Alina memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan mencengkeram rambut suaminya kuat-kuat. "Alina," panggil Dirgantara yang kini kembali saling memandang, "apakah kamu benar-benar sudah siap untuk melakukan ini denganku?" tanya Dirgantara yang sudah tak mampu dijawab oleh wanita cantik itu. "Setelah kamu mendaki terlalu jauh, kenapa masih bertanya lagi?" ketus Alina mulai kesal. Melihat merah merona pipi sang istri, Dirgantara langsung melayangkan ciuman hangatnya. Kali ini, dia tidak akan membuat marah si cantik lagi. "Alina, kamu benar-benar memikatku," bisik Dirgantara dengan kedua tangannya yang sudah meremas lembut dua pegunungan yang menantang itu.
"Tunggu, Mas," lirih Alina meraih wajah Dirgantara yang sudah hilang kendali. Napasnya terengah-engah menahan gejolak di dalam dirinya. "Apakah aku terlalu kasar dan menyakitimu?" bisik pemuda itu lagi begitu berhati-hati bermain dengan istrinya. "Tidak Mas, tapi aku malu," lirih Alina yang membuat Dirgantara terkekeh, yang kemudian melahap lagi bibir manis yang terus berceloteh itu. Sungguh-sungguh cinta pertama yang tak bisa pemuda itu lepaskan. Dirgantara benar-benar jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
"Tenang dan jangan panik, Alina. Aku akan berhati-hati dan pelan-pelan," bisik Dirgantara yang diangguki oleh Alina.
Wanita cantik itu menggigit bibir bawahnya, menahan kenikmatan yang saat ini Dirgantara berikan. Napas pria itu begitu terasa di antara pegunungan yang kini berhasil dia daki. "Akh, Mas ..." pekik Alina, saat suaminya itu sedikit nakal. Dirgantara tersenyum dan mulai berani menuruni lembah yang mungkin akan mendapatkan tamparan dari Alina. Tapi, bukannya memberontak, Alina justru hanya pasrah, yang membuat Dirgantara segera beraksi. Keduanya larut dalam kehangatan cinta yang baru saja mereka gapai. "Aku malu, Mas!" tegas Alina lagi yang tiba-tiba menarik kedua kakinya dari hadapan suaminya. Dirgantara sudah tidak bisa menguasai dirinya lagi. "Biarkan aku melakukannya, Alina. Kamu sudah membuatku tak berdaya begini," bisik Dirgantara sambil mencium leher jenjang istrinya. Alina yang tadinya begitu tegang dan panik, kini mulai bisa dikendalikan oleh pemuda itu.
Jantung Alina terasa ingin lepas dari tempatnya saat melihat tubuh gagah suaminya yang begitu indah terekspos di depan matanya. Persenjataan yang siap menembaknya membuat wanita itu tak bisa berkata-kata. "Kamu …," bisik Dirgantara yang semakin membuat Alina malu. Keduanya kembali berciuman, kali ini Alina semakin aktif; dia tidak malu-malu dan takut lagi. "Izinkan aku menyatukan cinta kita, Na," bisik pemuda itu dengan wajah merah padam tak bisa menahan lagi. Alina pasrah dan mengangguk.
"Aduh!" pekik Alina mengagetkan Dirgantara yang mulai memasang amunisi pada senjatanya. "Sakit sekali, Mas," ucap Alina dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Sekali lagi Dirgantara merasa bersalah atas perbuatannya itu. Dia benar-benar takut kalau istrinya kesakitan. "Apakah harus sesakit ini, Mas?" rengek Alina yang mulai meneteskan air matanya.