"Teman-teman ...? Apakah kalian terus mau nyantren disini terus ...? Lihat saja Abah, Kyai Abdulah Pendiri Pesantren Al Nur Iman ini? Abah selalu mengajarkan kita harus punya kridibilitas jelas jadi santriwati, yang memiliki ahlak dan iman tentunya kita semua harus menjadi muslimah yang di inginkannya ... Tapi? Tapi kenapa semua yang di ajarkan Abah justru bertolak belakang dengan dirinya sebagai seorang Abah. Abah, sudah gagal mendidik anaknya sendiri ...! Kenapa Intan bisa hamil diluar nikah, Abah?!" mengebu-gebu teriakan Mumun seraya memancing kemarahan Kyai Abudulah hanya diam terduduk senyum.
"Mumun ...!" halus tuding Mumun, seraya mulutnya makin menebar kebencian pada Kyai Abdulah lalu beranjak bangun hanya berdiri terdiam saja, yang sontak akan derai Ayla.
Hanya senyuman bijaksana terpancar dari raut wajah Kyai Abdulah seraya tangan kanannya melerai Ayla menghentikan kemarahan tebar kebencian mulutnya Mumun.
"Apa kalian masih mau nyatren disini? Sementara Intan, anaknya pendiri pesantren ini sedang hamil tanpa lelaki yang jelas?! Abah boleh membenci saya, tapi Abah tidak malu dengan Intan, anak Abah sendiri! Selama ini kami semua disini, segitu hausnya ingin sekali meneguk siraman rohani agar kami bisa menajdi wanita muslimah yang baik dan memiliki ahlak yang baik. Tapi semua itu malahan percuma saja, Abah! Dan semua malahan bertolak belakang dengan didikan Abah pada kami-kami ...!" sindrian telak dari mulut Mumun, makin terdiam Kyai Abdulah kini hanya terduduk rasanya tiak berdaya lagi dengan merdunya penuh kebencian mulut dan wajahnya Mumun meliriknya.
"Teng ... Teng ..." dua kali lonceng terdengar tandanya waktu istirahat, semua santriwati lalu beranjak jalan keluar dari dalam kelas.
Tangan kanan Alya menarik Mumun, rasanya mulutnya masih belum puas ingin lagi mengungkapkan rasa kebenciannya pada Kyai Abdulah masih terduduk di kursinya.
"Semua yang Abah berikan pada saya dan santriwati lainya itu semua bertolak belakang. Abah telah gagal jadi seorang tua dan Abah telah gagal jadi Pendiri Pesantren ini! Mungkin saja cita-cita almarhumah Ambu Ane semakin tercoreng dengan sikap anaknya saat ini yang hamil diluar nikah tanpa lelaki yang jelas! Mungkin almarhumah Ambu Ane saat ini sedang sedih, melihat Abah sudah gagal mewujudkan impiannya dengan Pesantren yang dulu pernah di rintisnya ini!" semakin sinis tatapan dua mata Mumun masih belum puasnya mulutnya menuding, semakin di tariknya keluar kelas oleh Alya.
Wajah tua makin mengeriput, makin jadi petanda bila Kyai Abdulah memang semakin tua, tapi dirinya harus tetap bijaksana untuk menghadapi setiap masalah.
Ada rasa sesal dalam hatinya dengan semua kebencian Mumun padanya, tapi semua itu tidak mengurangi dirinya sebagai seorang guru dari semua santriwati. Makin terngiyang dalam ingatan Kyai Abdulah dengan semua kebencian Mumun, yang pastinya semua itu semakin terekam dalam benaknya.
Ruang kelas sepi semakin hening menemani kesendirian Kyai Abdulah masih terduduk dalam kursi seorang diri, tiada yang berani mengetuk hatinya semakin merasa bersalah dirinya.
"Ya Allah, rasanya tubuh ini seakan terkubur dalam tanah, yang masih merasa'kan hirupan napas makin terasa sesak napas sekali. Benar apa kata santriwati itu, makin dia banyak menimba ilmu agama dari saya. Tapi, semua itu malahan bertolak belakang, dengan realita kenyataan anak saya, Ya Allah. Saya selalu menerapkan bila seorang wanita muslimah harus memiliki ahlak dan menutupi rapat seluruh tubuhnya pada setiap satriwati. Tapi kenapa tidak dengan anak saya?" serasa makin terbenani rasa kesalahan makin menghukum Kyai Abdulah, masih terduduk lemas dikursi berhadapan meja bertaplak biru tua.
Kelas semakin hening, semakin sunyi hanya membisu setiap kaligarpi berlafal Allah, yang terpampang di dinding tembok kelas.
Berbagai macam poster dengan tulisan menolak, ingin keluar dari pesantren dan berbagai macam tulisan yang menyindir sudah dibawah kedua tangan semua santriwati.
Langit terlihat mendung, serasa tahu akan ikut bersedih bila kesedihan akan semakin menghujani Pesantren Al Nur Iman dengan deraian air mata. Balutan aneka warna hijab makin terlihat seperti pelangi yang sedang berjalan bergegas menuju kediaman rumah, yang berada bersampingan depan bangunan pesantren.
"Mun, Mumun! Apa tidak dengan cara lain saja kita semua protes dengan Abah? Bukan dengan cara demo kayak gini, Mun kita protes pada Abah dan Teteh Salwa?" semua santriwati sempat berhenti saat Ayla seolah-oleah melerai Mumun melempar sinis pada Alya melirik santriwati sudah mengangkat macam-macam poster tulisan bernada protes ketidak sukaan pada Kyai Abdulah.