"Lanjutkan," ujar Ketua Majelis singkat.
Aku kembali menatap ke depan. "Baru hari ini semuanya menjadi jelas bagi saya. Dokumen Zaman Docs memperlihatkan bahwa banyak hal yang selama ini hanya menjadi potongan-potongan ingatan ternyata benar-benar terjadi. Bahkan pada halaman tujuh puluh tujuh terdapat rekaman keterangan Bu Lazha, mantan pengacara lama keluarga Zaman sekaligus penasihat hukum keluarga, yang menjelaskan motif seluruh rangkaian perbuatan tersebut. Motifnya ternyata bukan semata-mata harta.
Aku berhenti beberapa detik. "Motifnya adalah luka lama. Orang tua Tante Walleya merasa dipermalukan oleh ucapan Kakek Muria puluhan tahun lalu ketika beliau menegur mereka agar tidak memanfaatkan aset perusahaan keluarga. Saya memahami bahwa perkataan itu pasti menyakitkan. Namun rasa sakit tidak pernah dapat dijadikan alasan untuk menghancurkan satu keluarga selama puluhan tahun. Ada buktinya di dokumen Zaman Doc halaman tujuh puluh tujuh.”
"Saya kehilangan masa kecil bersama keluarga saya. Orang tua saya kehilangan kehormatan. Kakek dan Nenek kehilangan kepercayaan kepada anak-anaknya sendiri. Dan keluarga Zaman kehilangan puluhan tahun yang seharusnya bisa mereka jalani sebagai sebuah keluarga."
Aku menundukkan kepala. "Itu saja yang ingin saya sampaikan, Yang Mulia."
Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Tidak ada seorang pun yang segera berbicara. Beberapa anggota keluarga menundukkan kepala. Bahkan Tante Walleya yang sejak tadi terus menyela kini hanya mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang semakin tegang.
Ketua Majelis memandangku beberapa saat sebelum membuka berkas di hadapannya. "Kesaksian saudari Zafia Zenriya telah dicatat dalam berita acara persidangan."
Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara tenang. "Majelis menilai bahwa kesaksian ini bukan berdiri sendiri. Keterangan saksi saling bersesuaian dengan dokumen, hasil audit, laporan forensik digital, rekaman elektronik, serta alat bukti lain yang telah diperiksa di persidangan. Oleh karena itu, kesaksian saudari Zafia memiliki nilai pembuktian yang relevan sebagai bagian dari rangkaian fakta yang sedang diperiksa."
Ketua Majelis kemudian mengalihkan pandangannya kepada meja terdakwa. "Apakah para terdakwa masih akan membantah seluruh rangkaian alat bukti yang telah diajukan, atau saudara-saudara akan menggunakan kesempatan ini untuk memberikan penjelasan sebelum Majelis memasuki tahap musyawarah?”
Beliau menutup map di hadapannya perlahan. Suara gesekan sampul kulit dengan meja kayu terdengar jelas di tengah ruangan yang sunyi.
"Majelis perlu menegaskan satu hal." Tatapannya beralih kepada seluruh anggota keluarga Zaman yang memenuhi ruang persidangan. "Sidang ini tidak dibangun di atas air mata. Tidak pula dibangun di atas kebencian. Persidangan ini dibangun di atas fakta, alat bukti, dan pertanggungjawaban."
Suasana menjadi semakin hening. Bahkan tidak terdengar lagi suara bisikan dari bangku para anggota keluarga. "Kesaksian Saudari Zafia bukanlah dasar utama putusan Majelis. Kesaksian tersebut hanya menjelaskan akibat yang ditimbulkan dari rangkaian perbuatan yang telah lebih dahulu dibuktikan melalui dokumen asli, hasil audit independen, akta autentik, laporan forensik digital, rekaman elektronik, serta keterangan para saksi lainnya."
Beliau membuka kembali beberapa lembar berkas di hadapannya. "Majelis telah memeriksa setiap alat bukti secara terpisah. Selanjutnya, Majelis membandingkan satu alat bukti dengan alat bukti lainnya. Hasilnya, seluruh rangkaian pembuktian saling bersesuaian. Tidak ditemukan pertentangan yang dapat menggugurkan fakta-fakta yang telah terungkap selama persidangan."
Pandangan beliau kemudian berhenti tepat pada Tante Walleya. "Nyonya Walleya Sinan Zaman." Untuk pertama kalinya nama itu diucapkan dengan tekanan yang membuat seluruh ruangan terasa semakin berat.
"Sejak awal persidangan saudari berkali-kali menyatakan bahwa seluruh bukti merupakan hasil rekayasa." Beliau membuka satu berkas lain. "Akan tetapi, setiap bantahan saudari selalu dipatahkan oleh alat bukti lain yang berdiri sendiri."
Beliau mengangkat lembar pertama. "Ketika saudari membantah keaslian wasiat, Majelis diperlihatkan naskah asli yang telah diverifikasi oleh notaris independen."
Lembar berikutnya dibuka. "Ketika saudari membantah pengalihan saham dan aset perusahaan, Majelis menerima akta-akta autentik, perubahan kepemilikan, rekening koran, bukti transfer, serta notulen rapat direksi yang saling menguatkan."
Kemudian beliau menunjuk layar besar di depan ruangan. "Ketika saudari membantah keaslian Zaman Docs, laporan forensik digital membuktikan bahwa seluruh data memiliki integritas yang utuh. Tidak ditemukan perubahan isi, manipulasi metadata, ataupun modifikasi terhadap satu byte data sejak dokumen tersebut diamankan."
Beliau menutup kembali seluruh berkas. "Dalam hukum keluarga maupun hukum pembuktian pada umumnya, bantahan yang tidak disertai alat bukti tidak memiliki kekuatan untuk menggugurkan alat bukti yang sah."
Tante Walleya tampak hendak menyela. "Itu tidak—"
"Silakan diam." Suara Ketua Majelis tetap rendah. Tidak meninggi. Namun wibawanya membuat Walleya membeku di tempat. "Majelis belum memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk berbicara."
Walleya menggigit bibirnya. Jemarinya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Untuk pertama kalinya sejak persidangan dimulai, ia benar-benar kehilangan kata-kata.
Ketua Majelis kembali melanjutkan. "Majelis juga mempertimbangkan motif yang terungkap selama persidangan."
"Perselisihan pribadi, rasa sakit hati, ataupun dendam yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, tidak pernah dapat dijadikan alasan untuk mengambil hak milik orang lain."