Batin Dirgantara sambil terus menatap lekat wajah cantik sang istri yang mulai mengoleskan krim di wajahnya. "Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apakah ada yang salah dari wajahku?" tanya Alina, terlihat sangat panik. Dia sangat perfect dalam berpenampilan, sehingga dia sangat takut jika ada satu pun yang kurang dari dirinya.
Dirgantara menggeleng sambil berucap, "Cantik, sangat cantik." Sontak jawaban dari Dirgantara itu membuat Alina salah tingkah. "Oh, begitu ya," lirih Alina yang kembali fokus pada kaca cermin yang ada di hadapannya. Sementara Dirgantara hanya terkekeh dan menggeleng. Dia benar-benar dibuat tergila-gila oleh wanita yang sekarang sangat manja dan keras kepala itu.
Setelah selesai menggunakan krim di wajahnya, Alina bergegas merapikan tempat tidur dan bersiap untuk beristirahat. "Seharian tadi ngapain aja dengan Ibu?" tanya Dirgantara penuh rasa penasaran. Alina pun kembali terbangun dan menyingkap selimutnya. "Sejak kemarin Ibu mengajariku memasak, menyetrika pakaian dinasmu, dan banyak lagi," jawab Alina yang ditanggapi serius oleh suaminya. Pemuda itu benar-benar sangat terpesona oleh tingkah istrinya yang lucu dan menggemaskan. "Syukurlah ... kalau begitu, besok kamu sudah bisa menyiapkan sarapan untuk aku dong," jawab Dirga yang mengagetkan Alina. Sejenak wanita cantik itu berpikir dan mengangguk. Dia tidak mau dianggap rendah dan bodoh oleh suaminya, sehingga dengan percaya diri Alina pun mengangguk. "Tentu."
Dirgantara tersenyum dan bangkit untuk mengusap lembut ujung kepala istrinya. "Mau ke mana, Mas?" tanya Alina yang melihat suaminya itu akan beranjak dari kamarnya. Dirgantara pun menjawab kalau dirinya menjaga prinsip sang istri untuk tidur di sofa. Belum selesai berucap, Alina langsung turun dari tempat tidurnya dan merangkul lengan sang suami. Dia menatap aneh pada Dirgantara. "Ada apa?" tanya sang suami melihat perubahan pada diri Alina.
Tanpa berpikir panjang, Alina pun mengatakan pada sang Letnan kalau dirinya takut ditinggal sendirian di dalam kamar. Apalagi tadi pagi, tanpa sengaja, dia melihat cerita-cerita misteri tentang asrama yang membuatnya langsung bergidik. "Siapa yang bilang kalau asrama itu horor, Alina ...?" tanya Dirgantara sambil menggeleng.
"Aku melihatnya di ponsel, Mas. Dan itu benar-benar nyata, bukan tipu-tipu," jelas Alina lagi dengan wajah panik.
"Alina ... Alina ..." Dirgantara menggeleng sambil terkekeh.
"Gimana, ya?" pikir Dirgantara yang masih menimbang keinginan dari sang istri.
"Ayolah," rengek Alina lagi yang membuat Dirgantara semakin ingin mempermainkannya.
Karena jawaban suaminya itu terlalu lama, membuat Alina langsung menarik paksa tangan Dirga dan menata tempat untuk sang Letnan. Pemuda tampan dan gagah itu langsung tersenyum manis dan menggeleng. Dia benar-benar dibuat gila oleh ulah dan tingkah istrinya itu. Kini keduanya sudah tidur berdampingan. "Pokoknya kamu jangan sampai membelakangiku, Mas. Fokus menjaga dan menghadapku. Awas kalau sampai ketahuan membelakangiku!" ancam Alina yang langsung membelakangi Dirgantara.
"Loh, kamu saja membelakangiku, terus aku bagaimana?"