Jodoh Dadakan Dirgantara

Andiliawati
Chapter #11

Chapter tanpa judul #11

"Ngapain menjelaskan padaku, Mas. Nggak penting," ketus Alina yang membuat Dirgantara tercengang. Bagaimana bisa istrinya itu terlihat santai saat suaminya dirangkul wanita lain. Karena kesal dengan ulah istrinya, Dirgantara akhirnya berjalan pergi menuju tempat yang sudah disiapkan untuk dirinya dan Alina. "Dia siapa, Mas Dirga?" tanya Saras pada bawahan ayahnya itu. "Istri," jawab Dirgantara dengan nada dingin. Seketika Saras membulatkan kedua matanya. Dia tidak habis pikir kalau si tampan yang selama ini menjadi incarannya sudah menikah.


"Kapan?" tanya Saras dengan nada serius. "Dua minggu lalu," jawab Dirgantara masih dengan wajah yang sama. Sesekali dia menoleh ke belakang mencari keberadaan istrinya yang tak kunjung datang ke tempatnya. "Saras, tolong jangan begini. Nggak enak dilihat yang lain. Apalagi aku sudah punya istri," tegas Dirgantara pada Saras sedikit berbisik. Terlihat putri dari atasannya itu terus menempel padanya. Hingga acara pun dimulai, Alina tidak kunjung datang, membuat hati Dirgantara semakin cemas dan khawatir.


"Kamu kenapa, Dirgantara? Kok nampak gelisah?" bisik atasan pada Dirga yang saat ini berdiri di sampingnya. Pemuda itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau mengatakan kalau istrinya hilang dari lokasi. Dirgantara terus menahan rasa kacau di dalam hatinya hingga upacara pun selesai. Beberapa teman dan para istrinya saling berbincang dan menikmati pagi yang begitu cerah. Dirgantara berjalan ke sekeliling untuk mencari-cari keberadaan Alina. Terlihat seorang pemuda berseragam datang menghampiri Dirgantara yang terlihat gelisah.


"Bapak mencari siapa? Apakah wanita cantik yang barusan keluar dari gerbang utama?" tanya pemuda berseragam loreng hijau itu. Dirgantara pun mengangguk. Dia langsung mencengkeram bahu prajuritnya itu dan bertanya ke arah mana Alina berjalan.


"Sana, Pak!" jawab prajurit itu sambil menunjuk ke arah Alina pergi. Segera Dirgantara berlari mengikuti petunjuk dari pemuda barusan. Tapi, dia tidak mendapati Alina ada di sekitar. Dirgantara celingak-celinguk penuh kepanikan. "Ada apa, Mas?" tanya Saras yang tiba-tiba ada di belakangnya. Dirgantara pun terkejut dan mengusap kasar wajahnya. "Istriku, istriku pergi entah ke mana," jawab Dirgantara dengan wajah kacau tidak karuan.


"Palingan ke kamar kecil, Mas. Ayo kita masuk lagi. Takut ditunggu sama yang lain," ucap Saras yang semakin membuat Dirgantara kesal.


"Jangan ikuti dan urusi aku. Pergilah," tegas Dirgantara yang membuat wanita cantik itu terdiam dan mengangguk. Segera wanita cantik itu berlalu dari hadapan sang letnan yang tengah panik. Karena tidak menemukan Alina di sekitar gedung, Dirgantara pun memutuskan untuk mencarinya ke jalan menggunakan motor. Sebelumnya, dia berpamitan dan meminta izin pada atasan dan lainnya. Setelah diperbolehkan, Dirgantara pun bergegas menaiki motornya dan pergi mencari istrinya. Di sepanjang perjalanan, kedua mata Dirgantara tidak pernah lengah. Dia terus melihat ke sekeliling berharap istrinya itu segera ditemukan. Hampir saja dia frustrasi, terlihat Alina tengah berdiri menantikan angkutan umum di pinggir jalan. Segera Dirgantara melajukan motornya dan menghampiri sang istri.

Lihat selengkapnya