Jodoh Dadakan Dirgantara

Andiliawati
Chapter #25

Chapter tanpa judul #25

"Ayo istirahat, Na," ajak sang ibu dengan wajah tenang dan ramah.


Alina pun mengangguk dan mulai terpejam. Namun dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan sang suami yang baru saja berangkat. Dirgantara terus meminta tolong pada Alina, sementara ia tak bisa menggapai tangan suaminya. Mimpi buruk itu membuat Alina tersentak bangun. Napasnya tersengal-sengal tidak karuan. Ia tidak tahu apa arti dari mimpinya tersebut.


Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah panggilan darurat dari tempat bertugas Dirgantara memberitahukan bahwa pesawat militer yang ditumpangi puluhan prajurit dan sang Letnan jatuh dan hilang dari radar. Sejenak Alina tidak bisa berkata-kata. Ia mematung tanpa kata, hanya bengong menatap jam dinding yang tengah berputar.


"Apakah aku bermimpi? Apakah aku masih di alam mimpi? Ibu! Ibu!" Teriakan Alina membuat sang ibu kaget dan bergegas menuju kamar putrinya.


Wanita paruh baya itu memeluk Alina dan berusaha menenangkannya. Perlahan-lahannya ia bertanya tentang kepanikan itu. Dengan suara tergagap, Alina menjelaskan bahwa pesawat militer yang ditumpangi suaminya jatuh dan belum diketahui titik koordinatnya.


Seketika sang ibu lemas tak berdaya. Dunia mereka seperti berputar seratus delapan puluh derajat. Keduanya mulai mengatur napas dan menangis sesenggukan. Suara gaduh dan isak tangis di kamar itu membuat Pak Joko masuk untuk memeriksa. Ia terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Sang istri segera berdiri dan menuntun suaminya keluar dari kamar. Dengan suara pelan, ia memberitahukan kabar duka itu pada Pak Joko. Kepala desa itu tertegun, lalu ambruk di atas sofa.


"Apa yang kamu katakan ini benar, Bu?" tanya Pak Joko panik dan gelisah.


"Menurut Alina begitu. Tadi pihak kesatuan memberikan kabar ini," jawab sang ibu yang membuat Pak Joko segera bersiap-siap.


"Kamu mau ke mana, Yah?" tanya sang istri melihat suaminya hendak pergi.


"Aku akan mencari tahu!" jawab Pak Joko yang kemudian pergi meninggalkan rumah.


Wilujeng benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Ia takut akan keadaan putrinya yang tengah hamil muda. Ia tidak ingin kesehatan fisik maupun mental Alina terganggu. Segera wanita paruh baya itu kembali ke kamar Alina. Ia memeluk erat putrinya yang masih menangis tak percaya. Tidak lama, ponsel Alina kembali berdering. Kali ini panggilan dari ibu mertuanya. Alina yakin ibu mertuanya juga akan menyampaikan kabar duka yang sama, sehingga ia memilih untuk tidak menjawabnya.

Lihat selengkapnya