Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #28

27. Pemberontakan

"Panggil saksi pertama." Ketua Majelis mengangkat pandangannya ke arah kursi saksi.

Pak Farhan berdiri perlahan sambil membawa beberapa map audit berwarna biru tua. Langkahnya tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan kegugupan. Di belakangnya, seorang staf membantu meletakkan sebuah laptop yang telah terhubung dengan layar utama ruang sidang. Seluruh perangkat telah disiapkan sebelum persidangan dimulai.

Sesampainya di depan meja saksi, beliau menyerahkan satu bundel laporan audit kepada Majelis. Salinan laporan yang sama kemudian dibagikan kepada tim hukum keluarga Zaman, kuasa hukum para terdakwa, serta masing-masing anggota Majelis agar seluruh pihak dapat memeriksa dokumen yang sama secara bersamaan.

Di atas meja juga telah tersedia kartu akses resmi Zaman Docs yang menjadi kunci untuk membuka arsip digital keluarga, lengkap dengan daftar indeks dokumen yang akan ditampilkan selama persidangan.

Setelah memastikan seluruh pihak menerima dokumen masing-masing, Pak Farhan membuka laptopnya. Layar aplikasi Aleze langsung muncul di layar lebar ruang sidang. Seluruh data audit yang sebelumnya telah diverifikasi tersusun rapi berdasarkan kategori perusahaan, aset, rekening, akta, hingga kronologi waktu transaksi.

"Untuk mempermudah pemeriksaan, saya akan menampilkan seluruh bukti melalui aplikasi Aleze. Setiap data yang muncul di layar memiliki dokumen pendukung dalam bentuk fisik yang telah Bapak-Ibu terima, sehingga semuanya dapat dicocokkan secara langsung."

Beliau mengambil sebuah remote presentation, lalu menekan tombol pertama. Halaman pembuka langsung berganti menjadi ringkasan audit.

Di sisi kiri layar terlihat daftar perusahaan keluarga Zaman beserta struktur kepemilikannya. Di sisi kanan muncul garis waktu perpindahan aset yang tersusun berdasarkan tanggal. Sementara setiap kali Pak Farhan membuka satu transaksi, layar otomatis menampilkan dokumen pendukung berupa akta notaris, bukti transfer, laporan keuangan, hingga arsip dari Zaman Docs yang saling berkaitan.

Semua telah dipersiapkan dengan sangat rinci. Tidak hanya dalam bentuk digital, tetapi juga dalam bentuk dokumen cetak yang identik, sehingga setiap orang di ruangan itu dapat mengikuti penjelasan sambil mencocokkannya dengan berkas yang berada di tangan mereka.

"Laporan audit ini kami susun selama kurang lebih tiga bulan," ucapnya tenang. "Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan perusahaan, rekening koran, akta perubahan kepemilikan saham, laporan pajak, notulen rapat direksi, hingga dokumen yang berhasil dipulihkan dari Zaman Docs."

Tidak ada nada menyalahkan dalam penjelasannya. Pak Faran sama sekali tidak menyampaikan pendapat pribadi. Beliau hanya membacakan fakta demi fakta. Tanggal. Nomor transaksi. Nomor akta. Nilai aset. Beserta seluruh bukti yang saling menguatkan.

"Empat belas Februari 2001 terjadi pengalihan aset pertama." Beliau membalik halaman berikutnya. "Enam belas Agustus 2003 dilakukan perubahan kepemilikan PT Sevren ZM. Empat Februari 2004, PT Zarzm berpindah kepemilikan. Setelah Tuan Muria Zaman jatuh sakit, frekuensi transaksi meningkat hampir tiga kali lipat. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, lebih dari enam puluh persen aset keluarga telah berpindah ke kelompok perusahaan yang berada di bawah kendali Walleya Sinan Zaman."

Selama hampir tiga puluh menit penjelasan itu berlangsung tanpa jeda. Semakin banyak data dipaparkan, semakin jelas pula pola yang terbentuk. Hampir setiap perpindahan saham, aset, maupun perusahaan selalu berakhir pada nama atau badan usaha yang masih terhubung dengan Tante Walleya. Beberapa anggota keluarga mulai saling berpandangan. Ada yang menggeleng pelan, ada pula yang hanya menatap layar presentasi tanpa berkedip. Mereka baru menyadari bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai keputusan bisnis keluarga ternyata merupakan rangkaian transaksi yang disusun secara sistematis selama bertahun-tahun.

Setelah Pak Faran kembali ke tempat duduknya, Ketua Majelis memanggil saksi berikutnya. Kak Barka berdiri sambil membawa sebuah tablet, beberapa map tipis, serta laporan forensik digital yang telah disiapkan sebelumnya. Ia meletakkan semuanya di atas meja saksi, lalu mengangguk hormat kepada Majelis.

"Majelis yang saya hormati, saya akan menjelaskan bagaimana Zaman Docs ditemukan, diamankan, hingga akhirnya berhasil dibuka tanpa mengubah isi dokumen sedikit pun." Tatapan seluruh ruangan langsung tertuju padanya.

"Brankas Zaman Docs kami temukan di ruang arsip pribadi milik Walleya Sinan Zaman yang berada di kediaman keluarga Om Karlam sendiri. Saya mengakui, kami membawanya keluar tanpa sepengetahuan beliau. Secara hukum tindakan itu dapat dipersoalkan, bahkan dapat dianggap sebagai pengambilan barang tanpa izin. Namun saat itu kami tidak memiliki pilihan lain. Selama bertahun-tahun dokumen tersebut disembunyikan. Jika kami menempuh prosedur biasa, sebelum kami menyentuhnya, kemungkinan besar seluruh bukti sudah lebih dahulu dipindahkan atau dimusnahkan."

Kak Barka berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Brankas itu tidak langsung kami buka. Kami terlebih dahulu memindahkannya ke lokasi yang aman agar tidak dapat dijangkau siapa pun. Keesokan harinya barulah kami mulai memeriksa sistem pengamannya. Saat itulah kami mengetahui bahwa brankas tersebut tidak menggunakan kunci mekanis biasa, melainkan tiga lapis autentikasi digital yang saling terhubung. Setiap lapisan memiliki mekanisme pengamanan berbeda. Kesalahan sedikit saja berpotensi mengunci sistem secara permanen atau bahkan menghapus seluruh data di dalamnya."

Layar besar di depan ruangan mulai menampilkan rekaman proses pembukaan brankas. Mulai dari saat brankas ditemukan di ruang arsip, proses pemindahan, penyegelan ulang, hingga pemeriksaan awal terhadap sistem keamanannya. Tidak ada satu pun bagian yang dilewati.

“Lapisan pertama berhasil kami buka menggunakan sandi yang diperoleh dari penyetaraan persamaan reaksi kimia. Setelah itu kami menemukan kartu autentikasi Aleze di dalam brankas itu. Namun kartu tersebut bukanlah dokumen yang kami cari. Kartu itu hanya berfungsi sebagai kunci untuk memasuki sistem penyimpanan digital keluarga Zaman."

Ruangan kembali hening.

Ketua Majelis tidak langsung berbicara. Beliau membuka laporan forensik digital yang baru saja diserahkan, kemudian membandingkannya dengan rekaman yang masih terpampang di layar. Beberapa anggota Majelis lain ikut membuka berkas masing-masing, mencocokkan nomor hash, metadata, waktu akses, hingga catatan log yang tercantum pada laporan.

Tidak seorang pun berani menyela. Hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik serta ketukan pelan ujung pena di atas meja. Beberapa menit kemudian, Ketua Majelis menutup berkas itu perlahan.

"Saudara Barka Zadan Zaman."

"Ya, Yang Mulia."

"Majelis ingin memastikan satu hal. Apakah selama proses pembukaan Zaman Docs terdapat tindakan yang mengubah, menghapus, menambah, ataupun memindahkan data dari media penyimpanan aslinya?"

Lihat selengkapnya