Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #27

26. Sidang Dua

"Aku bersumpah akan membalas semuanya! Kau dengar itu? Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!" Kak Khimiya terus memberontak dan tidak berhenti mengumpat.

Kak Barka bahkan tidak menghentikan langkahnya. Ekspresinya tetap datar. Seolah ia tidak mendengar suara apa pun di lorong panjang itu. Aku mempercepat langkah menyusul mereka.

"Kalian tidak perlu repot memikirkan balas dendam," ucap Kak Barka tenang tanpa menoleh. "Lebih baik pikirkan bagaimana kalian mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian kepada keluarga Zaman."

"Jangan menggurui aku!" bentak Kak Khimiya sambil kembali meronta. "Kau pikir kau siapa? Tanpa ayahku, tanpa keluargaku, kau bukan apa-apa!"

"Perlu kau ingat Khimiya, tanpa kalian aku masih bisa menjadi Barka. Lagi pula, kalian bukan satu-satunya keturunan Zaman. Jadi berhentilah menganggap diri kalian lebih baik dari siapa pun. Akan lebih baik jika kalian tidak terus berteriak memenuhi lorong ini.”

"Diam kau!"

"Aku tidak akan diam."

Kedua penjaga semakin mengencangkan pegangan mereka karena Kak Khimiya terus berusaha melepaskan diri.

"Saya bukan tahanan!" teriaknya semakin keras. "Lepaskan tangan saya! Ini rumah saya! Kalian hanya bawahan. Berani sekali kalian menyentuh saya!"

Adfan sengaja melewati jalan mereka hanya untuk mengatakan rasa kesalnya. Ia tidak terima selama ini keluarganya diperalat. "Ini perintah dari Tuan Barka, Nyonya Khimiya.” Adfan sengaja mengatakan itu dengan nada penjaga yang sering ia dengar. “Jadi mulai sekarang, tidak ada lagi yang menuruti perintahmu. Semua titahmu sekarang tidak berlaku di rumah.”

"Adfan. Selepas ini, aku pastikan seluruh orang-orang terdekatmu akan menanggung akibatnya! Aku tidak main-main."

Adfan menanggapi umpatan Kak Khimiya dengan sengaja meninggikan suaranya, supaya semua orang di lorong mendengarnya. “Simpan saja rencana burukmu itu dalam mimpi. Mungkin nanti kau akan membutuhkannya.” Hal itu membuat Khimiya semakin memberontak.

“LEPASKAN.”

Lorong utama menuju ruang strategi dipenuhi gema suara Kak Khimiya. Langit-langit yang tinggi membuat setiap teriakan memantul ke seluruh sudut rumah, menambah suasana yang semakin menyesakkan.

Rumah Zaman yang biasanya sunyi dan penuh wibawa malam ini berubah menjadi lautan kemarahan. Di sisi lain, Tante Walleya akhirnya ikut meledak.

"Ini penghinaan!" Tante Walleya tidak mau kalah, memberontak, menunjuk ke arah Kak Barka. "Aku membesarkan keluarga Zaman selama bertahun-tahun! Begini cara kalian membalas keluargamu sendiri?"

"Dasar anak-anak tidak tahu balas budi!"

"Kalian semua sudah dicuci otak oleh perempuan itu!" telunjuknya kini beralih kepadaku. "Zafia! Semua kekacauan ini pasti ulahmu!"

Aku hanya menatapnya sekilas. Tanpa menjawab. Sikapku justru membuatnya semakin murka.

"Jangan diam saja!" bentaknya. "Apa kau puas melihat keluarga ini hancur? Kau pikir setelah ini semuanya akan menjadi milikmu?"

Marifa ikut berteriak. "Dasar perempuan tidak tahu diri! Kau sengaja mempermalukan kami di depan semua orang! Aku bersumpah, kalau aku keluar dari semua ini, orang pertama yang akan kubuat menderita adalah kau!"

Noora pun tidak kalah emosional. "Kalian tidak punya hak memperlakukan kami seperti penjahat!"

"Selama bertahun-tahun kami mengurus keluarga ini!"

"Lalu sekarang kami diperlakukan seperti sampah?"

"Tidak tahu diri kalian semua!" Menantu-menantu keluarga Zaman juga mulai ikut bersuara.

"Ini tidak adil!"

"Kami tidak terlibat apa-apa!"

"Kalian tidak bisa menahan kami seperti ini!"

"Mana pengacara kami?"

"Kami menolak semua tuduhan ini!"

Suara mereka bertumpuk satu sama lain hingga membuat beberapa penjaga harus berulang kali meminta mereka tetap berjalan.

"Cukup! Jalan terus! Tetap di jalur!"

"Tidak ada yang berhenti!" Namun tidak ada satu pun yang benar-benar mendengarkan. Semua terus berteriak. Semua saling menyalahkan. Semua merasa menjadi korban.

Di tengah kekacauan itu, hanya satu orang yang tetap diam. Om Karlam. Ia berjalan pelan di antara rombongan dengan kedua tangan terkepal di belakang punggung. Wajahnya tampak jauh lebih pucat dibanding biasanya. Garis-garis tegas di dahinya semakin dalam, tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tatapannya terus bergerak pelan. Mengamati jumlah penjaga. Menghitung setiap pintu yang dilewati. Memperhatikan letak kamera.

Sesekali ia melirik istrinya, lalu anak-anaknya. Tatapan itu singkat. Namun cukup bagiku untuk memahami. Ia tidak sedang menyerah. Ia sedang berpikir. Sedang menyusun kemungkinan demi kemungkinan agar bisa membebaskan diri bersama istri dan anak-anaknya.

Sayangnya, malam ini bukan malam yang memberinya banyak pilihan. Aku menghampiri mereka tanpa sedikit pun mengubah ekspresi.

"Simpan tenaga kalian," kataku tenang. "Kalian akan jauh lebih membutuhkannya saat sidang keluarga dimulai."

Lihat selengkapnya