Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #13

Masih Ada Cinta

St. Thomas Hospital sudah di dirikan sejak 1871, St. Thomas Hospital menyediakan perawatan kesehatan umum. St. Thomas Hospital salah satu rumah sakit paling terkenal dibagian tenggara London karena lokasinya persis ditepian seberang Sungai Thames dan tidak jauh dengan Gedung Parlemen.

St Thomas Hospital dapat diakses dari stasiun kereta bawah tanah Westminster, kurang lebih sekitar 10 menit atau berjalan kaki melintasi Jembatan Westminster, stasiun Waterloo.

Bangunan St. Thomas Hospital, hampiri dipenuhi dengan kaca tebal penahan panas. Bangunan bergaya modern, tetap ditumbuhi dengan hijau dedaunan pohon hampir menghiasi seluruh selasar halaman depannya.

Makin sungguh tinggi dan mewahnya St. Thomas Hospital bila terlihat dari tepian Sungai Thames. St. Thomas Hospital juga terapit dengan gedung-gedung tidak kalah mewah, salah satunya Gedung Parlemen London, yang tidak jauh dari jangkauan St. Thomas Hospital.

Sungai Thames adalah salah satu lokasi paling populer juga di London. Betapa tidak, di sekitarnya bisa menjumpai beberapa ikon kota London seperti Big Ben, London Eye, dan Tower Bridge. Sungai Thames pun selalu tidak sepi, selalu didatangi para pelancong dari manca negara dan juga dicintai warganya sendiri karena telah menjadi rumah bagi banyak hewan air dan perairannya juga bersih.

Tatapan sendu dua mata Renol terus perhatikan dari kejauhan St. Thomas Hospital, mungkin dirinya sudah sering berada di Kota London. Tidak tahu dan kenapa sampai Renol sering bolak-balik Jakarta-London, pastinya ada sesuatu dan hanya Renol yang tahu.

Dedauan pepohonan berguguran terhempas angin kecil, dedaunan bergerak terbang dan terhempas berterbangan dihadapan Renol masih terduduk pada kursi pinggiran tepian Sungai Thames.

"Hati ini selalu masih ada cinta buatmu, Ntan," makin sendu dua matanya Renol, seraya gumannya terucap hanya dalam hatinya tidak berani di umbarkan, mungkin Renol takut bila ketahuan Lilis, yang saat ini masih berada di Bandung.

Berjaket biru tebal, dengan celana jeans hitam bersepatu kets putih masih setia membalut seluruh tubuhnya Renol.

"Sampai kapan ketakutan ini akan terus membungkus relung jiwaku? Sampai kapan semua ini akau rahasia'kan dari Intan tentang semua apa yang aku alami saat ini?" guman pelan terucap dari bibir kecil berpayung kumis tipisnya Renol.

Benar saja selama ini Renol menyimpan rahasianya dari Intan, kenapa dirinya sebegitu menjadi anak penurut seraya takut dengan kemarahan Lilis.

"Aku masih tetap mencintai kamu, Ntan. Serasa diri ini terpendam pada dasar sungai itu makin tergerus terhempas deras riaknya deras airnya," terus dan terus rasa bersalah dan terucap dari bibirnya Renol, tapi tetap hatinya masih ada cinta dengan Intan.

"Aku yakin masih ada cintaku buat kamu, Intan. Dan aku yakin bila kamu itu jodohku pilihan Allah." guman di sertai raut wajah tersenyum Renol tapi tangan kirinya cepat menyentuh dada kirinya seperti menahan sedikit sakit.

"Ya Allah, aku tahu Kau saat ini sedang menjadi sutrada dalam hidupku, dimana aku menjadi peranMu. Saat ini aku semakin sadar, semakin mengerti dengan arahanMu. Betapa bodohnya aku dengan segala kondisi yang aku alami saat ini, yang malahan aku tidak mengubrisMu dan aku malahan menambah memperburuk keadaan. Sehinggah sakitku semakin parah, karean aku semakiin tidak yakin dnegan semua arahanMunketika itu, Ya Allah." langit Kota London mulai mendung seraya tahu tuturan hati penyesalan Renol beranjak bangun berjalan sedikit ketepian Sungai Thames, riak airnya semakin tenang mengalir.

Lemparan senyuman terumbar manis dari setiap wajah periang warga lokal berpapasan dengan Renol juga membalasnya dengan lemparan senyuman hangatnya.

Terhampar kapal-kapal kecil wisata bersandar ditepian Sungai Thames, dimana mesinnya mulai bergetar akan bersiap berjalan menyusuri Sungai Thames membelah Kota London.

Lihat selengkapnya