Kami sengaja tidak terburu-buru. Memberi waktu sepuluh menit terakhir sebelum pesta pertunangan yang megah itu berubah menjadi malam terakhir kebahagiaan keluarga Om Karlam.
Lampu ballroom diredupkan beberapa tingkat. Cahaya lampu sorot perlahan bergeser, menyinari area tengah ruangan. Alunan orkestra mulai memainkan lagu pembuka untuk sesi dansa. Satu per satu pasangan resmi melangkah ke tengah ruangan. Marifa berdansa bersama calon tunangannya dengan gerakan yang anggun namun tetap menjaga jarak. Kak Khimiya berdiri berhadapan dengan suaminya, diikuti Kak Noora dan pasangan-pasangan lain yang bergantian memenuhi lantai ballroom. Gaun-gaun mewah berayun mengikuti irama musik, sementara jas hitam para pria bergerak selaras dalam langkah-langkah yang rapi.
Di sekeliling mereka, gelas-gelas kristal beradu pelan. Para fotografer sibuk berpindah tempat, memburu setiap senyum, setiap tatapan, dan setiap putaran yang mereka anggap layak diabadikan sebagai kenangan malam istimewa keluarga Zaman.
Aku tetap berdiri di tepi ballroom bersama Ebra. Kami tidak ikut berdansa.
Sesekali mataku bergerak ke pintu masuk ballroom, memastikan semuanya masih sesuai rencana. Lalu berpindah ke meja operator audio visual yang terus memantau layar komputer mereka. Setelah itu pandanganku berhenti beberapa detik pada layar LED raksasa di ujung ruangan.
Sebentar lagi.
Lima menit kemudian, lagu mencapai bagian penutupnya. Tempo musik melambat hingga akhirnya berhenti diiringi tepuk tangan para tamu. Satu per satu pasangan saling menganggukkan kepala sebelum kembali ke tempat masing-masing. Para pelayan bergerak sigap mengembalikan posisi kursi yang sedikit bergeser, sementara fotografer kembali bersiap di depan panggung utama.
Seluruh perhatian ruangan beralih ke depan ballroom. Om Karlam menggandeng Tante Walleya melangkah menuju tengah ruangan. Keduanya berhenti tepat di bawah sorot lampu utama. Musik orkestra masih mengalun pelan sebagai latar sebelum perlahan diperkecil volumenya hingga hampir hanya menjadi bisikan.
Om Karlam menerima mikrofon dari pembawa acara. Ia tersenyum lebar, mengedarkan pandangan ke seluruh tamu yang hadir sebelum mulai berbicara.
"Selamat malam, hadirin yang berbahagia." Ia berhenti sejenak, menunggu ruangan benar-benar tenang. "Atas nama keluarga Zaman, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga, sahabat, kolega, dan para tamu undangan yang telah meluangkan waktu untuk hadir pada malam yang sangat berarti ini."
Senyumnya semakin lebar ketika menoleh ke arah Marifa. "Malam ini menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan bagi keluarga kami. Sebuah langkah baru akan dimulai oleh putri bungsu kami, Marifa Siena Zaman. Sebagai orang tua, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat anak kami tumbuh, menemukan pendamping hidupnya, dan memulai masa depan yang kami harapkan dipenuhi kebahagiaan."
Beberapa tamu mulai bertepuk tangan pelan.
"Kami juga berharap hubungan baik yang selama ini terjalin antarkeluarga akan semakin erat. Semoga pertunangan ini menjadi awal dari rumah tangga yang penuh keberkahan, kehormatan, serta kebahagiaan bagi kedua mempelai."
Om Karlam menarik napas pendek sebelum kembali tersenyum. "Sekali lagi, terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian. Kehadiran Anda semua adalah kehormatan besar bagi keluarga kami.” Ia sedikit menganggukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.
Pembawa acara kembali melangkah ke tengah ballroom sambil tersenyum ramah. "Baik, hadirin sekalian. Selanjutnya kita akan memasuki prosesi tukar cincin sebagai simbol resmi pertunangan kedua mempelai."
Suasana ballroom kembali hening. Semua mata tertuju ke arah Marifa dan Adrraz. Kemudian, prosesi tukar cincin pun dimulai. Sesuai kesepakatan kedua keluarga, cincin pertunangan dipasangkan langsung oleh orang tua Marifa dan Adrraz. Satu per satu cincin itu melingkar di jari manis mereka sebagai simbol ikatan yang baru saja diresmikan, sehingga selama prosesi berlangsung keduanya tidak perlu saling bersentuhan.
Aku mengangkat pandangan ke arah Kak Barka yang posisinya tidak jauh dari pandanganku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku mengedipkan mata pelan padanya, kode seolah mengatakan, kita mulai. Kak Barka membalas dengan anggukan nyaris tak terlihat. Sudut bibirku terangkat tipis.
Maaf, Tante… gumamku dalam hati. Kami terpaksa melakukan tepat di hari bahagia putri bungsumu.
Aku kembali menatap layar LED. Ebra melakukan hal yang sama. Di sudut lain Adfan dan Kak Tashbiya sesekali ikut melirik ke arah layar, lalu kembali tersenyum kepada tamu di sekitar mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Aku mengangkat kepala. Tatapanku kembali bertemu dengan Kak Barka. Ia menanggapi dengan memejamkan mata pelan.
Aku menarik napas perlahan. "Alexa..." suaraku nyaris berupa bisikan. "...lakukan sekarang."
"Baik." Jawaban itu hanya terdengar di telingaku.
Suara Alexa memenuhi seluruh ballroom membuat para tamu fokus ke depan. "Selamat malam. Mohon perhatian seluruh tamu undangan."
Seluruh lampu panggung berkedip sesaat. Layar LED raksasa yang sejak tadi menampilkan foto-foto masa kecil Marifa, perjalanan pertunangannya, hingga potret keluarga besar Zaman perlahan berubah gelap.
Beberapa tamu mengernyitkan dahi. Operator di sudut ballroom saling berpandangan. Sedetik kemudian, tulisan besar berwarna putih perlahan muncul memenuhi layar.
ZAMAN DOCS — VERIFIED
Ruangan yang semula dipenuhi senyum dan ucapan selamat mendadak berubah hening.Seluruh perhatian kini tertuju pada layar.
Suara Alexa kembali terdengar, tenang dan tegas. "Hadirin yang berbahagia. Mohon perhatian. Acara selanjutnya menuju acara puncak pertunangan. Malam ini akan dibuka seluruh dokumen keluarga Zaman yang selama puluhan tahun disembunyikan oleh seseorang. Seluruh data berikut telah melalui proses verifikasi dan akan ditampilkan di hadapan seluruh tamu undangan.”
Semua kepala serempak menoleh ke arah layar.
Percakapan yang sejak tadi memenuhi ballroom seketika terputus. Sendok dan garpu berhenti bergerak. Para pelayan yang sedang melintas ikut menghentikan langkah. Kilatan kamera fotografer satu per satu menghilang, berganti tatapan penuh tanda tanya. Di antara kerumunan, keluarga Zaman yang semula berdiri berpencar kini membeku di tempat masing-masing.
Seluruh wartawan dari berbagai media tidak ada yang bisa meliput acara ini. Mereka hanya bisa menunggu di luar ballroom.
Aku mengedarkan pandangan.
Dari kejauhan, Tante Walleya masih berdiri di dekat putri-putrinya. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar. Tatapannya terpaku ke layar tanpa berkedip, seolah belum memahami apa yang sedang terjadi.
Folder pertama terbuka. Suara Alexa kembali memenuhi seluruh ballroom, tenang, datar, tanpa sedikit pun emosi.