Jiwa Yang Hilang

Ira Rahmawaty
Chapter #1

Sebelum Fajar

Arunika tidak pernah memilih namanya sendiri, tentu saja. Tentu tidak ada yang bisa memilih nama mereka sendiri. Tapi kalau boleh, mungkin ia akan memilih nama yang lebih sederhana. Nama yang tidak membawa ekspektasi apa pun. Nama yang sederhana, dan mudah diingat. Nama yang bisa ia bawa serta dengan ringan, tanpa harus memikirkan artinya setiap kali seseorang memanggilnya.


Arunika. Cahaya fajar. Sinar pertama yang muncul di cakrawala sebelum matahari benar-benar terbit.


Orang-orang mengatakan bahwa namanya sangat indah untuk seorang anak perempuan. Itu adalah nama yang diberikan ayahnya. Ayahnya pernah mengatakan kepadanya, bahwa nama itu adalah nama yang menggambarkan arti kehadirannya bagi ayahnya ketika itu. Nama yang membawa harapan, bukan hanya bagi ayahnya, bukan juga bagi keluarganya, melainkan lebih untuk dirinya sendiri. Agar kelak ia tumbuh menjadi sosok yang cantik seperti cahaya yang muncul di cakrawala sebelum matahari benar-benar terbit, cahaya yang dinantikan yang menjanjikan hari yang cerah dan penuh warna.


Sebaliknya, ibunya tidak pernah banyak berkomentar mengenai pemilihan nama itu, tidak pernah menjelaskan apa pun, karena ia seperti tidak ikut berperan dalam menentukan. Ia juga tidak pernah menjelaskan mengapa yang terjadi seperti itu. Dan Arunika tidak pernah bertanya. Setidaknya tidak untuk waktu yang cukup lama.


Ada banyak hal yang tidak pernah ia tanyakan kepada ibunya. Bukan karena ia tidak pernah memiliki pertanyaan untuk diajukan kepada ibunya, melainkan relasi antara dirinya dengan ibunya tidak sedekat itu. Tidak seperti relasi yang biasa ia temukan antara seorang ibu dan anak. Seperti ada jarak di antara keduanya yang sulit untuk dipersempit, yang menciptakan sebuah tembok yang tak terlihat, ada batasan-batasan tak tertulis yang tidak dinyatakan secara gamblang, namun hadir.


* * *


Rumah keluarga Arunika berdiri di ujung gang sempit yang selalu berbau masakan tetangga di sore hari. Rumah itu tidak besar, namun bukan juga yang paling kecil di lingkungan itu. Cukup, adalah kata yang paling sering Arunika pakai untuk mendeskripsikan hidupnya sebelum kemudian banyak yang berubah. Cukup untuk berteduh. Cukup untuk makan. Cukup untuk tidak mengeluh. Cukup untuk disyukuri.


Ayahnya dulu punya perusahaan kontraktor kecil. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat mereka hidup dengan sedikit lebih dari sekadar cukup. Perusahaan itu hanya beranggotakan beberapa orang teman ayahnya yang berasal dari bidang yang sama, dengan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti renovasi rumah, gedung pertokoan, atau ikut serta menangani pembangunan sejumlah unit di proyek perumahan yang besar.


Arunika masih ingat masa-masa itu, meski samar, memudar, tenggelam di dalam tumpukan berbagai kisah yang bergulir di kehidupannya. Ketika ayahnya pulang dengan baju yang berdebu dan senyum yang ia kenal dengan sangat baik. Senyuman yang juga terpancar di sepasang mata kecokelatan yang teduh. Ibunya selalu memasak lebih dari cukup untuk mereka berempat, yang kemudian akan bersisa. Sisanya yang masih layak dikonsumsi biasanya dibungkus di dalam kantung plastik dan digantung di pagar keesokan harinya. Biasanya ada saja yang akan mengambilnya. Kakak lelakinya, yang usianya dua tahun lebih tua, yang selalu menjadi yang pertama dalam segala hal, berlarian di halaman kecil mereka tanpa beban apa pun, bermain dengan mainan terbaru.


Sementara itu, Arunika duduk di teras, membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan sekolah, dan merasa bahwa inilah yang dinamakan bahagia. Ketika semua terasa cukup.


Ia tidak tahu bahwa kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama.


* * *


Arunika baru menginjak bangku SMP ketika perusahaan ayahnya mengalami kebangkrutan.


Ia tidak tahu persis kapan semuanya mulai runtuh atau apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Karena perubahannya tidak terjadi dalam waktu yang singkat, seperti itu tidak terjadi dalam satu malam. Yang ia tahu hanya bahwa suatu hari ayahnya pulang lebih awal dari biasanya, ia duduk di sofa panjang yang menghadap pintu kamarnya, menghela napas panjang, sebelum kemudian terdiam dengan tatapan yang begitu jauh. Tidak ada kata yang terucap, ia hanya duduk dalam hening untuk waktu yang cukup lama.


Ibunya tidak memasak lebih banyak lagi setelah itu. Ia bahkan memasak jauh lebih sederhana. Makanan yang dimasak jarang bersisa; jika pun bersisa, akan kembali dihangatkan untuk disajikan kembali esok harinya. Namun, semua itu tetap cukup bagi Arunika.


Kakaknya, Arga tetap berlarian, tentu saja. Dunia kakaknya tidak banyak berubah, karena seperti yang selalu diingatkan ibunya berulang kali, ia anak laki-laki, ia yang akan menanggung nama keluarga, ia yang akan menjadi tulang punggung kelak, maka ia yang harus disekolahkan dengan baik, ia yang harus diberi yang terbaik. Dan Arunika, harus menerima kenyataan bahwa ia harus mengalah, bersyukur dengan apa yang mampu diberikan setelah kakaknya mendapatkan cukup.


Dan Arunika tidak menghitung. Ia sudah terbiasa berhenti menghitung. Ia tidak menghitung berapa banyak bagian yang ia dapatkan dibandingkan dengan kakaknya, dan tidak meminta lebih. Ia sudah terbiasa mendapatkan lebih sedikit, bagian yang lebih kecil. Ia sudah terbiasa membuat apa pun yang ia dapatkan menjadi cukup baginya. Hal itu seperti sebuah sistem pertahanan diri yang terbangun tanpa ia sadari. Untuk tidak berharap lebih, untuk menjadikan apa pun dan sebanyak apa pun yang diterimanya cukup.


Ia tidak perlu mempertanyakan mengapa relasi antara ibunya dengan dirinya sangat berbeda dengan relasi ibunya dengan kakak lelakinya, mengapa ibunya selalu mendahulukan kepentingan dan kebutuhan kakaknya itu, karena hal itu digaungkan dan diingatkan kepadanya secara terus-menerus sepanjang hidupnya. Dan ia cukup paham, bahwa ada hal yang tidak akan berubah. Maka ia tidak pernah berusaha untuk mengubahnya. Ia hanya mengubah dirinya, bagaimana ia menyikapi situasi itu, demi menjaga hatinya sendiri.


Ayahnya bukan tidak pernah membelanya. Bahkan, ayahnyalah yang selalu berada di garis depan untuk Arunika. Yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya. Ayahnya selalu menjadi support system untuk semua impian dan harapan yang pada akhirnya tetap berada di ruang tersembunyi di sudut memorinya yang ia kunci rapat-rapat untuk dilupakan. Yang selalu mengingatkan bahwa ia boleh memiliki impian dan harapan untuk memacunya, bahwa ia diperbolehkan untuk memilih langkahnya, dan bahwa ia akan selalu hadir menyertai setiap langkah itu.


Namun, Arunika tidak ingin menjadi penyebab konflik, sekecil apa pun itu. Ia tidak ingin impiannya yang besar menjadi penyebab pertengkaran orang tuanya kemudian. Maka ia membiasakan dirinya untuk bergerak seperti air yang mengalir, mengikuti arus. Demi kebaikan bersama, demi kedamaian di dalam kediaman mereka.

* * *


Ketika SMA hampir selesai dan teman-temannya mulai berbicara tentang universitas mana yang akan mereka tuju, Arunika mulai ikut bersama beberapa temannya mengunjungi beberapa pameran pendidikan di kota itu sepulang sekolah. Di pameran itu, ia mengamati, mengumpulkan semua informasi mengenai berbagai universitas dan sekolah kejuruan setingkat diploma. Karena ia tahu, ibunya sudah mengeluarkan cukup banyak biaya untuk Arga yang memilih untuk melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah teknik informatika yang cukup prestisius di kota itu, setelah ia gagal dalam ujian masuk ke universitas pilihannya.


Setibanya di rumah, di meja belajar kecil sederhana di sudut kamarnya, ia membuka kembali semua brosur yang ia kumpulkan dari pameran itu, lalu mencatat berbagai informasi. Arunika memilih dan memilah, lalu mengelompokkan brosur-brosur itu berdasarkan biaya yang diperlukan. Kelompok brosur itu menjadi semakin mengerucut hingga ia memisahkan satu dari tumpukan itu. Sebuah brosur akademi pariwisata yang pernah ia lihat minggu lalu. Biayanya hanya setengah dari sekolah kejuruan serupa. Sekolah itu juga memiliki program beasiswa untuk yang berprestasi. Bagi Arunika, ini adalah sebuah kesempatan.


Realistis. Itu kata yang paling sering ia pakai untuk dirinya sendiri. Ketika itu, sektor pariwisata sedang berkembang pesat. Tentu akan terdapat kesempatan kerja yang mengiringi, dan itu menjadi salah satu pertimbangannya. Di dalam pikirannya, Arunika berpikir bahwa dengan memilih bidang itu, kesempatannya untuk mendapatkan pekerjaan segera setelah ia lulus menjadi lebih besar. Ia hanya harus mengondisikan segala sesuatunya, agar kesempatannya menjadi lebih besar.


Lihat selengkapnya