"Na!!" sapa Dirgantara yang berlari mengikuti langkah sang istri.
"Jangan, Na!" teriak Dirgantara, membuat tetangga sebelah keluar. Mereka bertanya pada Dirgantara dan juga Alina tentang keributan yang terjadi. Alina pun menjawab kalau dirinya ingin suaminya mencurikan mangga milik tetangganya itu. Sejenak sang tetangga terdiam dan saling memandang. Sepertinya mereka paham dengan apa yang barusan dikatakan oleh Alina.
"Oh, istrinya ngidam maling mangga ya, Pak?"
"Hah ... anu ... iya!" jawab Dirgantara asal. Ia tidak mau menambah masalah lagi.
"Oalah, ya sudah, Pak. Silakan dicuri mangganya. Kita tidak lihat kok. Iya kan, Pah?" ucap sang istri yang diangguki suaminya.
"Iya, tidak apa-apa, Pak. Curi saja setiap kepingin," sahut sang suami dari tetangga sebelah dan kembali masuk ke dalam.
Dirgantara dan Alina celingukan saling pandang. "Loh, mau ke mana, Mas?" tanya Alina yang melihat suaminya itu mendekati buah mangga. "Katanya suruh mencuri, mumpung harga diriku masih setengah tiang nih," ketus Dirgantara sedikit kesal. "Tidak jadi, aku sudah tidak kepingin mangga itu lagi. Aku mau mangga yang Mas beli tadi," sahut Alina kembali masuk. Dirgantara benar-benar kebingungan dengan sikap aneh istrinya.
"Terus, bagaimana acara curi-mencurinya, Na!?"
"Tidak jadi!"
"Astaga, mimpi apa aku semalam, bisa-bisanya dibuat malu begini oleh Alina," gerutu Dirgantara yang kembali masuk ke dalam rumah. Ia melihat sang istri mengupas mangga yang masih berwarna hijau. Dengan lahapnya, Alina menyantap potongan-potongan mangga yang ada di hadapannya. Seketika Dirgantara merasa ngilu; ia benar-benar dibuat bingung oleh istrinya itu.
Diam-diam, Dirgantara masuk ke dalam kamar dan menelepon ibunya. Ia ingin menanyakan perubahan Alina yang mengerikan itu. Seketika sang ibu tergelak tiada henti. "Itu namanya ngidam, Dirga. Masa kamu tidak tahu kalau Alina sedang hamil? Coba deh cek, Ibu yakin, Alina hamil, Ga!" sahut sang ibu menyambut senang.
Dirgantara pun menutup panggilannya. Ia berjalan menghampiri istrinya yang saat ini masih duduk di meja makan. "Na, aku mau tanya. Apakah bulan ini kamu telat haid?" tanya Dirgantara sedikit gugup.
"Ehm... kok Mas tahu? Kayaknya Alina telat semingguan," jawab Alina yang membuat Dirgantara tersenyum lebar.
"Sekarang kamu kepingin apa?" tanya Dirgantara penuh semangat.