Jodoh Dadakan Dirgantara

Andiliawati
Chapter #9

Chapter tanpa judul #9

Dirgantara menatap Alina. Dia ingin mendengarkan perkataan Alina yang sempat terputus. "Liburan minggu depan, bolehkan aku pulang ke rumah Ibu? Aku sudah rindu pada Ayah dan Ibu," lirih Alina yang langsung diangguki oleh suaminya itu.


"Terima kasih ya, Mas," imbuh Alina, tampak begitu bahagia dan girang. Melihat istrinya begitu bersemangat membuat Dirgantara senang.


"Baiklah, berangkatlah dengan hati-hati. Ingat, pulang tepat waktu. Aku akan buatkan makanan untukmu," ucap Alina sambil memperbaiki pakaian suaminya.


"Aku tidak bisa menentukan kapan waktu pulang, Alina. Nanti aku akan kabari lagi," ucap Dirgantara yang kemudian pergi meninggalkan kediamannya yang nyaman itu menuju tempat tugas.


Di sana sudah berbaris para prajurit melakukan pelatihan-pelatihan yang biasa dilakukan untuk persiapan diri. Dirgantara masuk ke dalam sebuah gedung dan melakukan pertemuan dengan atasannya. Mereka merencanakan sesuatu untuk pengiriman para prajurit ke daerah rawan konflik. Dirgantara tampak serius dan berpengalaman. Dia pun mulai menyeleksi siapa-siapa saja prajurit yang sudah matang dan siap untuk dikirim. Tiba-tiba sang atasan menepuk pundak Dirgantara dan bertanya masalah pernikahannya bersama Alina. Pria tiga puluh lima tahun itu pun terkekeh. Dia menjawab santai pertanyaan dari sang atasan.


"Padahal, aku ingin memperkenalkan kamu dengan Saraswati, putriku. Dia baru saja lulus S2 kedokteran tahun ini. Eh ... malah sudah nikah duluan dengan seorang perawat," ucap pria paruh baya itu, kembali terkekeh.


"Berarti kita tidak jodoh, Pak!" jawab Dirgantara dengan tegas.


"Bukannya nggak jodoh, Dirga, tapi kalah cepat," jawab sang atasan lagi, masih dengan tawa ramahnya.


Entah bagaimana, tiba-tiba putri atasan dari Dirga itu datang, membawakan buku tugas milik ayahnya. "Ayah, kamu meninggalkan ini. Kebetulan Saras lewat sini, jadi sekalian Saras bawa," ucap wanita cantik itu dengan sesekali melirik ke arah Dirgantara.

Lihat selengkapnya