Walau kesomobongan Lilis dengan tatapan sinis dua matanya terus memandangi Intan berjalan lemas dihadapan dirinya, tapi dalam benaknya masih ada rasa kasihan juga pada Intan.
Bergaya modern dengan setelan pakaiannya yang di kenakan siang itu, setelan blazer court atas putih dengan celana panjang hitam katun, tentu dengan perhiasan emas menghiasi leher, pergelangan tangan dan jari-jemari tangannya Lilis.
Lihat saja potongan gaya style rambutnya dengan model bob medium dengan poni, makin terlihat cantik wajahnya Lilis dengan setuhan halus make'up mahal.
"Tunggu Intan!" panggil Lilis lagi cepat menghampiri Intan hanya berjalan terus, pastinya panggilan Lilis cuman ingin menunjukan kesombongan dirinya hanya untuk membayar kehormatan dan ketulusan cintanya dengan selembar cek.
"Intan!" sekali lagi panggilan halus Lilis memanggil dirinya sempai terhenti langkahnya, tapi pastinya Intan tidak mau berbalik menatap wajah kesombongan Lilis. Pastinya hanya keangkuhan dan kesomobongan Lilis, tentu tidak bisa mengurai kesedihan Intan yang semakin pilu di rasakannya.
Rerimbunan dedaunan bergerak kecil ketika terhempas semilir angin begitu juga hembusan angin kecill mengulik sedikit menggelitik wajah dan rambutnya Intan sedikit menari bergerak.
Dua matanya masih merona berkaca-kaca memerah, tanda kesedihan masih menggelayuti dirinya. Sinar kecil colekan matahari masih berani-berani mencolek wajah kesedihan Intan, lirikan mata kirinya melirik kesamping bawah terlihat sepatu hak tinggi warna hitam tapi haknya tidak terlalu tinggi mulai terlihat maju kehadapannya.
"Saya juga sama pernah merasakan mengandung Renol dalam rahim ini, Intan. Naluri saya sebagai wanita yang pernah hamil dan mengandung, mungkin sama seperti apa yang sedang kamu rasakan sekarang ini. Tapi saya hanya mau kamu pergi meninggalkan Renol sekarang dan selamanya. Itu mau saya dan Renol, Intan." benar saja pikiran Intan tidak bisa berharap banyak, yang alih-alih dirinya sudah berhenti berjalan ketika dipanggil Lilis.
Mungkin secuil harapan Intan pada Lilis bisa menerima dirinya dan bayi yang sedang dikandung dalam rahim bisa sedikit menyisihkan kesedihannya, tapi semua itu semakin kandas lagi ketika Lilis lagi-lagi meminta dirinya harus pergi meninggalkan Renol.
"Naluri yang sama, yang sama di rasakan wanita yang pernah hamil dan mengandung bayi dalam rahimnya. Pastinya wanita itu sangat sayang sekali dan membutuhkan belaian kasih sayang, dari pengisi benih janin yang di tanamnya, yaitu lelaki yang di cintainya. Tapi lelaki itu yang dicintai itu, lelaki yang telah mengisi buah cinta janin dalam perut ini seakan di suruhnya semakin pergi menjauh. Sekiranya Tante mau agar saya pergi meninggalkan Renol? Saya akan pergi, Tante. Tapi naluri saya sebagai seorang wanita, tidak akan mudah untuk meniadakan janin dan calon bayi yang sedang saya kandung ini!" awalnya pelan tapi beraninya Intan menunjuk wajah Lilis yang seraya hilang dirinya sebagai wanita terhormat, yang mengaku pernah hamil dan mengandung.
"Maaf'kan Tante, Intan. Tante tidak bisa mengatakan kenapa Tante keras kepala sekali melarang hubungan kamu dengan Renol. Sampai Tante tidak menginginkan bayi yang kamu kandung itu sampai lahir," luruhnya kesomobongan Lilis spontan memeluk Intan makin bingung.
Tapi tanpa sepengetahuan Intan, tangan kanan Lilis menyelipkan selembar cek kedalam saku celana terusan jumpsuitnya Intan.
"Suatu saat kamu akan tahu, kenapa Tante sampai melarang kamu dengan Renol," makin bingung Intan saat pelukan hangat sesaat Lilis melepaskan dirinya dan Lilis cepat naik mobil dan sudah duduk di belakang kemudi setir.
"Tapi, bila kamu setia dan masih mau menunggu Renol? Tunggu'lah Renol dan rawat'lah bayi itu, Intan." kata Lilis tersenyum sedih seperti ada yang di sembunyikan dalam dirinya tentang Renol.
Mobil berjalan cepat meninggalkan Intan sesaat dirinya masih berdiri pada tepian jalan, seraya dirinya masih mengingat betul dengan apa yang baru didengar itu dari mulut Lilis.
Intan kembali berjalan berpayung rerimbunan dedaunan, lihat saja colekan nakal sinar matahari masih menjilat wajahnya. Hatinya semakin resah tersirat didua matanya masih berkaca-kaca sedih, ada perasaan berat dirinya untuk tidak kembali pulang kerumah.
Pasti hanya kesedihan bakalan terus mendesak dirinya untuk mengakui siapa yang telah menabur aib padanya ketika Intan sampai dirumah.