Ana merintih kesakitan saat mulai menjajakan kue basah buatan ibunya. Sesekali dia meringis menahan nyeri pada perutnya. "Kenapa dengan perutku? Padahal aku tidak salah makan," lirih Ana mencoba beristirahat.
Wanita manis itu mencoba mengatur napasnya dan mengelap keringat pada dahinya. Setelah sejenak beristirahat, Ana terpaksa kembali pulang dengan membawa beberapa kue basah yang masih belum laku terjual. Entah kenapa hari ini perutnya benar-benar sakit. "Loh, Ana," sapa sang ibu yang langsung menghampiri wanita manis itu. Sambil meringis kesakitan, Ana meraih kursi dan mulai duduk. "Perut Ana sakit, Bu. Tidak tahu, kok tiba-tiba sakit sekali," keluh Ana sambil mengusap lembut perutnya.
Mendengar suara gaduh itu membuat Tara yang terluka berusaha bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke depan untuk melihat. "Ada apa ini?" tanya Tara terlihat heran. Ibu dari Ana menjelaskan pada Tara kalau putrinya itu sedang sakit perut. "Kenapa tidak dibawa ke klinik kesehatan saja, Bu?" tanya Tara yang ditanggapi gelengan kepala oleh sang ibu. Wanita paruh baya itu mengatakan kalau tidak ada tempat kesehatan di kampung terpencilnya.
"Yang ada dukun beranak, Nak Tara. Kami mempercayakan semuanya pada dukun kampung," jelas sang ibu yang membuat pemuda itu menghela napas berat. Kini, Tara duduk menatap sedih dan tak tega pada Ana yang terus-menerus memegangi perutnya. "Apakah di sini benar-benar tidak ada fasilitas kesehatan?" tegas Tara kembali bertanya. Ana dan ibunya menggeleng. "Terus, kalau mau ke pasar untuk berbelanja?" tanya Tara kembali. "Yah, kita harus menunggu kapal sayur berlabuh, Nak. Itu pun dua minggu sekali. Kalau kita ingin pergi ke kota, harus menunggu kapal sayur itu datang dan menumpangnya," sahut wanita paruh baya itu, semakin membuat Tara tidak habis pikir.
Sementara di kediaman Alina, semua tengah dirundung kesedihan. Pesawat yang ditumpangi oleh Dirgantara jatuh dan hilang entah ke mana. Pihak kesatuan dan tim SAR terus menyusuri hutan dan sekitar pantai yang menjadi titik jatuhnya pesawat. Namun, tidak ada tanda-tanda patahan pesawat di sekitar lokasi. Alina benar-benar terpuruk, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita cantik yang biasanya ceria dan bahagia itu nampak murung dan melamun.
"Ini semua gara-gara kami, Alina! Coba saja kamu ikhlas saat suamimu pergi bertugas, pasti semua ini tidak akan terjadi!" teriak sang ibu mertua pada Alina yang saat ini tidak berdaya. Mendengar celotehan menyakitkan dari besannya, Wilujeng pun langsung berdiri dan mematahkan tuduhan wanita paruh baya itu pada putrinya. "Semua ini sudah takdir, Mbakyu! Bukan salah Alina. Di sini Alinalah yang paling sedih, dia butuh dukungan dan pelukan, bukan celotehan yang tidak berguna dari Mbakyu ini!" bentak Wilujeng pada besannya yang terus memojokkan Alina.
"Siapa yang memojokkan Alina, Dek! Aku cuma mau bilang, jadikan ini sebagai pelajaran. Kalau suami bertugas, ikhlaskan. Jangan ditahan-tahan, karena pamali, Dek! Sejak Dirgantara sekolah hingga bertugas, aku tidak pernah menghalanginya, justru mendoakan dan mengikhlaskan!" jawab ibu dari Dirgantara tersebut.
"Iya, tapi sikap Alina wajar dong, Mbakyu, kalau merengek, karena dia sedang hamil muda dan masih hangat-hangatnya menjadi pengantin baru," ketus Wilujeng.