Jodoh Dadakan Dirgantara

Andiliawati
Chapter #17

Chapter tanpa judul #17

Ayah dan Ibu kebingungan karena kamar sebelah sangat berisik. "Apakah ranjang Alina rusak lagi ya, Yah?" tanya Ibu panik. Tapi, setelah dipikir-pikir, keduanya langsung terkekeh. "Lupa, mereka kan pengantin baru," lirih Ibu kembali membaringkan diri yang diikuti suaminya.


"Mas, jangan terlalu semangat, ingat ini di tempat Ayah dan Ibu. Takut kedengaran mereka," bisik Alina yang sudah diburu senjata oleh suaminya. Sejenak Dirga tersenyum dan mengurangi laju kecepatannya. "Terima kasih, Alina," bisik Dirgantara yang menandakan dirinya hampir mencapai puncaknya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, kedua pasangan itu masih betah terjaga. Dirgantara terlihat begitu bahagia bisa bersanding dengan Alina yang tadinya tidak pernah dia kenal. Walau tetangga desa, pemuda itu sangat masa bodoh dengan hal di sekitar, apalagi masalah wanita. Yang ada di pikirannya hanyalah cita-cita dan membahagiakan orang tuanya. Sehingga, saat ditanyakan masalah jodoh, pemuda itu selalu menolak. "Mas, aku sudah mengantuk. Ayo kita tidur," lirih Alina yang sudah beberapa kali menguap.


Melihat sang istri tertidur dengan pulasnya, Dirgantara akhirnya mengikutinya. Keduanya terbawa ke alam mimpi yang begitu damai. Hingga tanpa terasa, malam yang panjang berganti lagi. Mbak Tari datang ke tempat Alina untuk membawakan beberapa kerupuk mentah yang sudah dipesan Ibu. Dia ingin membawakan oleh-oleh untuk putrinya nanti. "Berapa, Ri?" tanya Ibu sambil mengambilkan uang dari sakunya. "Seratus dua puluh, Bu," jawab wanita tiga puluh tahun itu. Tidak lama, melintas Dirgantara menuju samping rumah. "Suaminya Alina, Bu?" tanya Tari sambil mengerutkan keningnya. Sepertinya, dia mengetahui sesuatu tentang suami dari Alina tersebut.


"Iya, ada apa ya, Ri?" jawab Ibu berubah khawatir.


"Oh, tidak, Bu. Kalau begitu, Tari pulang dulu ya," sahut Tari yang kemudian berpamitan pulang. Sesekali wanita itu masih menoleh ke arah kediaman Alina, entah apa yang sedang dia sembunyikan dan ketahui. Wajahnya tersirat teka-teki keanehan.


"Kalian sarapan dulu, ayo, Nak Dirga, makan yang banyak. Semalam kan tempur besar-besaran, pasti sudah lapar," ucap Ibu yang langsung disenggol oleh Ayah. "Ibu apaan sih, tidak sopan ah," bisik sang suami yang merasa sang ibu bersikap kurang sopan.


Dirgantara dan Alina saling memandang dan terkekeh. Keduanya seperti paham dan mengerti akan sindiran dari sang ibu. Dengan cepat, Alina mencubit lengan suaminya. Dia merasa kesal dengan ulah suaminya semalam. Gara-gara Dirgantara yang terlalu semangat, membuat dipan yang terbuat dari kayu jati itu terdengar berisik.


Setelah selesai sarapan pagi, Alina pun berpamitan pada Ayah dan Ibu untuk mampir ke tempat mertuanya. Apalagi, rumah Dirgantara dilewati saat pulang nanti. Ayah dan Ibu pun mengangguk dan menyetujui keputusan dari putrinya tersebut. "Ingat, kamu harus selalu patuh dan nurut sama suami. Ingat juga, jangan pernah melawan apalagi membantahnya. Oh ya, Na. Ibu titip salam pada ibunya Nak Dirgantara ya," ucap Ibu yang berjalan mengantarkan putrinya itu menuju mobil. Alina tersenyum dan mengangguk, dia kini berubah lebih dewasa dibanding saat dia belum menikah dengan sang Letnan.

Lihat selengkapnya