Jodoh Dadakan Dirgantara

Andiliawati
Chapter #10

Chapter tanpa judul #10

"Maafkan aku yang belum bisa membuatmu senang," lirih Alina yang membuat sang suami terkekeh. Kedua mata pasangan itu kini saling beradu. Ada tekanan dalam dada Dirgantara yang ingin keluar dari tempatnya. "Alina, bolehkah aku mencium keningmu? Sekali saja?" lirih sang Letnan berpamitan pada istrinya. Tanpa banyak berpikir, Alina akhirnya tersenyum dan mengangguk, yang membuat hati Dirgantara seketika menjadi lega. Dengan lembut, pemuda berwajah sempurna itu mengecup hangat kening Alina. Tanpa disadari, Dirgantara lanjut mencium kedua pipi dan hidung Alina yang mancung.


"Mas."


"Aku tahu, kamu belum siap," jawab Dirgantara yang masih terus mengamati wajah cantik istrinya.


Alina kemudian mengatakan pada Dirgantara untuk tidak memberitahu ibu mertuanya masalah masakannya hari ini. Seketika Dirgantara terkekeh tiada henti. "Alina ... Alina ... ya tidak mungkinlah. Apalagi, masakanmu tadi begitu enak," sahut Dirgantara yang membuat Alina gemas dan memukul kesal suaminya.


"Jahat banget kamu, Mas. Orang masakan nggak karuan gitu dibilang enak!" ketus Alina yang masih ditertawakan oleh Dirgantara.


"Nggak lucu, Mas!" imbuh Alina dengan bibir mengerucut.


"Jangan pasang wajah begitu, Na. Bisa-bisa aku menerkammu malam ini," bisik Dirgantara pada telinga Alina yang membuat wanita itu melengos kesal.


Alina menutupi wajahnya dengan selimut. Dia tidak mampu melihat wajah tampan suaminya yang terus menatapnya. Dirgantara mencoba membuka dan menarik selimut istrinya, tapi wanita itu tetap bersikeras untuk berada di dalamnya. Padahal Dirgantara masih ingin mengamati wajah cantik sang istri. Tidak lama, tidak ada pergerakan lagi dari Dirgantara yang membuat Alina pelan-pelan membuka selimut dari wajahnya. Dia menoleh ke arah suaminya yang sudah tertidur.


"Hah ... akhirnya," gumam Alina yang melempar selimut sembarang dan ikut terpejam. Betapa terkejutnya Alina saat suaminya itu tiba-tiba bangkit dan menindih tubuhnya. "Mas! Jangan macam-macam kamu," ucap Alina sedikit gugup. Dirgantara tidak bergeming sedikit pun, tatapannya terus menembus manik mata Alina yang begitu cantik dan tak berdaya itu. "Tak masalah kamu nggak bisa masak, tapi bisakah kamu mencoba mencintaiku, Na," lirih Dirgantara yang membuat jantung Alina berdegup kencang.

Lihat selengkapnya