Keesokan paginya aku duduk termenung di teras depan rumah, ditemani segelas teh hangat yang uapnya mulai menghilang. Embun masih menempel di rumput, dan halaman kecil di depan rumah tampak lebih hijau dari biasanya, atau mungkin hanya mataku yang sedang mencari ketenangan.
"Vin kenapa bengong?"... Ucap Adit yang memecah keheninganku, disusul Tio yang menenteng sebungkus roti isi dan air mineral dari warung. Aku sedikit terlonjak, lalu tertawa kecil.
"Wah, kalian ini... Bisanya datang tanpa kabar".