Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #12

Percaya Pada Cinta

Dua kakinya Salwa seakan terikat beban berat semakin berat untuk tidak bisa melangkah berjalan. Dirinya masih berdiri didepan pintu gerbang membisu sudah tertutup dari dalam.

Pintu gerbang besar bergaya klasik, ornament matahari tersenyum menyinari ada ditengah-tengah pintu gerbang. Masih terbesit dalam benaknya Salwa apa yang baru saja di katakan Omah Rita, tentang Renol yang apakah benar kini di London.

Benar saja dua matanya makin tidak bisa menahan kesedihan, langkah berjalan berat disertai rintik hujan makin membuatnya terasa hancur pengharapannya dan terasa makin dingin seluruh tubuhnya.

Hancur rasanya semua sia-sia sungguh kenyataan makin menyayat hati Salwa semakin terasa sakit dan semakin terasa yakin, bila dirinya tidak ingin kembali percaya pada cinta.

Tepian jalan sepi sunyi, senja mulai terbit dengan lirikan dua mata sendu semakin tidak menepi berarah kemana tujuan dan langkahnya.

Awan hitam semakin beranjak jauh berganti dengan tebaran senja bermain dengan awan kelabu makin mengangaksa dilangit mulai datangnya langit kelabu.

Dedaunan pohon bergerak kecil terhempas semilir angin sejuk makin menusuk relung hati terdalam terbalut sakit.

"Mungkin hanya ratapan kesedihan penantian Intan dan calon bayi, yang kini tidak tahu lagi dimana Renol. Semakin jauh aku tidak percaya lagi dengan kepercayaan cinta yang selama ini aku gadang-gadang'kan, bila percaya pada cinta akan menjadi'kan hati ini semakin terasa manis. Tapi nyatanya kepercayaan itu, makin menyayat hatiku ini semakin tidak percaya pada cinta lagi." ungkap dalam hati Salwa terus berjalan ditelan mulai datangnya senja berangsur-angsur terbalut lelapnya malam bercampur kabut putih

"Abah" mungkin tidak enak hatinya Intan memanggil Kyai Abdulah baru saja selesai Sholat Magrib. Intan hanya berdiri didepan pintu, mungkin tidak layak dirinya berharap balas kasihan dan sayang pada seorang tua yang sebegitu sangat sayang dan mencintai, dengan Intan malahan membalas semua itu dengan dusta.

Ruangan yang biasa selalu menemani Kyai Abdulah terbaring setelah seharian dirinya terasa lelah setelah mengajar di pesantren. Ruangan kamar sederhana, hanya ada dipan besar, kursi dan meja serta foto dirinya dengan Almarhumah Ambu Ane terpampang pada dinding tepatnya didepan dipan, yang jadi tempat pembaringan Kyai Abdulah.

"Intan" sahut Kyai Abdulah beranjak bangun meninggalkan sazadah masih terasa membekas ada sisa pengaduan Kyai Abdulah pada Allah.

Tidak jadi beranjak jalan Intan, ketika Kyai Abdulah tersenyum sumringah melihat ada sesuatu yang takjub pada Intan. Balutan busana musilmah biru muda dengan hijab berwarna senada makin membalut tubuhnya semakin memancing keharuan Kyai Abdulah tidak hentinya menatapnya terus.

"Ampun, ampun'kan aku, Abah," sontak Intan bersujud menahan derap langkah kaki Kyai Abudlah yang tadinya akan menghampiri dirinya.

Benar saja keharuan dua mata Kyai Abdulah makin tidak terbendung dengan lihat saja dua matanya makin berkaca-kaca merona merah. Lantunan lafal Allah makin terus bergetar terucap dari bibir dan tangan kanannya makin melintir biji demi biji tasbih bergantian terinfus lafal Allah, terus terucap dari bibrinya Kyai Abdulah.

Lihat selengkapnya