Jiwa Yang Hilang

Ira Rahmawaty
Chapter #5

Ia Yang Pergi Tanpa Pamit

Ada hal-hal yang tidak bisa disiapkan, tidak peduli seberapa keras seseorang mencoba.

Dan kepergian ayahnya yang tiba-tiba adalah salah satunya.

* * *

Setahun setelah Arunika mulai bekerja di wisma, ayahnya jatuh sakit. Serangan jantung yang ke sekian kali yang datang di suatu pagi biasa. Arunika berpamitan kepada atasannya dan berlari. Tidak ada hal lain yang ia pikirkan. Karena ada sesuatu di dalam dadanya pagi itu, sebuah perasaan yang tidak biasa. Sebuah kekhawatiran, atau lebih tepatnya sebuah rasa ketakutan yang tidak biasanya hadir. Ada yang salah, ada sesuatu yang terjadi, pikirnya, sementara ia mengarahkan langkahnya dengan cepat, sementara sekian skenario cerita mengusik pikirannya, sekian kemungkinan yang tidak pernah berakhir baik, yang lahir dari sebuah rasa khawatir.

* * *

Ayahnya sempat selamat dari serangan pertama. Tapi tubuh yang sudah lama dipakai tidak pernah kembali seperti semula.

Di malam-malam ketika suara ayahnya yang menahan sakit menembus dinding tipis rumah mereka, Arunika akan bangkit dan menghampirinya.

“Ayah,” bisiknya suatu malam, pelan tapi cukup keras untuk mereka berdua. “Apa yang ayah takutkan?”

“Ayah takut … napas ayah berhenti.” Tangannya menepuk-nepuk dadanya yang dulu bidang, yang kini berkurang massanya.

Arunika terdiam sejenak, ia yang sudah terbiasa mengolah emosinya berusaha sekuat tenaga menjaga ketenangannya, dan entah kekuatan itu datang dari mana, ia bisa tetap tenang. Digenggamnya tangan ayahnya yang hangat.

“Apa lagi?” Ketenangan suaranya mengejutkan dirinya sendiri.

“Ibumu….. Kakakmu….” Kalimatnya terputus-putus, disela napas yang menahan rasa sakit.

Ia tidak menyebut nama Arunika. Dan Arunika memahami bahwa ini bukan karena ia tidak dipedulikan. Ini karena ayahnya percaya kepadanya dengan cara yang berbeda.

“Aku di sini, Ayah. Aku akan menjaga Mama. Jaga Kakak. Seperti Ayah.”

“Biar Tuhan yang tentukan. Yang terbaik untuk ayah. Kita serahkan semuanya kepada Tuhan, ya, ayah.”

Arunika tidak pernah memahami sepenuhnya, mengapa ia mengatakan kalimat itu. Ada masa ketika ia menyesalinya. Masa ketika kerinduan kepada ayahnya begitu besar. Ketika ia membutuhkan kehadirannya kembali.

* * *

Beberapa hari setelah malam itu, ayahnya tampak membaik. Lebih cerah. Lebih berwarna.

Arunika tidak tahu bahwa ada orang-orang yang terlihat paling baik tepat sebelum mereka pergi. Seperti cahaya lilin yang menyala paling terang sesaat sebelum padam. Mungkin mereka ingin memberikan kesan terbaik sebelum mereka pergi. Seolah mereka ingin memberikan kenangan terakhir yang indah. Agar mereka yang dikasihi dan mengasihinya mengingatnya dalam kondisi itu.

* * *

Pagi itu seperti pagi-pagi lainnya.

Lihat selengkapnya