Pemberitahuan penerimaan Arunika di Wisma Cendana Argapura datang melalui telepon, disampaikan oleh perempuan yang sama yang mengabarkannya mengenai wawancara pertama kali, dengan nada suara yang sudah terlatih.
Ia menutup telepon dan duduk diam di tepi ranjangnya selama beberapa menit. Ia tidak melonjak kegirangan, tidak mengeluarkan luapan kebahagiaan yang berlebihan, ia bahkan tidak menunjukkan emosi apa pun. Meski sebagian dari dirinya menyadari bahwa ini bisa jadi sebuah kesempatan baginya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik, untuk bisa membawa serta keluarganya ke sebuah kehidupan yang lebih baik, jika ia cukup berusaha. Sebuah awal perjalanan yang mungkin bisa membawanya ke dalam kisah kehidupan yang sempat diam-diam ia harapkan.
Namun, ia tidak memiliki cukup keberanian untuk mengharapkan apa pun. Tidak sebelum segala sesuatunya bisa dipastikan. Dan ada sesuatu yang semestinya hadir, entah mengapa, mengisi ruang di rongga dadanya. Arunika tidak bisa menjelaskan atau menerjemahkan kehadiran itu. Namun, sesuatu itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Wisma Cendana Argapura menawarkan banyak hal, selain pendapatan yang cukup tinggi untuk posisi yang diberikan kepadanya, namun juga beberapa fasilitas yang mungkin tampak seperti fasilitas yang biasa diberikan perusahaan besar pada umumnya, seperti asuransi kesehatan, upah lembur yang tinggi, serta bonus berkala. Akan tetapi, ada sensasi yang seakan menyelimutinya dengan hawa dingin yang untuk beberapa saat membuatnya nyaris menggigil, desiran angin yang membawa bisikan yang hanya terdengar olehnya. Membisikkan sebuah kalimat yang segera hilang dari ingatannya, yang kelak akan ia dengar kembali di malam-malam hening.
Keraguan yang aneh kembali menghampirinya. Seperti ada sesuatu yang semestinya ia hindari. Akan tetapi, otak logisnya kembali mengingatkannya kepada kenyataan. Menariknya, kembali kepada realita yang dihadapinya, kepada kebutuhannya, kebutuhan orang tuanya, raut lelah di wajah ibu dan ayahnya yang usianya semakin bertambah, sementara Arga sibuk dengan dunianya, dengan pergaulannya. Arunika menarik napas panjang, menenangkan kembali gemuruh di rongga dadanya, meyakinkan dirinya bahwa ini adalah satu-satunya pilihan terbaiknya. Setidaknya untuk saat ini. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar ayahnya.
Ayahnya sedang duduk di kursi dekat jendela, memandang halaman kecil yang rumputnya mulai jarang. Ia menoleh ketika Arunika masuk dan memberikan sebuah senyuman kecil yang hangat. Ia sudah dapat menangkap percakapan singkat yang baru terjadi di telepon yang sayup-sayup terdengar, dari jawaban sopan yang diberikan putrinya itu.
Dapat kerja? tanyanya.
Arunika mengangguk. Ayahnya hanya mengangguk balik, lambat, dan dalam, dan menepuk kursi di sebelahnya.
Mereka duduk berdua sampai senja menghilang, digantikan oleh malam. Tidak banyak bicara. Tidak perlu. Arunika menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya yang lebar, dan ayahnya melingkarkan lengannya di tubuh kecilnya, mengusap lengannya lembut, seakan mengatakan, bahwa ia akan baik-baik saja. Bahwa doanya akan selalu menyertainya, seperti biasanya. Dan bagi Arunika, itu lebih dari cukup. Sebuah kehadiran yang penuh dan tulus.
* * *
Ketika ia melangkahkan kakinya memasuki gerbang besi besar itu untuk pertama kalinya, kali ini sebagai bagian dari Wisma Cendana Argapura pagi itu, Arunika merasakan sebuah sensasi yang tidak dapat ia terjemahkan. Seolah sesuatu yang terasa dingin dan memeluknya dengan selimut kabut tipis yang tidak terlihat, dingin itu tidak biasa, dingin itu masuk ke dalam dirinya dan menjalar di seluruh tubuhnya untuk beberapa saat sebelum kemudian memudar. Namun, kalimat itu terdengar lagi, kalimat yang tidak disadarinya sempat hilang dari ingatannya, yang kelak akan terus datang dan pergi tanpa pernah sempat menempati ruang ingatannya terlalu lama untuk ia menyadarinya. Berbisik melalui desir angin lembut yang dingin, yang selalu dianggapnya biasa, mengingat bagaimana wisma itu memang berada di dataran yang cukup tinggi di mana udaranya cenderung sejuk menuju dingin.
At shayakhah lanu akhshav.
Yang merupakan kalimat dalam bahasa Ibrani, yang artinya, kamu adalah milik kami sekarang.
* * *
Di Wisma Cendana Argapura, Arunika ditempatkan di restoran utama sebagai seorang pramusaji. Restoran yang menawarkan aneka makanan dengan variasi cukup banyak, mulai dari jenis makanan lokal hingga internasional, itu lumayan sibuk, terutama di jam-jam makan siang dan makan malam, jam makan pagi hanya akan sibuk jika banyak tamu yang menginap. Biasanya, jika malam sebelumnya ada yang mengadakan perayaan yang cukup besar. Seperti pegawai lain di posisi yang sama, Arunika diberikan jam kerja yang panjang, dan kaki yang harus terus bergerak.
Yang pertama ia perhatikan dari lingkungan tempatnya adalah usia. Sebagian besar karyawan yang bekerja sudah tidak muda lagi. Dan kebanyakan dari mereka, meski sudah bekerja bertahun-tahun, jabatannya masih di level bawah. Hal itu menimbulkan pertanyaan di benaknya yang tidak ia ungkapkan. Hanya sesuatu yang dipikirkannya secara pribadi.
Bersamaan dengan Arunika, ada seorang perempuan muda lainnya yang mulai bekerja pada hari yang sama di restoran itu, di posisi yang sama.
Retno tiga tahun lebih muda darinya. Kulitnya putih bersih, dengan tubuh sedikit berisi, dan sepasang mata besar. Ia sebelumnya sempat menjalani program magang di wisma itu, lalu diberikan penawaran untuk bekerja setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Kejuruan Pariwisata yang tentunya disambutnya dengan sukacita. Maka tidak heran jika ia langsung tampak akrab dengan para senior. Karena mereka memang sudah saling mengenal. Adalah Retno yang memberikan arahan kepada Arunika mengenai beberapa hal, ia juga yang menunjukkan beberapa tempat yang perlu diketahuinya, seperti letak kantor eksekutif, loker karyawan, dan area kantin pegawai.
Namun, kebersamaannya dengan Retno berlangsung singkat. Hanya beberapa minggu saja, sebelum Retno ditawari untuk menempati posisi di divisi lain. Lebih tepatnya, sebagai salah satu pegawai di bagian klub eksekutif yang khusus menjamu tamu VIP. Arunika hanya berpikir, bahwa tentu pihak wisma sudah memiliki catatan baik mengenai Retno selama ia menjalani magang, maka ia diberikan posisi itu. Dan sejujurnya, ia ikut merasa senang.
Selama beberapa minggu mereka bekerja bersama, Arunika mengamati bagaimana Retno memang cukup cekatan dalam melakukan berbagai pekerjaan yang diberikan kepadanya, ia juga memiliki senyum yang manis. Retno juga sepertinya pandai bergaul karena orang-orang selalu menyapanya dengan ramah ke mana pun ia pergi. Arunika menjadikan itu sebagai motivasi bagi dirinya sendiri. Untuk bekerja dengan lebih baik, agar ia juga bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik.
Arunika membelikan ayahnya celana panjang gunung dengan banyak saku yang sangat disukainya dengan gaji pertamanya. Untuk ibunya, ia membelikan sebuah sweater wol berwarna merah muda yang manis, yang diterima dengan sebuah anggukan kecil. Untuk Arga, sepasang sepatu yang pada akhirnya hanya dikenakannya sekali karena menurutnya kurang trendi dan bukan dari merek yang mahal. Tapi Arunika tidak pernah mempermasalahkan itu. Yang terpenting baginya adalah ia dapat melihat wajah ayahnya yang sumringah, matanya berkaca-kaca, memeluknya dengan hangat.
“Nika, kenapa belikan macam-macam, Kamu juga banyak kebutuhan, dan sisanya kan bisa kamu tabung”.
* * *
Suatu hari, salah seorang senior menghampirinya, ia berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya yang sedang memoles peralatan makan.