Panggilan itu datang lebih cepat dari yang Arunika perkirakan.
Kurang dari seminggu setelah ia mengirimkan tumpukan amplop itu ke kantor pos, telepon rumahnya berbunyi. Adalah ibunya yang menyampaikan kepadanya bahwa ada yang meneleponnya, dari sebuah wisma.
Arunika tidak ingat bergerak dari pintu ke telepon. Yang ia ingat hanya suara perempuan di ujung sana, ramah, profesional, memintanya datang untuk wawancara hari Rabu depan.
Ia mengucapkan terima kasih kepada perempuan di seberang telepon tiga kali sebelum menutup telepon. Ia lalu menuliskan tanggal, waktu, dan alamat yang dijadwalkan dan menempelkannya di meja belajarnya dengan hati-hati. Membacanya berulang kali, merasa sangat senang, namun menahan diri untuk menaruh harapan terlalu tinggi. Malam itu ia memilih salah satu kemejanya yang terbaik untuk nanti dipakainya pada saat wawancara dan menyetrika kemejanya sampai tidak ada satu pun kerutan yang tersisa.
* * *
Wisma Cendana Argapura terletak di dataran yang lebih tinggi, agak menjauh dari keramaian kota. Lebih tenang. Lebih teduh.
Wisma itu terhubung erat dengan sebuah nama keluarga yang cukup dikenal, yang memiliki berbagai bisnis baik di dalam maupun di luar kota yang pada umumnya berupa restoran atau penginapan sekelas wisma yang ada di kota itu. Tidak sebesar hotel, namun cukup besar untuk menampung sekitar 150-200 orang, biasanya memiliki area yang luas yang biasa digunakan untuk beragam perayaan pribadi, seperti ulang tahun hingga pernikahan. Arsitektur yang dipilih selalu senada, dengan sentuhan Victorian yang memberikan kesan elegan dan majestik tanpa berlebihan. Beberapa bisnis restoran yang tersebar di dalam dan di luar kota menyajikan aneka masakan lokal, juga internasional, namun klasik. Seperti mereka ingin mempertahankan nilai-nilai yang sudah hadir sejak masa yang lampau, namun berkesan abadi.
Arunika harus dua kali berganti kendaraan umum untuk bisa sampai di alamat itu. Bahkan setelah turun dari kendaraan umum, ia masih harus berjalan cukup jauh. Namun, ia menikmatinya. Ia menikmati suasananya yang tenang, dengan udara yang lebih sejuk. Arunika berjalan, dan berjalan, hingga ia kemudian berhenti.
Di depannya berdiri sebuah gerbang besi berwarna hitam dengan ornamen yang rumit di bagian atasnya, seperti bunga-bunga dan daun-daunan yang diukir dari besi, indah, tapi entah kenapa terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar dekorasi. Di balik gerbang itu, jalan yang diaspal rapi membelah hamparan rumput hijau yang terawat, diapit deretan pohon pinus di kanan dan kiri, menuju bangunan yang berdiri jauh di dalam, megah, tinggi, dengan jendela-jendela besar berbingkai kayu gelap dan atap yang menjulang yang disangga oleh beberapa pilar bergaya Victoria yang menambah kesan elegan dan mewah.
Elegan. Tapi elegan dengan cara yang membuat Arunika menahan napas. Yang membuatnya tertegun untuk beberapa lama. Elegan dengan nuansa yang sedikit sulit ia tuangkan ke dalam kata-kata. Seperti sesuatu yang menghipnotis.
Ia berdiri di depan gerbang itu lebih lama dari yang ia rencanakan. Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan yang menyelimutinya tanpa diundang, dan tidak bisa ia kendalikan, bukan suara, bukan penglihatan. Hanya perasaan. Seperti tekanan halus di dadanya. Sebuah tarikan dan getaran yang tidak tahu dari mana asalnya.
Dan sesuatu, entah dari mana, ia tidak tahu, seperti berbisik di telinganya. Terbawa desir angin lembut yang terasa sedikit dingin.
Pulanglah. Ini bukan tempatmu.
Arunika mengerutkan dahi. Lalu otaknya yang terlatih segera bekerja. Mungkin ia hanya merasa gugup. Karena ini kesempatan yang datang setelah sekian lama ia berada dalam penantian. Itu saja. Mungkin ia sudah terlalu terbiasa, dibiasakan untuk mengecilkan dirinya, meredupkan dirinya, untuk tidak mengharapkan sesuatu yang besar baginya, sehingga alam bawah sadarnya seperti memberitahunya bahwa tempat itu terlalu jauh di atas jangkauannya. Terlalu mewah, terlalu megah baginya yang hanya seorang anak perempuan yang hanya akan berakhir di dapur dan mengurus rumah tangga kelak. Namun kemudian pikiran logisnya mengambil alih.
Kalau mereka merasa aku tidak pantas bekerja disini, tidak apa, biarlah ini menjadi pengalaman. Dan kalau aku diterima tapi lalu tidak cocok dengan pekerjaannya, aku bisa pergi dan mencari peluang lain, pikirnya. Bukankah ayah sudah bilang aku boleh memilih?