Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #30

29. Jiwa Tak Bertuan

EPILOG

Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga Zaman kembali berkumpul di rumah utama kediaman Zaman. Kami tidak lagi berada di ruang persidangan, melainkan di ruang keluarga yang jauh lebih hangat daripada puluhan tahun yang telah kami lalui. Tidak ada lagi sidang. Tidak ada lagi perdebatan. Tidak ada lagi tuduhan. Yang tersisa hanyalah pelaksanaan putusan Majelis. Semalam, kami mendapat kabar baik jika keluarga Tante Walleya dan seluruh orang yang bekerja sama dengannya sudah ditahan. Vonisnya belum diresmikan. 

Di tengah ruangan, beberapa sofa besar mengitari meja besar yang disusun menjadi satu membentuk persegi. Di atasnya telah tersusun puluhan map berwarna hitam yang berisi akta kepemilikan, sertifikat aset, dokumen saham, surat hak waris, serta berbagai dokumen lain yang telah dipulihkan sesuai wasiat asli Kakek Muria Zaman.

Ketua Majelis berdiri di hadapan seluruh keluarga.

"Hari ini seluruh putusan Majelis mulai dilaksanakan. Seluruh hak yang selama ini berpindah karena manipulasi kami kembalikan kepada pemilik yang sah."

Panitera membuka daftar di tangannya. "Pemulihan hak keluarga Thaansa Qiaz." Tante Thaansa berdiri perlahan. Di usianya yang hampir menginjak delapan puluh tahun, langkahnya sudah tidak setegap dahulu. Pendengarannya pun mulai berkurang sehingga anak keduanya segera menghampiri dan menggandeng lengannya hingga ke depan.

"Bagian keluarga Thaansa Qiaz dipulihkan sesuai wasiat asli, termasuk enam puluh persen hak yang selama ini hilang akibat manipulasi." Beliau menerima map itu dengan kedua tangan. Tatapannya lama tertuju pada sampul berwarna hitam tersebut, seolah masih berusaha mencerna bahwa semua ini benar-benar terjadi. Setelah beberapa saat, beliau menganggukkan kepala pelan sebelum kembali ke tempat duduknya. Matanya tampak berkaca-kaca, meski tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Beliau memang sudah sangat renta. Terkadang pembicaraannya melompat ke mana-mana dan sulit diikuti. Ironisnya, hampir setiap kali bertemu, beliau selalu saja bertengkar dengan Tante Rayana. Hal sekecil apa pun bisa berubah menjadi perdebatan. Karena itulah Tante Riya selalu menjadi penengah, sabar menghadapi dua orang tua yang sama-sama semakin rapuh, baik fisik maupun pikirannya. Sebenarnya sejak dulu Tante Thaansa memang memiliki sifat seperti itu. Hanya saja, usia membuat semuanya terasa lebih berat.

Padahal, dibandingkan saudara-saudaranya yang lain, beliau adalah satu-satunya keturunan keluarga Zaman yang dikaruniai tujuh orang anak. Seluruhnya sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Tidak ada anggota keluarga Zaman lain yang memiliki anak sebanyak itu. Kebanyakan hanya memiliki dua atau tiga orang anak. Dulu rumah Tante Thaansa selalu ramai oleh suara anak-anak yang berlarian ke sana kemari. Namun kini keadaan berbalik. Rumah yang dulu penuh kehidupan itu justru sering terasa sunyi.

Anak-anaknya sibuk dengan kehidupan dan keluarga mereka sendiri. Mereka memang sesekali datang atau menghubungi beliau, tetapi tidak sesering dulu. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan seorang diri. Aku rasa kesepian itulah yang perlahan menggerus pikirannya. Terlebih suaminya sudah meninggal sangat lama, mungkin sekitar empat puluh tahun yang lalu. Sejak saat itu, beliau menjalani sebagian besar hidupnya sendirian.

Mungkin itulah sebabnya beliau sering mencari teman berbicara, meski akhirnya berujung adu mulut dengan Tante Rayana. Bukan karena membenci, melainkan karena beliau hanya ingin didengar. Di balik sikap keras kepala dan omelannya yang tiada habis, aku justru melihat seorang ibu yang perlahan kehilangan rumahnya sendiri, bukan karena bangunannya hilang, melainkan karena orang-orang yang dulu menghidupkannya kini telah memiliki rumah mereka masing-masing.

Panitera kembali melanjutkan. "Hak keluarga Natuna Zaria dipulihkan." Tante Natuna berdiri lalu melangkah mengambil map itu. Baru beberapa bulan yang lalu beliau dinyatakan melewati masa kritis penyakitnya, meskipun belum sepenuhnya pulih. Hingga sekarang beliau masih rutin menjalani pemeriksaan ke rumah sakit. Beliau menderita diabetes melitus yang diturunkan dari Kakek Muria. Wajahnya memang terlihat lebih segar dibanding beberapa bulan lalu, tetapi tubuhnya sudah tidak sekuat dahulu.

Suaminya telah meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu. Sejak saat itu, beliau lebih banyak menghabiskan waktu bersama putri bungsunya, Kak Mafa, yang hampir selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Sementara Kak Hakam dan Kak Tashbiya sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing. Kini rumah Tante Natuna jauh lebih tenang dibanding dulu. Beliau menerima map itu dengan senyum tipis sebelum kembali ke tempat duduknya.

"Hak keluarga Thaddas Zaman dipulihkan." Begitu seterusnya. Satu per satu anggota keluarga maju mengambil map yang menjadi hak mereka.

Om Thaddas pun melangkah ke depan. Entah kenapa, melihat beliau sekarang membuatku teringat masa kecilku. Dulu, di mataku, beliau adalah sosok yang sangat berwibawa. Cara bicaranya selalu lantang, penuh keyakinan, seolah apa pun yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran. Banyak orang mempercayainya. Termasuk aku.

Padahal setelah tumbuh dewasa dan melihat semuanya dari dekat, aku baru menyadari, tidak sedikit ucapan beliau yang ternyata jauh berbeda dengan kenyataan hidupnya. Dulu beliau terlihat begitu berpengaruh, seolah memiliki kekuasaan yang sangat besar dan kehidupan yang sangat mewah. Namun perlahan aku mengetahui bahwa kenyataannya tidak sepenuhnya seperti itu. Beliau memang orang yang baik, tetapi juga sangat mudah dipengaruhi dan dimanipulasi oleh orang lain.

Sekarang wibawa itu masih ada, tetapi tidak lagi sebesar yang kuingat saat kecil. Cara bicaranya juga jauh lebih tenang. Tidak lagi setinggi dulu, tidak lagi seolah harus didengar semua orang. Kehidupannya pun terlihat lebih sederhana. Hidup memang sering berjalan di luar apa yang kita bayangkan. Kadang bukan keadaan yang berubah, melainkan cara seseorang memandang hidup setelah berkali-kali dijatuhkan oleh waktu. Dan mungkin, itulah yang sedang terjadi pada Om Thaddas.

"Hak Rayana Dasa Zaman dipulihkan menjadi sepuluh persen sesuai isi wasiat asli, termasuk pengembalian tujuh persen yang sebelumnya dialihkan secara tidak sah."

Untuk pertama kalinya, aku melihat Tante Rayana tersenyum tipis. Senyum itu tidak lebar. Hanya sebentar. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ada beban yang akhirnya terangkat dari pundaknya. Wajahnya yang selama ini selalu terlihat gelisah kini tampak sedikit lebih tenang. Akan tetapi, entah kenapa aku tidak yakin beliau benar-benar akan menikmati apa yang kini kembali menjadi haknya.

Bertahun-tahun setelah pembagian warisan pertama dibacakan, selalu saja ada orang yang datang meminjam uang dengan jumlah yang tidak sedikit atau meminta bantuan darinya. Katanya hanya sementara. Katanya nanti akan dikembalikan. Namun kenyataannya, banyak yang tidak pernah menepati ucapan mereka. Bukan hanya dari keluarga kami sendiri, tetapi juga orang-orang di luar keluarga. Tante Rayana terlalu naif. Beliau selalu menganggap semua orang memiliki niat baik seperti dirinya. Beliau tidak pernah pandai membatasi diri ketika menolong orang lain. Selama masih mampu membantu, beliau akan membantu tanpa banyak berpikir. Dan justru karena itulah, tidak sedikit orang yang memanfaatkan kebaikannya.

Ironis sekali hidupnya. Namun, apa yang bisa kulakukan selain diam menyaksikan semuanya? Sejak aku dan keluargaku meninggalkan lingkaran keluarga Zaman, kami sudah sangat jarang bertemu dengannya. Paling hanya satu atau dua kali dalam setahun, biasanya saat Idulfitri atau acara keluarga yang benar-benar penting. Bahkan dalam acara keluarga pun, Tante Rayana sering memilih tidak bergabung bersama anggota keluarga Zaman yang lain. Beliau lebih banyak menyendiri atau duduk di tempat yang terpisah. Entah karena memang tidak ingin ikut, atau karena sudah terlalu sering merasa disisihkan hingga akhirnya terbiasa. Aku sendiri tidak pernah benar-benar tahu jawabannya.

Selarang Tante Rayana tinggal di rumah yang sama dengan Tante Riya, ibunya Adfan. Seiring bertambahnya usia, pikirannya pun semakin sulit ditebak. Terkadang beliau berbicara ke mana-mana. Terkadang tanpa sadar menceritakan hal-hal yang selama puluhan tahun dipendamnya. Luka, kekecewaan, pertengkaran, hingga rahasia-rahasia lama keluarga Zaman keluar begitu saja di hadapan siapa pun yang mendengarkan.

Sebagian orang menganggap beliau hanya bergosip. Namun bagiku, itu bukan sekadar gosip. Itu adalah sisa-sisa trauma yang selama ini tidak pernah menemukan tempat untuk disembuhkan. Bertahun-tahun beliau memendam semuanya sendirian. Kini, ketika usia membuat pikirannya tak lagi sekuat dulu, semua kenangan itu keluar begitu saja tanpa mampu lagi beliau saring.

"Selanjutnya, hak keluarga Lasha Nayana Zaman dipulihkan menjadi sepuluh persen sesuai wasiat asli, termasuk pengembalian enam persen hak yang selama ini hilang."

Mama perlahan berdiri. Aku memperhatikannya berjalan menuju meja Majelis dengan langkah yang tenang. Ketika map itu berpindah ke tangannya, Mama hanya mengusap pelan sampul berwarna hitam itu. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya. 

Bukan karena besarnya nilai seluruh aset yang kembali kepadanya. Melainkan karena setelah bertahun-tahun, nama baik, kehormatan, dan haknya akhirnya dipulihkan. Selama ini Mama hidup membawa tuduhan yang bukan miliknya. Tatapan sinis, bisik-bisik, dan penilaian orang lain pernah menjadi bagian dari kesehariannya. Hari ini, semua itu seolah dibersihkan di hadapan seluruh keluarga. Mama menghela napas panjang, lalu kembali ke tempat duduknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Lihat selengkapnya