Dengan tertatih-tatih, wanita itu menghampiri seseorang yang tampak lemah dan penuh luka. "Ya ampun, Mas. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya wanita hamil itu mencoba membantu sang pria keluar dari semak belukar.
"Saya ada di mana ini?" tanya pemuda itu dengan suara parau, sementara darah masih mengucur di beberapa bagian tubuhnya. Wanita manis berkulit sawo matang itu hanya menggelengkan kepala; ia tidak ingin membuang waktu menjawab pertanyaan pria itu sekarang. Baginya, keselamatan nyawa pria ini adalah prioritas. Tak jauh dari tempat mereka berada, terlihat gubuk-gubuk kecil pemukiman warga yang terasing.
"Masuk dan duduklah. Aku akan merebus air untuk membersihkan luka-lukamu. Di sini jauh dari pusat kesehatan, jadi tolong bersabar ya," ucap wanita hamil itu lembut. Segera, wanita bernama Ana itu menyalakan api untuk merebus air.
"Siapa dia, Ana?" tanya wanita paruh baya yang merupakan ibu Ana. Ia menatap bingung pada pemuda berseragam loreng yang kini penuh noda tanah dan darah.
"Kelihatannya dia korban kecelakaan pesawat, Bu. Ana menemukannya di antara semak-semak. Tadi Ana sempat mendengar suara ledakan dan melihat serpihan pesawat beterbangan di mana-mana," jawab Ana sambil sibuk mengurus panci di atas tungku.
Tak lama kemudian, air hangat pun siap. Sang pemuda meringis kesakitan menahan perih saat kulitnya yang koyak bersentuhan dengan kain basah. Dengan sangat telaten, Ana membersihkan luka-luka yang lumayan parah itu. "Sssttt ... sakit," rintih pemuda itu. Ana tidak menjawab; ia benar-benar fokus memastikan tidak ada infeksi pada luka tersebut.
Setelah dua jam merawat luka-lukanya, Ana menyiapkan semangkuk bubur hangat. "Makanlah, aku sudah membuatkan bubur untukmu. Sini, aku suapi," ucap Ana penuh perhatian.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Ana di sela-sela suapannya.
"Tara," jawab pemuda itu singkat namun tegas.