Alina terkapar tak sadarkan diri. Tidak ada pergerakan dari tubuh mungilnya yang mulai berisi itu. Dirgantara yang baru saja berangkat, tiba-tiba merasa cemas dan khawatir dengan keadaan Alina yang ia tinggalkan begitu saja.
"Hah, astaga. Saking banyaknya pekerjaan dan masalah tentang Ibu, membuat aku dan Alina semakin jauh dan asing. Aku sudah jarang menyentuh dan memperhatikannya," gumamnya di sepanjang perjalanan. Karena hatinya terus gusar dan gelisah, Dirgantara akhirnya berbalik arah menuju rumahnya lagi. Ia ingin meminta maaf pada istrinya tentang sikapnya yang kurang baik akhir-akhir ini.
Sesampainya di rumah, pria gagah berseragam itu mencari-cari keberadaan istrinya yang tak ada di mana pun. "Alina!" panggilnya lagi, tapi tidak ada tanggapan dari wanita manja yang biasanya banyak tanya itu. Langkahnya terhenti saat melihat sang istri jatuh pingsan di antara meja makan. Segera ia menghampiri Alina dan mengangkat tubuh wanita cantik itu menuju sofa.
"Alina! Bangun, Na. Sayang, kamu kenapa? Ayo bangun dong. Maafkan Mas yang akhir-akhir ini terlalu mengabaikanmu hingga tidak tahu kalau kesehatanmu kurang baik. Alina, bangun!" Dirgantara bertambah panik dan kebingungan.
Tidak berapa lama, Alina pun membuka kedua matanya dan menatap sekitar. "Kamu kenapa masih ada di sini, Mas? Bukannya tadi sudah berangkat?" tanya Alina masih dengan wajah sayu.
"Hatiku khawatir, Na. Ternyata kamu pingsan di dekat meja makan. Apakah kamu beberapa hari ini sedang banyak pikiran? Cerita saja sama aku, Na. Jangan sungkan. Maafkan juga Ibu yang sering membuat kamu kesal. Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah sakit? Aku takut terjadi apa-apa padamu." Alina menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau mengikuti saran dari suaminya. Alina memilih tidur dan beristirahat di rumah.
"Ya sudah, aku akan buatkan sesuatu yang hangat," ucap Dirgantara yang langsung beranjak ke belakang membuatkan teh hangat untuk sang istri. Tidak menunggu lama, Dirgantara sudah kembali ke kamar dengan membawa segelas teh hangat dan memberikannya pada Alina yang masih terbaring lemah.
"Kamu pakai parfum apa sih, Mas? Kok baunya tidak enak banget," ucap Alina menahan mual di perutnya.
"Aku pakai parfum yang biasanya, Na. Memangnya kenapa?" tanya Dirgantara bingung. Belum sempat menjelaskan, Alina langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Berulang kali ia menekan perutnya yang terasa nyeri.
"Alina, kamu kenapa, Na? Ayo kita ke dokter atau ke klinik. Aku khawatir," ucap Dirgantara dengan wajah nampak begitu panik. Tapi Alina yang keras kepala menolak keras keinginan suaminya itu.
"Tidak usah, Mas. Aku hanya lelah saja. Aku ingin istirahat. Mendingan kamu berangkat kerja. Bukannya minggu depan kamu ada tugas mengantar barisanmu ke Provinsi A? Jadi, fokus saja ke sana. Tidak usah memikirkan keadaanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri kok," ucap Alina yang kini sudah meringkuk ke dalam selimut.
Dirgantara duduk mendekati istrinya. Ia tidak mau mengikuti perintah Alina. Ia ingin bersama istrinya di asrama. "Tidurlah, aku tidak akan ke mana-mana," tegas Dirgantara yang mulai berganti pakaian.