Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #11

Keujung Dunia Pasti Kukejar

Dua mata menatap sendu berparas wajah cantik ayu terbalut hijab putih, seputih setulus Salwa ingin sekali membantu permasalahan yang sedang dihadapai Intan, adiknya kini sedang menahan beban kehamilan tanpa seorang lelaki.

Mobil mercy tua antik berwarna hitam semakin jauh, semakin lagi tidak terlihat dari tatapan dua mata Salwa, seraya dirinya semakin malas untuk tidak mendongakan wajahnya pada langit.

Langit mulai mendung awan hitamnya kembali bergumal, seraya masih tidak puasnya kembali akan menurunkan rintik hujan.

Dedaunan pepohonan besar bergerak menari-nari mengajak sejuta lembar daun hijau lainnya penghuni ranting cabang pohon yang jadi tumpuannya sesaat terhempas semilir angin sejuk.

Hembusan semilir angin juga ingin mengecup pipi cantik, pipi pemilik gadis berparas ayu yang langkahnya semakin tergoyahkan dengan cintanya telah pergi meninggalkan Salwa seorang diri, masih berdiri didepan pintu gerbang rumah mewah.

Rasanya benak hati Salwa, seakan mulai tergerus keraguan ketidak yakinan dirinya pada Firman dan semakin membuat lemah perasaan cintanya pada Firman.

"Itulah sikapmu, Fir. Kau memang benar selalu ada disetiap aku dalam kerundungan tangis masalah. Tapi kau tidak bulat setianya menjaga hati ini agar terbebas dari ketidak yakinanku selama ini. Malahan kau selalu perlahan serasa menghindar ingin melepaskan menjauh'kan dan berusaha hatimu tidak peka peduli," raut wajah Salwa semakin terhantam badai ketidak yakinan dirinya lagi pada Firman. Mulut manis kecilnya terus berguman seraya tahu kebenaran cinta yang sedang di hadapainya itu.

Memang sejak dari dulu, segitu Salwa ingin sekali menjalin hubungan yang tentunya akan berujung di pelaminan. Karena Salwa yakin, bila Firman adalah jodohnya pilihan Allah. Segitu yakin Salwa hampir setiap hari selalu reminder Firman, dengan maksud bila segalanya akan berjalan manis.

Tapi takdir dan kepribadian Firman, justru membuat hati Salwa semakin terhempas penuh ketidak yakinan. Firman segitu konsennya dengan cita-cita dirinya ingin sekali membesarkan perusahannya dan perhatian pada Ambu dan Abahnya saja.

"Aku semakin terhempas dengan cinta yang aku banguan dan aku yakinkan pada lelaki yang aku yakini dia jodoh pilihan, Allah. Tapi aku semakin yakin dengan dia, bila dia seakan-akan ingin sekali pergi meninggalkanku. Apa dia jodoh pilihan, Allah? Semua itu hanya rahasia, Allah?" guman panjang dalam hati Salwa semakin mendekati pintu gerbang yang diam membisu.

"Brak ... Brak ..." di goyang-goyangkan lagi pintu gerbang.

"Renol ... Renol ... Keluar kamu ... Kamu harus pertanggungkan perbuatanmu, Renol ... Keluar kamu ..." teriakan lantang tidak ada lagi yang melarang Salwa serasa dirinya sesuka hati meluapkan kemarahan sambil menggedor pintu gerbang tetap tidak ada jawaban dan ada tidak batang hidung siapapun yang juga terlihat.

"Walau kamu lari sampai keujung dunia! Aku akan tetap mengejar kamu, Renol ...!" kesal teriak lagi Salwa sambil wajahnya sedikit masuk kedalam lobang pintu gerbang.

"Klotek ... Klotek ..." kesal murka mungkin hatinya Salwa meradang mulutnya di dekatkan pada lobang kecil pintu gerbang, sontak terdengar suara slot besi grendel pintu ada yang menariknya dari dalam.

Sedikit tersenyum Salwa, mungkin seseorang dari tadi sudah pusing mendengar teriakan Salwa mundur selangkah kebelakang. Pintu gerbang bergeser kekanan sedikit, tidak semua terbuka. Salwa perhatikan seorang wanita tua, kira-kira seumuran Dila, Ambunya.

Walau tampak wajahnya tua, tapi di lihat cara berpakaiannya cukup modern, mungkin wanita tua itu pemilik rumah atau Omahnya Renol.

"Ada apa?" tanya Omah Rita melempar senyuman pada Salwa sontak kemarahannya turun dratis, yang tadi tensi kemarahannya diatas 140, kini mungkin sekitar 100 normal.

"Maaf. Apa Renol ada?" sahut Salwa wajahnya clingak-clinguk kedalam tapi tidak berani masuk karena masih berdiri Omah Rita ditengah sela-sela pintu gerbang.

"Renol tidak ada." jawab Omah Rita, bibirnya merekah merah terbalut lipstik atas bawah bibirnya. Wajahnya walau tua, tapi sangat cantik sekali, karena polesan make'up masih mendarat di wajahnya. Pakaiannya terlihat kekinian, dress terusan berwarna putih motip kembang dengan sandal jepit bermerk brandit luar.

"Kemana?" balik tanya Salwa mulai wajahnya digelayuti kecemasan, bakalan dirinya tidak bisa menemukan Renol atau membawa pulang untuk Intan.

"Pasti Renol ada didalam rumah!" rada ketus sahutin Salwa yang mungkin tidak percaya.

"Benar. Omah tidak bohong loh. Kalau Renol memang tidak ada dirumah. Renol barusan sudah berangkat pergi?" tandas Omah Rita mastikan bila jawabannya memang benar sambil menarik gerbang pintu akan di tutupnya.

Lihat selengkapnya