Seketika Dirgantara terkejut saat Alina mendengar perbincangannya dengan sang ibu. "Sekarang tanya pada ibumu itu Mas, maunya apa? Kemarin dia memuja-muja aku, sekarang ganti wanita lain yang dipuja. Tidak masuk akal tahu! Kalau aku belum kamu sentuh, aku sudah minta cerai, Mas!" celoteh Alina dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Alina ... Alina, tolong tenangkan dirimu!" tegas Dirgantara mencoba menenangkan istrinya lagi.
"Kamu selalu begitu, Mas. Selalu mencoba menenangkan aku, tapi tidak bisa mencari solusi. Sejak awal aku sudah lelah dengan semua aturan yang ibumu itu buat! Aku malas!" Alina berlalu menuju kamarnya lagi.
"Alina! Alina ..." panggil Dirgantara kembali mengikuti istrinya.
Dirgantara berusaha membujuk dan mencari jalan keluar dari semua masalahnya ini. "Kita tidak usah memikirkan omongan Ibu. Kita juga tidak usah sering-sering ke tempatnya. Sudah, ayo sekarang kita istirahat. Yang menjalani itu aku dan kamu, bukan Ibu. Apakah kamu tidak ingat bagaimana kamu mengejar-ngejar aku?"
"Dasar ya, siapa juga yang mengejar-ngejar kamu, hah? Yang ada aku sudah menolak saat tahu kamu yang akan jadi suamiku, bukan Mas Abimanyu," timpal Alina yang membuat Dirgantara langsung menyandarkan kepalanya pada bahu sang istri. Sekali lagi, Alina ingin suaminya itu bisa membuat keputusan tegas atas sikap ibunya yang aneh. "Jangan ganggu aku lagi. Aku mau tidur. Besok pagi-pagi sekali Alina mau pergi ke pasar. Mau belajar belanja," ucap sang istri yang membuat Dirgantara tertawa.
"Jangan ditertawakan, aku akan buktikan pada dunia kalau Alina Anastasia bisa berbelanja di pasar tradisional," ucapnya bangga dan membaringkan diri. Dirgantara terkekeh dan menggeleng lagi.
Pikiran Dirgantara kembali pada ucapan sang ibu. Dia bingung dengan sikap ibunya yang plin-plan itu. Berkali-kali Dirgantara menghela napas panjang mendalami masalahnya saat ini. "Yang rumit bukan rumah tanggaku, melainkan Ibuku," batin Dirgantara masih menatap langit-langit di kamarnya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, tapi kedua mata Dirgantara masih betah terjaga. Entah apa yang tengah mengganggu pikirannya hingga pemuda itu tidak bisa memejamkan matanya.