Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #25

24. Runtuhnya Ego

Aku terbangun saat azan Magrib berkumandang. Aku tidak tahu kapan akhirnya tertidur. Begitu membuka mata, kepalaku terasa sakit, pandanganku sempat buram beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus.

Pukul 18.00. Langit di balik jendela sudah berubah gelap. Cahaya lampu taman menyelinap samar melalui sela-sela gorden, menjadi satu-satunya penerangan yang masuk ke dalam kamar.

Aku langsung menuju kamar mandi. Aku Kembali mandi dengan air hangat. Air itu mengalir di tubuh perlahan menghapus sisa lelah sejak siang tadi. Seusai mandi, aku mengenakan abaya hitam, mengambil mukena, lalu menunaikan salat Magrib. Di setiap sujud, pikiranku terus dipenuhi berbagai kemungkinan yang akan terjadi malam ini.

Aku mengakhiri salat dengan doa yang lebih panjang daripada biasanya. Setelah makan malam sekadarnya, aku mulai bersiap menghadiri acara pertunangan yang akan dimulai setelah Isya.

Ponselku berdering. Aku segera mengambil benda pipih persegi panjang itu di atas nakas. Nama Kak Tashbiya muncul di layar.

"Iya, Kak?"

"Berangkat sekarang. Kita akan datang lebih cepat. Ebra sedang perjalanan menjemputmu."

"Baik. Aku bersiap."

"Jangan terlalu lama. Semuanya mulai bergerak dari sekarang."

"Iya, Kak." Telepon langsung terputus.

Aku masuk ke walking closet. Deretan pakaian tergantung rapi di sepanjang lemari, tanganku langsung meraih gaun panjang berwarna moka yang menggantung di sudut paling kanan. Potongannya sederhana, tanpa hiasan berlebihan, dengan rok yang jatuh hingga hampir menyentuh mata kaki. Gaun itu sudah dua kali kupakai, tetapi masih tampak seperti baru karena selalu kusimpan dengan baik.

Entah kenapa aku selalu menyukai warna moka. Warnanya terasa menyatu dengan kulitku tanpa terlihat mencolok. Setelah mengenakan gaun itu, kupilih pashmina dengan warna senada. Bahannya lembut dan ringan. Seperti biasa, dililitkan ke arah depan, lalu kurapikan hingga membingkai wajah.

Terakhir, kubuka kotak beludru kecil di atas meja rias. Sebuah bros berlian berlambang keluarga Zaman terbaring di dalamnya. Bentuknya menyerupai bintang dengan garis miring berwarna marun yang membelah tepat di bagian tengah. Lambang itu sederhana, tetapi cukup untuk dikenali oleh siapa pun yang berasal dari keluarga kami. Terakhir aku memakainya delapan tahun lalu, tepat acara resmi pernikahan Kak Hakam, kakak sulung dari Kak Tashbiya dan Kak Mafa. Mereka tiga bersaudara.

Kusematkan bros itu di sisi kiri pashmina, tepat di dekat bahu. Jemariku berhenti sejenak sebelum akhirnya kutatap pantulan diriku di cermin. Malam ini, bukan sekadar pertunangan Kak Marifa, ada hal lain yaitu menyaksikan satu per satu kebohongan Tante Walleya runtuh di hadapan semua orang.

Aku meninggalkan walking closet, keluar dari kamar tidur, lalu menyusuri lorong lantai dua yang lengang sebelum menuruni tangga marmer menuju ruang keluarga. Rumah ini sengaja dibuat seluas mungkin untuk memberikan penghuninya memiliki ruang yang nyaman. Dinding-dindingnya yang kedap suara membuat percakapan dari ruang tamu tidak pernah terdengar sampai ke lantai atas, terlebih jarak dari tangga ke ruang utama hampir lima puluh meter.

Saat aku memasuki ruang tamu, Ebra baru saja tiba. Ayah dan Mama sudah duduk menemaninya. Cahaya lampu gantung berwarna keemasan memenuhi ruangan, memantul di permukaan meja marmer yang dihiasi vas bunga lili putih. Aroma kopi yang baru diseduh masih menggantung tipis di udara, berpadu dengan wangi bunga segar yang memenuhi sudut ruangan.

Aku tidak melihat Adzana sudah bersiap. Entah alasan apa lagi yang akan dia katakan. Perutnya sakit, kepalanya pusing, atau yang paling pasti dia memang tidak suka menghadiri acara keluarga Zaman. Katanya, acaranya banyak dramanya seperti sinetron yang tidak pernah tamat.

Seperti biasa, Adzana akan mencari alasan apa pun yang paling masuk akal supaya dia tidak perlu ikut pergi. Untungnya Nenek Zaida sudah tidak ada. Jika masih ada, maka habislah riwayat Adzana dengan berbagai pertanyaan dari nenek kami satu itu. Saat Nenek Zaida wafat, Adzana masih berusia enam tahun. Dia masih kecil untuk mengingat banyak hal tentang nenek kejamnya itu.

“Zafia…” ayah memanggilku, dengan merendahkan suaranya.

Aku mengangguk pelan. “Iya Ayah.”

Ebra ikut menoleh saat ayah memanggil namaku. Untuk sepersekian detik tatapan kami bertemu. Tatapannya cukup dalam, seolah memastikan semuanya masih berjalan sesuai rencana. Aku langsung menyadarinya dan segera mengalihkan pandangan sebelum ayah atau mama menangkap sesuatu yang seharusnya tidak mereka ketahui.

“Iya, Ayah. Kami berdua berangkat duluan.” Aku segera mencium tangan Ayah dan Mama secara bergantian.

“Silakan.” Ayah menoleh ke arah Ebra. “Ebra, tolong bawa mobilnya hati-hati. Saya titipkan putri saya ke kamu.”

“Tidak perlu khawatir. Terima kasih sudah mengizinkan saya membawa putri kedua Anda menghadiri acara malam ini. Saya pastikan, Zafia akan saya antar pulang kembali dalam keadaan baik.”

“Sama-sama.”

“Kalau begitu kami permisi. Assalamualaikum.”

“Walaikum salam.” Mama dan Ayah yang menjawab serentak.

Ebra menjabat tangan Ayah dengan erat. Setelah itu ia sedikit menganggukkan kepala sambil memejamkan mata sesaat sebagai bentuk hormat sebelum melangkah mundur. Aku ikut berpamitan, lalu berjalan berdampingan dengannya menuju pintu utama.

_________

Udara malam yang sejuk langsung menyambut begitu kami keluar rumah. Di halaman, BMW hitam itu sudah terparkir rapi sejak beberapa menit lalu. Lampu depannya menyala redup, sementara sang sopir telah berdiri di samping mobil menunggu kami.

Begitu kami mendekat, sopir segera membukakan pintu belakang.

Ebra lebih dulu mempersilakan masuk. Setelah aku duduk dengan gaun yang telah kurapikan, ia menutup pintu perlahan, memutari bagian belakang mobil, lalu masuk dari sisi satunya dan duduk di sebelahku.

Ia melonggarkan satu kancing jasnya agar lebih nyaman, kemudian bersandar tegap di kursi. Tatapannya sesaat mengarah ke kaca depan sebelum memberi isyarat kepada sopir.

"Kita jalan sekarang."

"Baik, Tuan." Sopir itu mengangguk.

Lihat selengkapnya