butiran air yang masih menempel di permukaannya.
"Benar, Nona." Bibi Nan ikut tersenyum. "Akhirnya, setelah sekian lama bunganya bisa mekar dengan indah. Biasanya selalu dimakan ulat. Kalau tidak begitu, malah layu. Padahal setiap hari selalu Bibi siram dua kali."
"Mungkin memang baru sekarang waktunya tumbuh dengan baik." Aku kembali berdiri tegak. "Bibi, Mama dan Ayah ada di rumah?"
"Baru saja pergi, Nona. Beliau berdua menyampaikan, kalau Nona Zafia atau Adzana mencari, mereka sedang ke butik menyewa baju untuk acara nanti malam."
Aku mengangguk pelan. Baru saat itu aku tersadar. Aku sendiri bahkan belum membeli hadiah. Belum menyiapkan pakaian. Belum memikirkan akan mengenakan apa nanti malam.
Aku terlalu fokus pada Zaman Docs sampai melupakan hal-hal kecil seperti itu. Dan kalau sampai salah kostum, aku bisa membayangkan wajah Tante Walleya di depanku nanti.
Wanita itu pasti akan mengomentariku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kenapa dia tidak menjadi komentator bola saja, sih? Atau komentator busana sekalian. Mungkin itu lebih cocok. Walaupun... kalau dipikir-pikir, selera berpakaiannya sendiri juga tidak jauh lebih baik daripada kebiasaannya mengomentari orang lain.
"Nona..."
Aku langsung melebarkan mata, tersadar dari lamunanku. "Eh... permisi."
Bibi Nan hanya menggeleng pelan sambil tersenyum kecil, seolah bertanya-tanya apa yang sedang Zafia pikirkan?
Aku kembali melangkah menuju pintu utama rumah. Di sepanjang pelataran terbentang kolam renang memanjang dengan permukaan air yang memantulkan warna jingga langit sore. Di dekat pintu masuk berdiri air mancur bertingkat dari batu alam. Gemericik airnya terdengar lembut, berpadu dengan semilir angin yang menggerakkan daun-daun tanaman rambat dari balkon lantai dua hingga menjuntai hampir menyentuh lantai utama.
Rumah ini memang selalu terasa sejuk. Terlalu damai, sampai sulit dipercaya bahwa beberapa jam lalu aku baru mengetahui fakta-fakta yang mampu mengguncang keluargaku.
Aku membuka pintu utama dan mengucapkan salam. Suasana di dalam rumah jauh lebih tenang. Lorong utama diterangi lampu gantung berwarna kuning hangat. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya dengan lembut. Beberapa lukisan keluarga tergantung rapi di dinding, sementara aroma mawar dan vanila dari diffuser memenuhi ruangan.
Aku langsung menaiki tangga menuju lantai dua tanpa berhenti di ruang keluarga. Begitu membuka pintu kamar, suasana yang familier langsung menyambutku.
Dinding putih gading dipadukan sentuhan kayu muda membuat ruangan itu terasa hangat. Tempat tidurku masih tertata rapi. Rak buku di sudut ruangan dipenuhi novel, jurnal, serta beberapa map berisi catatan yang kususun berdasarkan tanggal dan kategori. Di atas meja belajar terdapat laptop yang masih tertutup, beberapa buku yang belum sempat kubereskan, serta secangkir teh yang sudah dingin sejak pagi.