"Ya ampun, Mas," ucap Alina masih dengan napas ngos-ngosan. "Tenang, Na. Kamu diam dulu di sini. Aku akan keluar sebentar untuk melihatnya," jawab Dirgantara yang diangguki oleh istrinya.
Dirgantara pun keluar dari mobil dan melihat kucing yang barusan ditabrak olehnya. Terlihat seekor anak kucing tengah terkapar tak berdaya dan bersimbah darah di bawah mobil. Segera Dirgantara mengambil dan menaruhnya pada kantong plastik, kemudian membawanya. "Bagaimana, Mas?" Alina benar-benar nampak syok dengan kedua mata berkaca-kaca. Dirgantara dengan tenang menyampaikan pada istrinya itu kalau kucing sudah meninggal dan akan dia bawa untuk dikubur di tempat ibunya nanti. Alina mengangguk dan tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju kediaman orang tua Alina. Di sepanjang perjalanan, Alina terus melirik ke bangku belakang.
"Tidak apa-apa, Alina. Kamu yang tenang. Kita juga tidak sengaja. Yang penting sekarang kita rawat dan kuburkan dia," ucap Dirgantara sambil mengusap lembut punggung tangan Alina. Wanita cantik itu pun mengangguk dan tersenyum, berusaha untuk tetap tenang. Setelah lebih dari satu jam perjalanan, akhirnya kedua pasangan suami istri itu sampai juga di kediaman Alina. Alina segera turun dan berlari menuju rumah sederhana dengan halaman yang begitu luas, disusul oleh Dirgantara yang berjalan santai dengan membawa beberapa tas berisi oleh-oleh.
"Ibu, Alina datang!" teriak wanita cantik itu dari depan pintu yang masih tertutup rapat. Mendengar ada suara khas putrinya, sang ibu pun keluar dengan rasa penasaran. "Alina!" Ibu juga tak kalah bahagia melihat putri semata wayangnya datang mengunjungi. Setelah pernikahannya, Alina dan Dirgantara belum sekalipun mengunjungi ayah dan ibu. "Di mana Ayah, Bu?" tanya Alina celingak-celinguk mencari keberadaan pria paruh baya yang biasanya selalu menggodanya itu.
"Ayahmu sedang tugas di kelurahan, tidak tahu tadi berangkat pagi-pagi sekali," jawab Ibu sambil merangkul putrinya. Tidak lupa, Ibu juga meminta Dirgantara untuk masuk dan duduk tenang di ruang tamu. Tapi, pemuda tampan itu berpamitan pada ibu mertuanya untuk menguburkan kucing yang tadi ditabraknya. Seketika sang ibu mertua pun terkejut. "Tapi kalian berdua tidak apa-apa, kan?" tanya Ibu panik. Dirgantara tersenyum ramah lalu mengatakan kalau dirinya dan Alina baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mendengar hal itu, ibu dari Alina pun merasa lega. "Syukurlah kalau begitu, Nak. Sekarang, tolong segera bawa kucingnya ke belakang rumah saja," jawab Ibu yang diangguki oleh Dirgantara. Dirgantara pun membawa kucing mati itu ke belakang rumah untuk dikubur. Setelah selesai, dengan keringat yang sudah membasahi, pemuda itu kembali ke depan. Terlihat beberapa makanan dan minuman di atas meja makan. Ibu meminta Dirgantara untuk segera meminum dan mencicipi makanan yang sudah dia sajikan.
"Terima kasih banyak, Bu. Kenapa Ibu repot-repot sekali?" jawab Dirgantara sedikit malu dan tertunduk.
Wanita paruh baya itu pun mengatakan pada Dirgantara untuk tidak usah sungkan-sungkan, karena sang ibu sudah menganggap Dirgantara seperti putra kandungnya sendiri. Sekali lagi, pemuda itu tersenyum dan mengangguk. Tiba-tiba Ibu teringat akan putri manjanya, sehingga dia bertanya pada menantunya itu tentang sikap dan perilaku Alina pada sang Letnan yang selalu menjadi sanjungan bagi keluarga besarnya itu. Sejenak Dirgantara terdiam dan kembali tersenyum. Dia menjelaskan pada ibu mertuanya kalau istrinya itu sangat manis, patuh, dan pandai dalam berbagai hal.