Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #10

Kesetiaan Cinta Tidak Menjamin

"Kring ... Kring ..." suara dering ponsel terdengar lagi, sejak dari tadi ponsel milik Firman terus terdengar tapi hanya di biarkan saja pada dasbort mobil.

Tentu dering suara panggilan ponsel bikin Salwa tergganggu yang duduk disamping kirinya Firman kemudikan setir mobil makin tidak pedulikan ponselnya.

"Jawab saja, Firman!" rada emosi Salwa dengan mendengar dering ponsel sejak dari tadi.

"Biarkan saja, palingan Ambu dan Abah yang memintaku cepat-cepat datang kekantor," sahut Firman awalnya cuman mau yakinkan Salwa saja agar tidak membiarkan saja dering panggilan ponsel sejak tadi terus berdering.

"Tapi aku terganggu dengan suara panggilan ponsel kamu, Fir!" balik sahut Salwa kesal wajahnya melirik kesisi atas kaca, tampak langit masih gelap dan masih turun rintik hujan deras.

"Prak ... Prak ..." maklum suara viper mobil tua antik kedengaran ringkih sedang menyapu naik turun derasnya rintiknya air hujan agar tidak menghalangi pandangan dua matanya Firman.

Berapa kali dan tidak terasa capek putaran ban mobil melindas genangan air yang ada ditepian jalan, badan mobil seluruh basah apalagi kaca bagian kiri kanan depan dan belakang, semua sudah basah.

Rasanya rintik hujan tidak peduli dengan apa yang ada dibumi, semuanya dibasahi dengan makin derasnya kucuran rintik hujan.

"Kamu kenapa jadi marah begitu, Sal? Ini'kan kita sedang menuju rumah pacarnya, Intan." lagi-lagi Firman berusaha bertanya seraya dirinya ingin sekali menenangkan perasaan cemasnya Salwa.

"Gimana aku tidak mau marah sama kamu, Fir! Tadi suara ponsel terus berdering kamu tidak jawab-jawab! Sekarang ini mobil jalannya pelan sekali! Gimana aku mau tenang, Firman ...!" sontak kaki kanannya Firman menginjak dalam pedal gas mobil berjalan cepat.

"Maaf loh, Bu Lilis. Kami sekarang berdua tidak bisa menentukan keputusan kerja sama ini. Karena sekarang ini kendali dan keputusan perusahaan ini yang menentukan itu, Firman," ternyata sejak dari tadi ponsel Firman berdering, bila dirinya ditunggu Dila dan Bagyo berusaha menahan langkah perginya Lilis sejak dari tadi juga menunggu kedatangan Firman.

"Tidak apa-apa, Bu Dila dan Pak Bagyo. Saya maklumi itu, namanya juga anak muda. Biasa, saya paham kok," sahut Lilis memaklumi, tapi tetap saja ada rasa tidak enak hati pada Dila dan Bagyo berapa kali mencoba menghubungi ponsel Firman malahan sekarang tidak aktip.

"Abah?" kedipan mata kiri Dila seraya menegaskan pada Bagyo agar mencoba kembali lagi menghubungi ponsel Firman tapi tidak aktip kali ini.

Makin terasa tidak enak hati Dila dan Bagyo berapa dirinya bangun dan terduduk, sepertinya pantatnya tidak nyaman duduk mungkin saja sedang bisulan.

"Maaf ya, Bu Lilis." makin tidak enak terucap kali ini dari bibirnya Dila perhatikan perhiasan emas yang di kenakannya pada jari, pergelangan tangan kiri kanan, kaki dan lehernya.

"Tidak apa-apa, Bu Dila. Saya maklumi kok. Ohh iya, Firman masih berhubungan dengan siapa itu?" sedikit ingin tahu Lilis sontak bertanya.

"Salwa" dijawab cepat Bagyo saat Lilis bertanya hampir lupa siapa namanya pacaranya Firman.

"Baguslah, bila Firman masih berhubungan dengan Salwa. Saya ingin sekali Renol, anak saya bisa juga punya pacar seperti Salwa. Semoga saja Firman bisa cepat melangsungkan kejenjang selanjutnya," puji Lilis tapi hatinya sekalian meluapkan keinginannya, bila dirinya ingin sekali Renol punya pacar seperti Salwa.

Lilis belum tahu, bila Salwa itu adalah Tetehnya Intan, mungkin jika Lilis tahu maka dirinya juga akan memukul rata sama ketidak sukaannya.

"Kami berdua memang kepengen sekali Firman dan Salwa cepat menikah. Tapi semua itu'kan rahasia Allah. Tapi kami berdua yakin, bila Salwa itu jodoh pilihan Allah. Ya'kan Abah?" tutur Dila sembari minta keyakinan pada Bagyo hanya tersenyum menundukan wajahnya.

"Tin ... Tin ..." berapa kali klakson terdengar dari dalam mobil, tapi tetap saja pintu gerbang rumah tidak terbuka. Niatnya Salwa ingin nemuin Renol, mungkin kandas tidak bisa bertemu.

"Brak ..." kesal Salwa tutup pintu mobil sisi kiri, saat dirinya turun. Sedangkan Firman masih duduk dibelakang kemudi setir mobik. Hujan mulai reda, tidak lagi terasa basah rintik hujannya.

Langit mulai cerah, berangsur-angsur awan hitam menyingkir pergi karena kembali datangnya sinar gahar teriknya matahari.

Lihat selengkapnya