"Uuhhhh ... Bikin malu kamu, Intan!" kesal Salwa ingin memukul wajahnya Intan cepat ditahan tangan kanannya Firman.
"Sudah berkali-kali Teteh nasehatin kamu, Intan! Agar tidak berteman dengan, Renol! Kalau sudah begini, sama saja kamu menebar abu membuat mata Teteh buta! Dan kamu sudah menebar aib!" makin tidak terkontrol tudingan Salwa melirik kedepan pintu seperti ada santriwati sedang menguping.
"Haiii siapa kamu! Tunggu kamu jangan lari! Berhenti!" benar saja Mumun salah satu santriwati sedang menguping dan sudah berlari meninggalkan Salwa menahan emosinya.
"Pasti Mumun akan memberitahukan pada yang lainnya! Uhhhh!" menahan kesal Salwa menghampiri lagi Intan cuman terduduk pasrah saja.
"Salwa, sudah Salwa. Kamu jangan terus-terusan juga menyalahi Intan. Intan hanya korban kebiadaban Renol saja," maunya Firman agar Intan jangan memarahi dan menyalahkan Intan terus. Tapi tetap saja Salwa makin kesal, pastinya Mukun bakalan menyebarkan pada santriwati dengan barusan apa yang di dengarnya.
"Pastinya Abah akan sangat kecewa sekali Intan, kalau dia tahu kamu hamil diluar nikah. Sedangk'kan Renol saja tidak mau bertanggung jawab dengan bayi yang sedang kamu kandung itu!" makin tidak amarah Salwa terus menyalahkan Intan.
"Geregetan Teteh sama kamu, Intan! Biar Teteh cari Renol! Walau sampai keujung dunia manapun, tetap Teteh akan cari Renol untuk pertanggungkan perbuatannya!" terduduk kesal Salwa berhadapan Intan tidak berani melihat masih murkanya wajahnya Salwa.
"Sudah Salwa, kamu jangan emosi begitu. Kasihan Intan. Sekarang ini bagaiman kita harus memikirkan jabang bayi yang ada di kandungannya itu. Walau bagaimana, bayi itu tidak boleh di salahkan. Karena bayi yang sedang dikandung dalam rahimnya, Intan adalah titipan Allah," terdiam Salwa mendengar bijaknya uraian nasehat dari Firman terduduk di sampingnya seraya menenangkan Salwa.
"Tapi walau bagaimanapun Renol harus bertanggung jawab, Fir. Kasihan bayi itu kalau dia lahir bila sampai tidak ada Ayahnya?" makin sebal Salwa tidak mau melirik Intan berusaha untuk menahan sedihnya.
"Iya, iya saya tahu itu, Salwa. Tapi sekarang ini kamu harus tetap tenang dan bagaimana biar Abahmu juga tidak kaget dan mau menerima kenyataan ini," lagi-lagi Firman mencoba menyelamai perasaan Salwa yang masih dibakar api kemurkaanya karena perbuatan Intan.
Intan beranjak bangun dari duduk dan seketika dirinya duduk seraya bersujud didepan Salwa lantas bingung saat kedua tangannya ditarik tangan Intan dan memukul wajahnya sendiri.
"Maaf'kan aku, Teh. Aku bersalah, pantas aku harus dipukuli bertubi-tubi dengan dua tangan, Teteh," makin sedih bersalah Intan.
"Plak, plak ..." semakin dua tangan Salwa memukul wajahnya Intan sampai terdengar suara tamparan kiri kanan pipinya.
"Intan! Intan apa-apaan kamu!" sontak dua tangan Salwa di hentakan lalu mendorong jatuh Intan tersungkur kelantai.
"Begitu senistanya aku, Teh. Sampai Teteh menyalahkanku karena kehamilan ini. Sebegitu murkanya Teteh dengan aku, sampai Teteh tidak mau memaafkanku. Padahal bayi ini, bayi titipan Allah," sedih merasa pasrah Intan beranjak bangun, Firman melirik Salwa mulai luruh hatinya.
"Intan" kini berbalik sedih Salwa memeluk Intan terpancing sedih.
"Teteh, harus cari Renol. Biar dia bertanggung jawab atas perbuatannya ini," tidak sekali sapuan hangat telapak tangan kanan Salwa mendarat mengelus seraya menyeka air mata kesedihan Intan terus semakin tidak terbendung air matanya.
"Tidak, Teh. Biarkan saja Renol pergi, biarkan dia pergi dan biarkan dia lenyap tertelan bumi ini," dua pasang mata saling menatap sedih, teruntai rasa keputus asaan tersirat di wajahnya Intan. Serasa dirinya tidak ingin lagi mendengar nama Renol, lelaki yang tidak bertanggung jawab telah menghamili dirinya.