Tanya Alina menghentikan aktivitas suaminya. Dirga pun menghela napas panjang dan meraih pakaiannya, kemudian berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang bertamu. Setelah pintu terbuka, terlihat wanita sore tadi yang datang untuk mengambil tempat sayurnya. "Mbak, tunggu sebentar di sini. Saya akan ambilkan," tegas Dirgantara tanpa meminta wanita itu masuk.
"Ini, Mbak. Sebelumnya terima kasih banyak ya, Mbak. Lain kali tidak usah repot-repot bawakan masakan, kita tidak enak," ucap Dirgantara sambil menyerahkan tempat sayur milik wanita itu. Sejenak, wanita itu terdiam menatap dalam pada wajah Dirgantara yang hampir menutup pintu. "Kamu tampan, kok dapat istri pemalas, ya? Aku lihat, seharian istrimu itu hanya rebahan di ruang tamu dan bermain ponsel," ucap wanita itu yang membuat Dirgantara terkekeh.
"Memang saya yang menyuruhnya untuk rebahan saja, Mbak," jawab Dirgantara yang langsung membuat wanita itu terdiam.
Setelah menyaksikan wanita yang tinggal di depan asramanya itu pergi, Dirgantara segera menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar. Matanya tertuju pada Alina yang sudah tertidur nyenyak. Dirgantara tidak bisa menahan senyumannya saat melihat kekasih hatinya tidur dengan begitu damai. Dalam hatinya, ia merasa sangat beruntung memiliki Alina dalam hidupnya. Dengan langkah perlahan, Dirgantara menghampiri tempat tidur dan berbaring di samping Alina. Tangannya yang hangat dengan lembut melingkar pada tubuh Alina, memeluknya erat. Ada perasaan tulus dan cinta yang begitu dalam dari setiap sentuhan yang ia berikan. "Aku benar-benar mencintaimu, Alina," bisik Dirgantara dalam hati, sebelum akhirnya ia pun terlelap dan bergabung dengan Alina dalam mimpi. Dalam tidurnya, keduanya terlihat begitu bahagia, seakan tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu mengoyak kebahagiaan mereka berdua. Namun, apakah kebahagiaan ini akan bertahan selamanya? Ataukah nantinya akan ada ujian yang harus mereka lalui bersama? Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
Malam yang panjang, tanpa disadari berlalu begitu saja. Alina membuka kedua matanya dan bersiap untuk bangun. "Mau ke mana, Na?" tanya Dirgantara memeluk erat tubuh Alina yang bersiap untuk beranjak dari tempat tidurnya. "Bangun, Mas. Sudah jam setengah enam," jawab Alina menoleh ke arah suaminya yang masih terpejam.
"Jangan, tetaplah di sini," ucap Dirgantara lagi mengunci tubuh istrinya dengan sangat erat. Alina tersenyum dan berusaha melepaskan tangan gagah suaminya itu. Dirgantara berusaha bangkit dan menindih Alina penuh gemas. Dengan lembut dia mencium leher jenjang Alina dan memulainya. "Akhh... Mas... Mas..." Alina menggigit bibir bawahnya menahan geli pada pendakian suaminya yang kedua. Pagi ini mentari menyorot masuk ke dalam celah kamar pasangan pengantin baru, menjadi penghangat bersatunya cinta Alina dan sang Letnan. Pemuda tampan itu kembali meninggalkan banyak tanda merah pada pegunungan es yang begitu menggoda. Dirgantara sudah tidak menghiraukan celotehan dari istrinya, dia terus menyiksa Alina penuh nikmat.