“Loh ... Dirgantara!" ucap sang ibu dengan senyum mengembang di wajahnya. Wanita paruh baya itu membuka lebar kedua tangannya, menyambut kedatangan putra sulungnya itu. Dirgantara langsung memeluk hangat sang ibu, penuh kasih dan rindu. Abimanyu pun ikut berdiri dan menepuk lembut pundak sang kakak. Mereka tampak begitu bersemangat dan senang melihat kedatangan Dirgantara.
Sejenak mereka terdiam dan menoleh ke arah Alina. "Na, sambut suamimu," ucap ibu yang mengagetkan Alina. "Hah?" Segera wanita cantik itu menjabat tangan suaminya dengan senyum di wajah cantiknya. "Alina, ini bukan Lebaran. Tapi dia suamimu yang baru pulang dari tugasnya. Disambut dong," titah sang ibu mertua yang membuat Alina mengerutkan keningnya.
"Lah ... baru juga dua hari, Bu. Tidak sampai setahun, ngapain harus histeris begitu?" Jawaban dari Alina tersebut membuat Abimanyu tergelak. "Kamu istri yang hebat! Mantu pilihan ibu memang keren. Aku suka!" sahut Abimanyu sambil merangkul pundak Alina.
"Kamu ini apaan, Abi! Hormati kakak iparmu. Jangan main rangkul begitu," bentak sang ibu, mencoba melepaskan tangan Abimanyu yang masih melingkar di bahu Alina. "Ibu ini kuno amat. Ini tuh tanda kita sayang dan kompak dalam keluarga," jawab Abimanyu, yang membuat Dirgantara menggeleng dan terkekeh. "Tumben Pak Dokter bisa bercanda. Biasanya mirip gunung batu," ledek Dirgantara yang kembali dibalas oleh sang adik. Abimanyu menyatakan kalau kakaknya itu lebih keras dan dingin seperti es di Kutub Selatan.
Setelah selesai menyambut sang Letnan, ibu pun mengajak Alina untuk menyiapkan makanan. "Lihat, Alina, suamimu itu sangat menyukai gurame asam manis. Jadi kamu harus belajar membuat masakan favorit ini, biar Dirga tambah sayang sama kamu."
"Ih, Ibu. Ini cuma masakan. Jangan berlebihan," jawab Alina yang membuat wanita paruh baya itu menggeleng. "Kamu ini gimana, to, Na. Justru lewat masakan, kaum wanita bisa menghipnotis para pria," jawaban dari sang ibu mertua membuat Alina terkekeh. Setelah menyelesaikan semuanya, Alina dan ibu mempersiapkan hidangan di atas meja makan. "Ibu akan panggil Dirgantara. Kamu mandi sana, biar wangi," titah ibu yang langsung dilaksanakan oleh wanita cantik itu.
Setelah beberapa saat, keluarlah Alina dengan rambut setengah basah dan masuk ke dalam kamar. Dia ingin berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Mulutnya terus berdendang sambil memilih pakaian di lemari. Alina tidak menyadari ada Dirgantara yang saat ini terus mengamatinya dari sudut ruangan. Handuk yang membalut tubuhnya kini terlepas dan berganti dengan daster karakter yang menambah cantik Alina.