Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #7

Geger

Penuh senyuman selalu terlempar dari setiap wajah-wajah cantik berbalut aneka macam warna hijab, ketika berpapasan dengan Kyai Abdulah, yang selalu dipanggil Abah itu selalu menebar senyuman ramahnya.

Wajah tuanya, makin tidak di pedulikan seraya dua langkah jalannya penuh kepastian bila dirinya akan menebar ilmu agama pada setiap jaring hati sanubari santriwati didikannya.

Lirikan senyuman kedua mata Kyai Abdulah selalu terasa hangat ketika melihat santriwati begitu khusuknya menerima bimbingan pelajaran dari setiap guru yang sedang mengajarinya pada setiap kelas.

Betapa bangga dirinya Kyai Abdulah hatinya tersentuh ketika mendengar seluruh santriwatinya, yang sebegitu halus dan merdu ketika sedang membacakan lantunan Ayat-ayat Suci Alquran, terdengar dari luar kelas secara serempak.

Tentu semakin terharu hati Kyai Abdulah mendengarnya, serasa dirinya semakin dekat dengan Allah dan tidak sedikitpun dirinya akan beranjak pergi dariNya.

Tapi hatinya tetap tidak di bohonginya, ketika Kyai Abdulah berdiri didepan kelas setengah dirinya terlihat berdiri dari balik jendela dalam kelas. Tampak raut wajahnya makin menua, kepalanya terbalut dengan songkok putih dengan tubuhnya terbalut baju koko putih dan kain sarung warna hijau tua motip kotak-kotak membalut setengah bagian tubuh bawahnya serta sandal lepit berwarna hitam. Terus sejak dari tadi tangan kanannya selalu melintir tasbih dengan mulutnya terus melantunkan kebesaran lafal Allah.

Ada rasa yang tidak bisa dibohongi dalam hatinya Kyai Abdulah, pastinya dalam benaknya bila impianya selama ini ingin sekali memiliki anak gadis yang mempunyai ahlak beragama yang taat.

Tentu saja selama ini bertolak belakang dengan apa yang sekarang ini dihadapai Kyai Abdulah, bila dirinya selalu mneyirami segudang ilmu rohani dan ahlak pada santriwatinya, tapi disisi lainnya dirinya malahan tidak bisa mendidik Intan, anak gadis yang kehidupannya sangat jauh di luar dari ahlak agama.

Rasa berat langkah jalan Kyai Abdulah berjalan, serasa lantunan Ayat-ayat Suci Alquran masih terdengar tidak mau beranjak pergi dari dua kupingnya, walau dua langkah kakinya telah mengajaknya pergi.

"Ya Allah, maaf'kan hambamu ini. Bila hamba tidak bisa mendidik anak hamba sendiri, yang kenyataannya anak hamba sangat berbeda sekali dengan santriwati yang sebegitu inginnya mereka menjadi muslimah yang mempunyai ahlak dan pedoman hidup yang tegas dalam Islamnya," guman dalam hati Kyai Abdulah terus berjalan susuri lorong depan kelas, yang disamping kanannya terhampar halaman sangat luas dengan terlihat langsung lereng perbukitan hijau Gunung Burangrang.

"Tidak mungkin, Mun? Kamu jangan menebar fitnah, karean itu dosa?!" tidak percaya Ayla membantah fitnahan Mumun berdiri didepan kelas, kebetulan siang itu guru sedang keluar sebentar.

"Sumpah! Tadi saya benar mendengar sendiri, kalau Intan itu memang sedang hamil!" tandas Mumun semakin menegaskan dengan apa yang tadi didengar adalah kebenaran fakta dan bukan sekedar fitnah saja.

Sontak semua santriwati dan Ayla terpancing mulai banyak bertanya. "Tapi mana mungkin, Mun? Intan itu'kan anaknya Kyai Abdulah, pendiri Pesantren ini?" balik tanya Ayla berajak bangun lalu menghampiri Mumun malahan duduk songong dikursi guru.

"Benar teman-teman, tadi saya jelas-jelas mendegarnya sendiri. Kalau Intan itu sedang hamil oleh pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab," lagi-lagi mulut Mumun mempertegas pada santriwati terpancing beranjak bangun mendekati Mumun, semua santriwati makin ingin tahu tentang kebenaran ceritanya Mumun.

"Mumun! Kamu jangan fitnah dong! Kamu salah dengar kali?" bantah Ayla menyela kerumunan santriwati berdiri deoan Mumun duduknya makin songong, mereka semakin penasaran.

"Saya tidak suudzon atau sedang memfitnah Intan, anaknya Kyai Abdulah. Kalian semua'kan tahu bagaiman Intan? Lihat saja cara berpakaian dia. Dia begitu seksi dan selalu ketat'kan pakaiannya? Padahal Intan itu anaknya, Kyai Abdulah pendiri pesantren ini. Saya jadi malas buat nyatren disini kalau nyatanya saja Kyai Abdulah tidak bisa mendidiknya anaknya," lihat saja mulut dan wajahnya Mumun begitu sinis dan menebar kebencian seraya menebar gibah akan ketidak sukaan dirinya.

Sontak semua santriwati terpancing mereka saling melirik kasak-kusuk dan membicarakan tentang Intan, bila memang benar selama mereka nyatren. Mereka sering melihat Intan, selalu pulang malam diam-diam dan berpakaian seksi ketat serta sering mabuk.

Lihat selengkapnya