Permukaan air yang tenang tidak selalu menjanjikan kedamaian.
Raka tidak selalu seperti sekarang. Misterius, menyelami hal-hal yang berbau mistis. Hal-hal yang tidak biasa dan mungkin bagi sebagian orang masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu.
Dahulu, ia tumbuh sebagai anak lelaki sederhana. Tinggal di sebuah rumah sederhana berbahan bilik, di sebuah desa di pelosok Jawa Barat. Kehidupan keluarganya jauh dari kata cukup. Mereka hidup dari apa yang bisa mereka panen. Ayahnya bekerja menggarap ladang orang lain, demikian juga dengan ibunya. Akan tetapi, keduanya merupakan orang-orang jujur yang bersyukur dengan apapun yang mereka boleh terima.
Memasuki usia sekolah, Raka mengamati teman-teman seusianya, Ia menyadari perbedaan antara dirinya dengan mereka dengan segera. Dari pakaian seragamnya yang merupakan pakaian bekas anak tetangga yang berbaik hati, sepatunya yang juga pemberian, bekas dan lusuh. Hingga perlengkapan sekolahnya yang amat sederhana.
Ketika itulah benih itu tumbuh, rasa iri, rasa ingin memiliki lebih. Namun,ia tidak sampai hati menambah beban kedua orang tuanya. Mereka sudah berusaha begitu keras membiayai sekolahnya. Maka ia menahan diri dan berusaha untuk mensyukuri apa yang boleh ia dapatkan.
Usianya memasuki masa remaja ketika rasa itu mulai memengaruhinya. Ketika itu ada gadis yang disukainya. Gadis itu berkulit sawo matang, memiliki senyum yang manis, ia juga juara kelas. Ia selalu ramah pada siapa pun. Maka, Raka berpikir, ia setidaknya ingin berteman dengannya.
Meski selalu mengenakan pakaian seragam bekas, pemberian tetangganya yang berbaik hati, ibunya selalu memastikannya bersih dan licin. Tetapi, tentu itu tidak menghilangkan jejak usia pakaian itu yang masih terlihat jelas. Dengan warnanya yang sudah sedikit memudar.
Nia, gadis itu, masih memberikan senyuman yang manis, senyuman yang menjadi ciri khasnya ketika Raka mendekatinya,
“Maaf, Nia…aku…boleh aku minta tolong?” ujar Raka ragu.
“Ada apa?” Nia menoleh.
“Anu, bagian ini” Raka menunjuk sebuah rumus yang tertera di buku pelajaran matematikanya. “Aku, kurang ngerti…hehe…boleh bantu jelaskan?” ia menggaruk sisi kepalanya dengan kikuk, menahan gugup.
Nia melirik buku itu dan mengangguk. “Sini” ia menepuk bangku kosong di sebelahnya. Raka duduk dengan perasaan berdebar. Nia mengajarinya dengan sabar.
Itu menjadi awal dari pertemanan mereka. Seiring berjalannya waktu, Raka berpikir bahwa Nia sudah mulai menerima kehadirannya. Maka, ia mencoba peruntungannya. Ia mengajak Nia pergi ke pasar malam pada suatu akhir pekan. Diluar dugaan, Nia menyambutnya.
Raka mengenakan pakaian terbaiknya sore itu, ia menjemput Nia ke rumahnya. Nia menyambutnya di teras dengan senyumannya yang biasa. Hari itu ia tampak cantik sekali, mengenakan kemeja bermotif bunga dan celana jeans yang warnanya sudah pudar, dan sepasang sepatu kain.
Lalu, sosok ayahnya muncul di depan pintu. Ia mengajak Raka duduk sebentar. Raka tidak memikirkan apa pun ketika itu, ia bersikap sopan dan menyapa dengan ramah dan hormat, sebagaimana selalu diajarkan orang tuanya. Akan tetapi,percakapan yang semula sederhana berubah, setelah ayah Nia yang merupakan pegawai di Balai Desa mengetahui bahwa kedua orang tuanya hanya buruh tani.
Lelaki yang semula memberikan senyuman ramah, raut wajahnya berubah. Hari itu menjadi pertama kalinya Raka bisa menghabiskan waktu bersama Nia, sekaligus yang terakhir kalinya.