"Jahat! Jahat kamu, Renol ..." tudingan dan teriakan Intan di tepian pinggiran sisi kanan jalan serasa tidak digubris menghiraukan pada pengendara mobil dan motor yang melintas.
Sudah sembab penuh derain air mata kesedihan dan penyesalan Intan, kenapa mudah dirinya memberikan kehormatannya pada Renol, yang tetap pada pendiriannya bila dirinya tidak akan menikahi Intan. Padahal apa yang mereka berdua lakukan adalah komiten dosa besar sekali.
"Selama ini, aku begitu setianya dengan perjalanan cinta kita. Segalanya telah aku berikan, sampai kehormatanku, yang selama ini aku jaga-jaga kuberikan padamu, Renol! Barangkali saja setelah aku hamil, akan ada restu terbuka dari Mamimu? Setelah semua itu aku berikan padamu, Renol dengan cinta setia penuh ketulusan ini, kini kau bayar dengan kedustaanu, Renol ..." makin sedih, makin meratapi sesalnya Intan terduduk ditepian jalan.
Masih terus menangis sedih berharap balas kasihan Renol, dimana Intan masih berharap pada Renol masih mau membuka hatinya yang keras bagai batu kerang dipesisir tepian pantai itu.
"Walau hempasan gelombang lautan ketika terus menghempas relung hatiku ini, tidak mudahnya aku goyah untuk memberikan kehormatanku padamu, Renol. Tapi gelombang dasyat menghempaskan rayuanmu, sampai bisa meluluh lantakan kerasnya aku menjaga kehormatanku ini hanya untukmu, Renol. Tapi sekarang kenapa kamu seperti gelombang lautan yang sedang tenang, seakan kamu tidak mau lagi mengetuk relung hati ini yang semakin ingin berharap, bila aku segara di ajakmu keatas perahu cinta untuk mengarungi lautan samudara lauatan luas itu, Renol," perlahan Renol membungkuk dua tangannya meraih dua tangan Intan hatinya mulai terumbar tersenyum, mungkin saja dengan segudang alibi dan tudinganya membuat hatinya Renol terbuka.
"Aku tetap mencintaimu, aku akan tetap membawamu dalam perahu cinta itu, Intan. Kita akan mengarungi lautan samudra luas dan aku akan selalu ada untuk menjadi bagian dalam sanubari hatimu. Tapi maaf, Intan. Aku tidak mau ada bayi yang sedang dikandungmu itu," benar saja derain air mata makin tidak terbendung, yang tadinya dalam pikiran Intan bila Renol mau mengajak dirinya mengarungi samudar lautan bersama, tapi hanya mereka berdua. Dimana Renol tegas tidak ingin bersama bayi yang sedang dikandung Intan.
"Hahhh ..." teriak Intan sambil mendorong Renol mundur berapa langkah kebelakang, sontak Renol akan memeluk Intan malahan didorong mundur lagi kebelakang.
"Kamu jahat sekali, Renol! Kamu campakan cinta tulusku ini! Seakan-akan kamu tidak punya hati nurani dengan bayi yang sedang aku kandung sekarang ini! Jelas-jelas bayi ini, adalah anakmu! Menyesal aku Renol telah melepaskan kehormatan ini hanya untukmu. Awalnya aku pikir Mamimu mau menerimaku setelah kehamilan ini. Tapi nyata sekarang kamu beralasan tidak ingin adanya bayi ini! Sedih, sedih aku Renol. Aku sebegitu mudahnya kau campakan aku, setelah cinta tulus ini kau nikmati" semakin tidak berdaya dengan segala permohonan hatinya Intan pada Renol yang kekeh hatinya keras bagai batu karang ditepain pantai.
"Renol!" baru saja Renol akan mendekati Intan juga ikut melirik kebelakang terdengar suara panggilan seroang wanita dari dalam mobil bmw berwarna putih limited edition, tentu keluaran terbaru.
"Sudah berapa kali, Mami kasih tahu kamu?! Mami itu tidak suka kalau kau masih berhubungan dengan gadis itu!" sombong dan sinisnya raut wajah ketidak sukaan Lilis Atmaja, janda cantik pengusaha sukses di Kota Bandung.
Berbalik perlahan Intan, tahu siapa wanita sombong berwajahkan sinis menatap dirinya. Lilis masih duduk dibelakang kemudi setir mobilnya, seraya makin sombong dan angkuh mana mau Lilis turun untuk sekedar menyapa Intan.
"Tante ini?" tidak jadi Renol akan mendekati sisi kiri pintu mobil, cepat di sela Intan sambil tunjukan perutnya yang terbungkus jumpusit putih tanpa berkerudung dengan sepatu teplek berwarna hitam. Apa yang di tunjukan Intan dengan masih menepuk-nepuk perutnya dengan tangan kanannya, tidak lantas menyiratkan perasaan prihatin pada wajahnya Lilis.
"Saya, saya hamil Tente. Hamil anaknya, Renol!" berusaha memohon sambil menundukan setengah tubuhnya Intan disamping sisi kiri pintu mobil, tapi tetap saja tidak bergeming dan mau turun barang kali Lilis ada rasa kasihan pada Intan ingin memberitahukan bila bayi yang di kandungnya adalah calon cucunya.
"Renol kamu cepat pulang dan bawa mobilmu itu!" dua matanya mendelik melotot sambil telunjuk kiri tangannya Lilis menunjuk Renol malahan melirik mobilnya yang ada di belakang mobil bmw putih miliknya Lilis, Maminya.
"Renol!" bentak lagi Lilis kesal turun dari mobil menghampiri Renol masih berdiri terpaku, pastinya bila dirinya masuk kedalam mobil dan pastinya dirinya tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Intan.
"Cepat kamu pulang!" bentak kesal Lilis mendorong Renol berjalan sesaat berhenti, lalu wajahnya menatap sedih penuh sesal wajahnya Intan yang tidak mau di tinggalkan dirinya.