"Ya Allah, ampunkanlah aku. Kenapa bodohnya aku sampai berbuat dosa. Semakin banyak dosa yang aku perbuat, semakin murkanya Kau padaku, Ya Allah" sedih penuh kesal dua tangan Intan terus memukuli perutnya masih terduduk membelakangi Firman sedikit mengenali suara isak tangisan itu.
"Mbak tidak apa-apa?" sedikit lega tergambar pada wajah Firman sambil bertanya tapi hatinya makin mendengar tahu siapa orang yang sedang bersedih itu.
"Aah Firman?" sambil menoleh sahut Intan rada takut.
"Intan?" sontak Firman terkejut cepat menarik dua tangan Intan berdiri. Sesaat bingung Firman perhatikan wajah kesedihan Intan di tariknya ketepian jalan, untung saja nyawa Intan masih bisa terselamatkan dengan berhentinya mendadak mobilnya Firman cepat mengerem mendadak.
"Tolong, tolong aku, Aah Firman?" rasa risih refleks dipeluk Intan makin erat pelukannya, tentu makin risih Firman ingin melepaskan pelukannya Intan malahan menangis tersedu-sedu.
"Intan, Intan?" berapa kali dua tangan Firman ingin mendorong pelan pelukan Intan malahan semakin kencang sekali pelakukannya, serasa Intan ada kenyamanan dalam memeluk lelaki tampan yang notabendnya adalah kekasihnya Salwa, Tetehnya itu.
"Aku tidak mau pulang, Aah. Pasti Teteh sama Abah marah samaku," makin bingung Firman tersirat pada wajahnya, tapi kali ini tangannya makin tidak tega untuk mendorong Intan masih berkubang dalam kesedihan penuh dosa.
"Saya makin tidak mengerti? Kamu kenapa, Intan?" penasaran Firman bertanya sambil tetap perhatikan wajah Intan masih sedih dan pelan-pelan dua tangannya di lepaskan tidak lagi memeluk Firman.
"Pasti Teteh sama Abah bakalan marah besar samaku, Aah?" makin bingung lagi Firman dengan jawaban Intan sandarkan bagian belakang dirinya sedikit menempel pada kap mesin mobil.
Makin bingung Firman perhatikan sisa tangisan pada wajahnya Intan yang tidak berkerudung itu. Firman selama ini mengenal Intan memang sangat berbeda sekali dengan Salwa, bila selama ini Intan sangat bebas pergaulaunnya.
Tidak jarang Firman dan Salwa sering menasehati dirinya, karena Intan salah satu anak orang yang paling disegani dan dihormati, di kampunganya. Karena Kyai Abdulah, adalah pendiri Pesantren Al Nur Iman.
"Kesal! Kesal aku, Aah!" lagi- lagi dua tangan Intan memukul perutnya lagi sontak ditahan dua tangan Firman sambil menatap wajah kesedihan Intan.
"Aku menyesal, Aah. Aku tidak mendengar nasehat Aah Firman dan Teteh," sebentar Firman berpikir sambil tangan kanannya menggaruk kening wajah sampai berkerinyit ikut berpikir dalam.
"Apa yang terjadi dengan kamu, Intan?" tanya balik Firman makin penasaran perhatikan perut Intan kembali bersedih lagi. Untung saja jalan siang itu sepi sekali, tidak ada lalu lalang kendaraan yang biasanya sangat ramai sekali.
" Aku hamil!" baru mengakui Intan akan memukul lagi perutnya di tahan Firman.
"Brug ..." berapa kali dua tangannya Intan memukul perutnya sendiri.
"Intan!" dua tangan Firman menarik seolah-olah melerai dua tangan Intan kembali ingin memukul perutnya lagi karena semakin marah.
"Tidak sebaiknya kamu salahkan apa yang sedang kamu kandung dalam rahimmu itu, Intan. Bayi yang sedang kamu kandung itu, dia tidaklah bersalah. Allah akan sangat murka bila kesempatan bayi itu ingin hidup malahan kamu sakiti. Sekarang lebih baik saya antarkan kamu pulang saja!" kesal Firman menarik tangan Intan sontak di hentakannya.
"Aku tidak mau pulang, Aah! Pasti Teteh sama Abah akan marah samaku!" tidak mau Intan masuk kedalam mobil, saat pintu sisi kiri mobil sudah di bukakan tangan kirinya Firman.
"Saya, tahu betapa bijak dan aripnya Abahmu, Intan. Apalagi Tetehmu, mereka berdua pasti tidak akan memarahi dengan kondisi kamu sekarang. Yang penting ada kejujuran dan kamu mau mengakui kesalahan yang sudah kamu perbuat itu," dengan halus nasehat Firman seraya mengajak Intan agar cepat masuk kedalam mobil dan dirinya akan segera mengantarkan pulang Intan.
"Loh, Firman kamu masih disini?" mobil pw combi kodok warna hijau muda sudah berhenti disamping Firman dan Intan sempat melirik kearah Dila dan Bagyo duduk dibelakang kemudi setir mobil.
Intan lalu masuk kedalam mobil dan duduk disisi jok kiri samping kemudi setir mobil. Sedangkan Firman cepat menghampiri Dila, yang duduk disisi jok kiri.
"Ambu, saya mungkin tekat datang nemuin calon client baru kita. Jadi saya mohon dengan sangat, Ambu dan Abah saja yang nemuin dulu. Saya mau mengantarkan Intan dulu pulang kerumahnya. Kasihan Intan." mohon Firman melirik Intan dan sempat Bagyo menunduk untuk melirik Intan hanya terdiam saja.