Alina meringis kesakitan yang membuat Dirgantara panik. "Baiklah, tetaplah di sini. Aku akan mengambilkan makanannya," ucap Dirgantara, yang kemudian pergi meninggalkan kamar menuju meja makan. Dia pun kembali ke kamar sambil membawa makanan dan minuman. "Aku akan menyuapimu," ucap Dirgantara yang sudah duduk di sampingnya.
"Tidak usah, Mas. Aku bisa makan sendiri," sahut Alina yang ingin meraih piring dari tangan suaminya. "Alina, patuh!" tegas Dirgantara yang membuat wanita cantik itu diam dan mengikuti semua keinginan suaminya. Alina terus menatap dalam ke arah wajah tampan suaminya yang begitu sabar dan telaten pada dirinya. Dengan sedikit gugup, Alina pun bertanya pada Dirgantara mengenai mantan-mantannya.
"Mantan? Aku tidak pernah punya mantan," jawab Dirgantara yang membuat Alina terkekeh. "Kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Dirgantara sambil menyuapi istrinya tersebut. Alina menggeleng. Dia tidak percaya dengan jawaban suaminya yang tidak punya mantan, secara suaminya itu sangatlah tampan, tidak mungkin kalau dia tidak punya pacar di masa lalu. Tapi, Dirgantara kembali meyakinkan pada istrinya itu bahwa dia tidak pernah mengenal wanita selain Alina. Mendengar hal itu membuat wanita cantik itu bangga. Setelah menyelesaikan makannya, Dirgantara pun bergegas membawa piring kotor dari kamar menuju dapur. Tiba-tiba dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ternyata Ibu benar. Menikah itu menyenangkan," lirihnya, terus terngiang-ngiang dengan wajah Alina yang mendesah.
Tidak lama, Dirgantara kembali ke kamar. Dia kembali duduk santai bersama Alina. "Aku akan kembali ke gedung asrama. Apakah kamu baik-baik saja di rumah sendirian?" tanya Dirgantara sambil mengusap lembut ujung kepala istrinya.
"Ngapain lagi? Ingin menemui putri atasanmu itu?" ketus Alina sambil melengos kesal. Melihat tingkah cemburu istrinya itu membuat Dirgantara kembali menggeleng. "Tenang, Alinaku sayang. Aku tidak akan menoleh ke wanita lain. Sekalipun itu bidadari di langit, tidak akan bisa mengalahkan kekasihku ini," ucap Dirgantara yang langsung dipukul oleh Alina. "Dasar, gombal!" Dirgantara terkekeh dan mencium hangat kening istrinya.
Baru berjalan beberapa langkah dari kamarnya, pemuda itu kembali berhenti dan berbalik menghampiri istrinya lagi. "Aku mencintaimu, Na."
"Apaan sih, Mas!" sahut Alina yang melihat lucu pada tingkah suaminya.