Jodoh Dadakan Dirgantara

Andiliawati
Chapter #18

Chapter tanpa judul #18

Ibu memberitahukan lagi bahwa tadi Alina menunggu dirinya di mobil.


"Kok tiba-tiba Alina pergi ke mobil? Memangnya Ibu barusan bicara apa padanya? Pasti Ibu aneh-aneh lagi, deh," keluh Dirgantara. Ibu hanya menggeleng dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Terlihat Dirgantara tengah sibuk menghubungi seseorang. "Maafkan Ibu ya, Nak. Bukan maksud Ibu melukai hati Alina, tapi Ibu hanya ingin yang terbaik untuknya. Ibu juga tidak mau kamu terlalu sibuk karena ulahnya," sahut sang ibu, menambah beban di hati Dirgantara.


Segera Dirgantara meminjam motor ayahnya dan pergi mencari istrinya. Di sepanjang perjalanan, hatinya sangat kacau. Dirgantara tidak bisa berpikir apa-apa selain mengkhawatirkan Alina. Terlihat mobil miliknya tengah melaju kencang menuju daerah asrama. Seketika hati Dirgantara merasa lega karena akhirnya Alina pulang ke asrama dengan selamat. Tidak jauh, terlihat mobil itu berbelok ke halaman. "Alina!" panggil sang suami yang melihat istrinya itu buru-buru berjalan memasuki kediamannya.


"Alina, kamu marah pada Ibu? Tahu begitu, kita tidak usah mampir," ucap Dirgantara mengikuti sang istri menuju dapur.


"Alina, bicara dong. Jangan diam begini," ucap Dirgantara lagi, terus mengikuti kesibukan Alina.


"Aku capek, Mas. Capek banget. Ayah dan Ibu saja tidak pernah mengataiku yang macam-macam. Tapi baru jadi mertua sudah berani mencercaku dengan kata-kata sindiran dan ledekan. Kita nikah baru tiga minggu, Mas. Kamu juga menembakku baru beberapa kali. Terus tiba-tiba langsung hamil gitu? Pikir dong, Mas. Aku capek, pokoknya capek!" gerutu Alina sambil mengambil air minum dari lemari pendingin.


Dirgantara hanya bisa menggeleng dan menghela napas panjang. Pemuda itu berusaha menengahi masalah istri dan ibunya. Dia juga tidak mau terlalu membela ibunya karena bagaimanapun juga sang ibu memang salah. Tidak seharusnya beliau bertanya dan berkata terlalu jauh pada Alina.


"Pokoknya aku capek, Mas!" tegas Alina lagi sambil menaruh gelas di atas meja. Dirgantara yang tadinya melamun pun seketika terkejut dan bengong.


Setelah menghela napas panjang, Dirgantara pun beranjak dari dapur menuju ruang tengah untuk menenangkan dirinya. "Apakah kamu mau cari istri yang sehari langsung hamil?" ledek Alina yang membuat Dirgantara menggeleng. "Capek banget!" ketus Alina lagi. "Atau kamu mau mencari istri lagi yang satu jam menikah langsung hamil? Biar ibumu itu bahagia!" Lagi-lagi Dirgantara menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak bisa berkata-kata kalau istrinya itu sedang marah.


"Capek!"


Lihat selengkapnya