Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #14

Cinta Sampai Disini Saja

Langit gelap bertaburan kedipan jutaan bintang terasa dekat sekali ketika Firman berpijak diselasar halaman rumah yang begitu luas sekali.

Masih mengenakan kain sarung dan baju kokoh putih tapi tidak mengenakn kopiah, Firman terasa hatinya sendu bercampur haru memuja keindahan malam.

Dua matanya masih terlihat terekam berkaca-kaca nyata taburan jutaan bintang disertai bibirnya seraya memuji.

"Segala puji dan sykukur padaMu, Ya Allah dengan rahmat dan segala bentuk ciptaanMu yang indah tiada taranya," terucap makin seraya memuji keagungan Allah disertai raut wajah Firman kini mulai tersenyum.

"Terus dan tidak henti-hentinya kamu merasalah bosan untuk terus memujiNya, Firman. Segala bentuk semua yang tercipta dibumi ini adalah ciptaanNya, sepatutnya kita selalu bersyukur dan memujiNya," sudah berdiri Bagyo disamping Firman, kini terlihat jelas dua pasang kain sarung dengan motip warna yang sama dan baju kokoh putih juga warna yang sama.

Sementara dari teras beranda depan rumah, begitu penuh dengan senyuman raut wajah Dila, masih terbalut mukenah putih. Penuh senyuman Dila perhatikan dua lelaki yang selama ini mengapit dirinya, merajuk hidup penuh kebahagian pastinya.

"Ambu tidak mau cinta kasih sayang kita bertiga hanya sampai disini saja. Hanya waktu dan kontrak dari Allah'lah semua ini akan terhenti," terumbar senyuman sumringah disertai langkah jalan Dila mengenakan sandal jepit sambil dua tangan kiri kanannya mengangkat sedikit mukenah keatas agar tidak terkena serpihan noda kotor menghampiri setengah pembicaran Firman dan Bagyo.

"Abah tidak mengapa bila keputusan kamu tetap akan berangkat melanjutkan sekolah S2 lagi, Firman," sahut Bagyo melirik Dila sudah ada di belakang Firman menoleh senyum, serasa kuping kiri kanan Dila sangat peka dan telah mendengar apa yang di inginkan hatinya Firman.

"Lihat langit itu, dia selalu setia sekali dengan jutaan bintang dan sinar rembulan malam. Ibarat Ambu bagai langit, dan Abah bagai sinar rembulannya dan kamu bagai taburan jutaan bintang itu, Firman. Disetiap taburan langkah jutaan bintang walau dia berkedip jutaan kiloan mil, tetapi langit itu akan selalu memayungi dan mendoa'kan. Dan Abah sebagai sinar rembulannya yang selalu senantiasa berdoa untuk kamu juga, Firman. Ambu tidak mengapa dan tidak keberatan bila kamu mau melanjutkan S2 kamu, tapi ingat setiap langkah dan pijakan kamu selalu diawasi Allah." memang salah satu kesukaan Dila selalu meyenggol Bagyo, suami tercintanya itu setiap dirinya selalu ingin mengutarakan sesuatu.

Tapi yang namanya orang tua, tetap nalar dan instingnya lebih peka dengan raut wajah serta pikiran Firman walau di sembunyikan dari relung hatinya yang terdalam.

"Ambu tahu apa yang sedang kamu pikir'kan, Firman? Ambu dan Abah tidak mengapa bila jejak langkahmu semakin yakin untuk mengurungkan niatmu untuk memberikan momongan cucu buat Ambu dan Abah. Padahal hati kami berdua sebegitu bahagianya bila rumah kecil itu selalu terdengar canda dan tawa seorang cucu, pastinya dia akan menemai kami berdua saat hari tua kami akan tiba. Tapi Ambu dan Abah lebih bijaksana dan tidak akan pernah mengekang keinginanmu itu, Fir," tatapan sendu wajah Dila masih terbalut mukenah putih di wajahnya sambil sebentar menunjuk rumah yang tidak jauh dari hadapan mereka bertiga.

"Abah sependapat dengan Ambu, Fir. Bila kamu mau mengulur waktu rencana pernikahan kamu dengan Salwa. Bagi Abah dan Ambu itu tidak masalah kok. Yang penting kamu nanti disana harus belajar dengan giat, agar S2 kamu bisa cepat dicapai. Biar Abah dan Ambu saja mengurus perusahaan itu," tetap saja ada sesuatu yang dipikirkan Bagyo dalam benak hatinya, walau dirinya ingin melepaskan Firman untuk melanjutkan S2.

"Ya Allah, apa yang terjadi dengan Firman? Seakan dirinya ingin pergi menghindar dari seseorang?" guman dalam hati Bagyo benaran saja semakin cemas dibuat hatinya oleh Firman.

"Lantas bagaimana dengan Aah Firman, Teh? Kalau Teteh jadi mencari Renol di London sana?" tanya Intan sambil dua tangannya membantu masukan pakaian Salwa yang berencana akan mencari Renol.

"Teteh hanya bisa pasrah pada Allah, Ntan dengan hubungan Teteh dengan Firman," sambil menarik ujung reseleting tangan kanan Salwa lalu meletakan tas koper dibawah lantai samping ranjang.

"Mungkin ini, cintaku sampai disini saja, Fir" sedikit terucap dari bibir Salwa namun hatinya juga seraya berkata tentang kegundahan hatinya selama ini.

Lihat selengkapnya