"Baik-baik kamu disana, Salwa." terucap berat dari mulut Kyai Abdulah setelah melepaskan pelukannya pada Salwa tersenyum tapi wajahnya tidak sanggup menahan sedih.
"Teteh?" begitu juga dengan kesedihan dan tidak inginnya Intan melepaskan Salwa pergi, Intan tetap tidak mau melepaskan pelukannya malahan dirinya semakin erat memeluk Salwa.
Biasanya halaman pesantren ramai sekali dengan riuh canda tawa santriwati, tapi kini hanya tertinggal Ayla dan berapa santriwati yang mereka tidak tergerus termakan hasutan Mumun.
Ayla dan santriwati lainnya hanya berdiri menahan agar dirinya tidak ikut terlarut dalam kesedihan kepergian Salwa mencari Renol di London sana.
Lereng perbukitan Gunung Burangrang makin jelas terlihat jelas tidak biasanya terbalut kabut putih menghalangi penglihatan pandangan sejuk dua mata ketika di manjakan saat memandang lereng perbukitan Gunung Burangrang dari kejauhan.
Seakan perbukitan lereng Gunung Burangrang ingin melihat kepergian Salwa, tanpa sedikitpun kehilangan moment terharu masih berpelukan erat antara Salwa dan Intan.
"Teteh, janji akan bawa Renol pulang buat kamu, Ntan. Alangkah bahagianya Teteh bila nantinya melihat keponakan Teteh lengkap bersama Abahnya, yang selalu mendekap pelukan kasih sayang dan selalu mencintainya," makin sedih Salwa juga tidak mau melepaskan pelukannya, padahal Bang Kusin sudah sejak dari tadi duduk menunggu dibelakang kemudi setir mobil Avanza warna silver.
"Teh ini ambil," tangan kirinya Intan menyodorkan selembar cek, ternyata Intan sudah tahu bila diam-diam Lilis menyelipkan selembar cek saat dirinya ingin sekali Renol agar mau menikahinya.
Tapi nyatanya niat Intan hanya terbayar selembar cek, namun tetap dirinya tidak mau menggunakan selembar cek itu yang bernomnal 10 milyar semata-mata untuk penghidupan anak dan dirinya nanti.
Rada terkejut Salwa melihat nominal selembar cek itu, tapi malahan tangan kanannya mendorong cek kembali pada Intan.
"Betapa serendahnya kehamilan buah hatiku ini, Teh. Hanya ditukar dengan selembar cek ini," terucap sedih Intan melirik Kyai Abdulah menahan sedih mendekati Salwa.
"Teteh ada kok, Ntan. Simpan saja cek itu dan nanti kamu kembalikan saja lagi sama yang memberinya," sungguh semakin terpukul kesedihan Kyai Abdulah perhatikan Intan, segitu rendahnya dirinya sebagai seorang wanita yang sedang hamil hanya ditukar dengan selembar cek yang nominal cukup fantastis sekali.
Tapi juga tidak serendahnya Intan, Salwa dan Kyai Abdulah yang semudah itu untuk menerima selembar cek pemberian Lilis, yang semata-mata untuk mengakhiri permasalahan.
"Teh Salwa hati-hati ..." kompak bersahutan Ayla dan santriwati melepaskan kepergian Salwa akan menarik handle pintu mobil sisi kiri depan tidak jadi, masih sabarnya Bang Kusin menunggu duduk dibelakang kemudi setir mobil.
"Ayla dan kalian, jaga Intan dan Abah ya," sahut Salwa lalu menarik handle pintu mobil terbuka dan segera duduk Salwa disamping Bang Kusin mulai siap-siap menginjak pedal kopling dan tangan kirinya memindahkan gigi satu dari netral, lalu kaki kanannya menginjak pedal gas mobil berjalan pelan.
"Teteh ..." teriak memanggil Intan mengejar mobil makin jauh berjalan, lirikan dua mata Salwa melirik kaca spion kiri terlihat Intan, Alya dan santriwati mengejar mobil makin jauh terlihat dari pandangan.
"Teteh janji, Ntan akan bawa pulang Renol buat kamu ..." kepala Salwa di longkokan keluar sambil tangan kanannya terus melambai-lambaikan keluar.
"Kamu jangan lupa Sholat dan makan harus teratur disana. Awas jangan sampai sakit maag kamu kambuh," berat juga Dila melepaskan pelukannya pada Firman melirik Bagyo keluar sudah masukan tas koper besar kedalam bagasi mobil mercy antik warna hitam, yang biasanya di kemudikan Firman, kini Bagyo sendiri yang akan jadi sopir mengantarkan anak kesayangannya itu kebandara.
"Iya Ambu." singkat jawaban Firman rasanya juga hatinya berat buat melepaksan pelukan dan meninggalkan Dila raut wajahnya menahan sedih karena tidak mau berpisah.