Diam-diam, Alina mendengar perbincangan suaminya dengan sang atasan. Sejenak Alina terdiam dan menghela napas dalam-dalam. "Apakah benar kamu akan pergi selama setahun? Bukannya pangkatmu itu sudah tidak harus pergi-pergi ke luar daerah, Mas?" ketus Alina saat sang suami mengakhiri panggilannya.
"Bukan begitu, Na. Ini darurat, harus ada yang membimbing dan mengarahkan para prajurit. Aku tidak bisa memilih, Na. Ini adalah pekerjaanku dan aku harus siap menanggung konsekuensinya."
"Sekalipun harus meninggalkan istrinya yang tengah hamil?" sahut Alina yang membuat Dirgantara terdiam sejenak.
"Hah, maafkan aku, Na. Aku akan meminta tolong pada Ayah dan Ibu untuk menjagamu," lirih Dirgantara yang membuat mata Alina berkaca-kaca.
"Terserah kamu, Mas. Intinya aku kecewa," timpal Alina seraya membelakangi suaminya.
"Na ...."
"Sudahlah, Mas. Aku tidak bisa berkata-kata lagi selain mengikhlaskan kamu," tegas Alina yang membuat Dirgantara meneteskan air mata. Hari yang seharusnya membuat keluarga kecil itu bahagia, justru berubah menjadi duka. Alina tidak bisa berbuat apa-apa; ia hanya bisa pasrah merelakan sang suami pergi bertugas. Dirgantara sendiri tidak bisa menahan kesedihannya. Suami yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga hati di saat istrinya sedang hamil, kini harus mengabaikannya sesaat demi tugas negara.
"Besok aku akan berbincang dengan atasan. Aku mohon kita kuat dengan segala keputusan," jelas Dirgantara lagi, namun ia tidak mendapatkan jawaban dari sang istri. Kini pasangan suami istri itu hanya bisa berbaring sambil berpelukan. Keduanya sama-sama tidak punya pilihan. "Kita akan bicarakan ini lagi besok saja, Mas. Semoga besok pagi hatiku sudah tenang," ucap Alina yang diangguki Dirgantara. Keduanya mulai terpejam dan terlelap.
Tiba-tiba Alina merasakan mual yang amat sangat, membuatnya harus segera ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya. Fase ini merupakan hal tersulit yang harus dihadapi oleh Alina, apalagi nanti saat tidak ada Dirgantara di sisinya. Setelah selesai, Alina kembali ke kamar dan melihat suaminya masih terlelap. Dalam diam, ia merenungi perpisahannya nanti. Hingga tak terasa, malam yang panjang berganti pagi.
Seperti biasa, Dirgantara sudah menyiapkan sarapan pagi dan segelas susu untuk sang istri. Entah kenapa pagi ini Alina nampak murung; ia terlihat tidak nafsu makan. "Apakah kita perlu ke dokter kandungan lagi, Na? Wajahmu nampak pucat," Dirgantara terlihat sangat panik dan bingung dengan kondisi sang istri.
"Tidak perlu, Mas. Memang perutku mual, jadi tidak nafsu saja untuk sarapan." Dirgantara langsung berjalan mendekati istrinya dan memeluknya lembut. Ia bertanya tentang makanan yang diinginkan, tetapi Alina tetap menggeleng. Ia benar-benar tidak ingin makan apa pun. Setelah menghela napas panjang, Dirgantara mulai berbincang serius. Ia ingin mengabarkan berita kehamilan ini pada kedua orang tua mereka masing-masing. Bagaimanapun juga, mereka harus tahu kabar gembira itu. Apalagi sebentar lagi Dirgantara akan meninggalkan Alina, sehingga ia ingin para orang tua saling menjaga dan melindungi istrinya.