"Aduh! Kaki, kakiku ..." merintih sakit akibat terpeleset kaki kiri Ayla. Hampir semua genangan rintik air hujan membanjiri jalan, pepohonan semakin asyik menari-nari karena terus digerus kebaikan alam, dimana setiap buih rintik air hujan begitu pentingnya untuk kepanjangan setiap menjaga kelastarian alam.
Kabut putih bercampur rintik hujan makin bikin pandangan dua mata Ayla serasa berat buat mengajak langkah dua kakinya berjalan. Sekujur tubuh dibaluti dress coklat tua lengan panjang dengan hijab putih makin lepek basah mungkin sudah tidak bisa lagi menembus kulit ari Ayla terlihat mulai tidak bisa menahan dingin.
"Aku harus cepat kasih tahu, Abah," guman mulut Alya bercampur kucuran rintik hujan terjun bebas dari kening wajahnya.
Cipratan genangan air makin jelas terlihat ketika sepatu teplek warna merah menginjak genangan air hujan dan segera berlari lagi.
Angin makin besar meniup menggerakan dedaunan lebat dan menggerakan jendela setiap kelas.
"Brug ... Prak ..." angin tidak lagi mau komproni dengan hembusan semilir sejuk angin yang seperti biasanya. Mungkin kali ini alam seraya tahu, seraya murka dengan keadaan Pesantren Al Nur Iman, dimana anak pemiliknya hamil diluar nikah tanpa lelaki yang jelas.
"Buat apa kamu jadi anak pemilik pesantren ini! Kalau kamu saja tidak bisa memberikan contoh pada kami-kami yang saat ini selalu mengikuti nasehat, Abah kamu Intan ...!" sinis Mumun tuding Intan terduduk didepan selasar halaman rumah, semuanya sudah basah kuyup.
"Harusnya kamu malu! Kamu sebagai anak, seorang anak yang Abah kamu itu sebagai panutan kami-kami yang menimba ilmu agama di sini! Tapi kamu malahan keluar diam-diam dari norma-norma ketatahan sebagai seorang anak, yang Abahnya itu adalah guru kami-kami di sini ..." tuding lagi dari salah satu santriwati semakin murka menarik dan kemudian mendorong Intan tersungkur, wajahnya makin basah air mata bercampur rintiknya air hujan semakin deras.
"Usir ... Usir dia dari sini pesantren ini ..." hasut dari salah satu santriwati sudah lepek basah.
"Iya ... Usir anak pemilik pesantren yang sudah bikin malu ini ..." makin terpukul sedih Intan dengan semua tudingan dari berapa santriwati makin meradang marah melempar poster basah kewajahnya Intan.
Hanya deraian air mata makin bercampur sembab dengan rintik hujan makin menggerus di wajahnya Intan. Berapa kali Intan berusaha ingin beranjak bangun, tapi lagi-lagi dirinya ditarik terjatuh duduk lagi oleh berapa santriwati yang semakin meradang dan semakin senangnya Mumun.
"Abah ..." teriak panggil Ayla berdiri depan pintu. Bibirnya bergetar makin tidak bisa menahan dinginnya alam yang semakin merasuki tubuhnya.
"Abah ... Cepat tolong Intan ..." hanya masih terduduk diam Kyai Abdulah seraya tidak menghiraukan teriakan panggilan Ayla semakin berjalan masuk kedalam kelas, lantai kelas basah karena tersisa telapak pijakan dua langkah kakinya Ayla makin mendekati.
"Kamu tidak pantas jadi anaknya Abah, Intan ...!" kesal dengan suara nada tinggi sesaat tangan kanan Mumun menjambak rambut Intan, kemudian di dorongnya sampai tersungkur terjatuh dalam genangan air hujan.
"Jangan kamu pikir, kamu anak Kyai Abdulah Pendiri Pesantren ini! Lantas kamu seenaknya saja berbuat apa saja sesuka hati kamu! Sementara kami di sini, di gembleng siang dan malam harus taat dan mengikuti semua pelajaran norma, ahlak dan kaidah-kadiah Islam! Tapi kamu sendiri malahan yang melanggar kaidah Islam itu, Intan! Dan kamu sendiri yang menabrak norma dan ahlak itu juga, Intan!" wajah Intan serasa makin sedih, dua matanya semakin memerah saat berapa kali tangan kirinya Mumun menjejekan wajahnya Intan dalam genangan air.
Siang itu terasa bagai malam, malam yang tidak tahu kapan akan datang. Padahal siang masih terlihat, tapi tidak tahu kenapa siang itu bagai terlihat malam hari.
Sinar matahari seakan tidak mau menunjukan taring panasnya, hanya segumpalan awan hitam yang makin menghasilkan rintik hujan deras, semakin membalut memayungi pesantren.
"Hentikan ..." teriakan Ayla sontak Mumun dan santriwati melirik kearah Ayla dan Kyai Abdulah berjalan cepat menghampiri Intan.
Santriwati mundur rada ketakutan melihat Kyai Abdulah sudah berdiri dihadapan mereka, tapi tidak pada Mumun wajahnya basah dan sinis menatap Intan berusaha berdiri dan cepat dipapah Ayla.
"Kalian tidak semestinya menghukum Intan seperti ini! Walau Intan bersalah, tapi dia juga punya hak untuk menentukan jalan nasibnya! Kalian jahat! Dan kamu juga Mumun!" meradang marah Ayla menarik Intan di belakangnya, sambil membantah seraya membela Intan dengan tuduhan Mumun dan santriwati lainnya.
Biasanya Salwa dan guru-guru siang itu masih ada, tapi nyata guru-guru sudah pulang. Dan biasanya Salwa selalu ada, tapi kini hanya kesedihan makin mendera Intan. Bila ada Salwa, pastinya dirinya akan membantu Intan, adiknya yang siang itu di bombardir kemarahan Mumun dan santriwati lainnya.