Wanita paruh baya itu spontan menampar pipi mulus milik Alina. Selama ini, wanita cantik itu tidak pernah mendapatkan kata-kata kasar, apalagi tamparan. Tanpa banyak bicara lagi, Alina langsung pergi meninggalkan sang ibu mertua menuju kamar.
"Alina! Na ...! Aduh, bagaimana ini. Kenapa aku kebablasan memukul anak orang sih? Apalagi dia juga menantu pilihanku. Kenapa akhir-akhir ini aku banyak bicara? Apa karena aku sedang banyak pikiran karena Abimanyu ingin menikahi janda?" gerutu wanita paruh baya itu penuh kebingungan.
"Alina ... apakah Ibu boleh masuk?" tanya sang ibu sambil mengetuk pintu kamar.
"Tidak perlu, Bu. Palingan Ibu akan buat masalah lagi. Mendingan Ibu pulang. Alina ingin sendiri!" teriak wanita cantik itu dari dalam kamar. Sang ibu mertua hanya bisa menghela napas panjang dan kembali ke ruang tamu. Kebetulan ada abang tukang sayur lewat yang langsung dipanggil oleh ibu dari Dirgantara itu. Dia memilih beberapa sayuran dan lauk-pauk untuk dimasak nanti sore. Setelah selesai berbelanja, Nyonya Suyarso membawa barang belanjaan ke dapur dan menyiapkan apa saja yang akan dibuat.
Sekali lagi dia menggeleng. Nyonya Suyarso tidak menyangka kegalauannya membuat petaka pada rumah tangga Dirgantara dan Alina. "Kenapa aku malah membandingkan Alina dengan Tari ya? Kok aku jadi geser begini? Ini pasti gara-gara Abimanyu yang ingin banget menikahi janda anak satu itu. Haduh, masa harus aku juga yang turun tangan mencarikan jodoh. Apa dengan Tari saja ya? Hmm ... tapi apa Abimanyu mau?" gumam Nyonya Suyarso kebingungan. Setelah selesai berpikir dan merenung, wanita paruh baya itu memilih untuk beraktivitas di dapur, membuatkan makanan untuk Dirgantara dan Alina. "Sabar ... sabar ..." ucapnya dalam hati.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Dirgantara sudah memarkirkan motornya di depan rumah dan berjalan masuk mencari istrinya. Dia tidak tahu kalau saat ini sang ibu sedang berada di rumah. Dengan santai, Dirgantara membuka pintu kamar dan hendak mencumbu istrinya yang saat ini tengah berbaring. "Tidak baik loh menjelang surup begini tiduran di dalam kamar. Nanti ada sandikala datang menghantui. Nih, aku bawakan makanan," ucap Dirgantara yang mencium pipi sang istri penuh gemas.
"Mas, jangan neko-neko, nanti ketahuan Ibu akan jadi masalah besar," ucap Alina melirik kesal pada tingkah suaminya. Dirgantara pun terdiam sejenak dan mencerna ucapan dari sang istri. Dirgantara bertanya pada Alina tentang maksud dari ucapannya barusan.
"Dirgantara!!" Belum sempat menjelaskan, panggilan sang ibu sudah mengagetkan Dirgantara.