Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #16

Berangkat Kelondon

Bandar Udara Husein Sastranegara merupakan bandar udara peninggalan Pemerintah Hindia Belanda dengan sebutan Lapangan Terbang Andir. Nama Husein Sastranegara diambil dari nama seorang pilot militer AURI yang telah gugur pada saat latihan terbang di Yogyakarta tangal 26 September 1946.

Hingga pada tahun 1974 mulai dilakukan kegiatan pelayanan lalu lintas dan angkutan udara komersial secara resmi yaitu dengan berdirinya kantor Perwakilan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan nama Stasiun Udara Husein sastranegara Bandung untuk kepentingan kegiatan penerbangan komersial sipil dan umum sampai sekarang ini.

Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara yang terletak di Jalan Pajajaran Nomor. 156, kelurahan Husein Sastranegara, kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Salah satu bandara kebanggan masyarakat Kota Bandung, yang juga melayani penerangan komersil dalam dan luar negeri.

Ruang tunggu pas boarding terasa sepi, hanya tinggal berapa saja calon penumpang yang akan terbang menuju London. Satu-persatu antri tertib dibelakang sambil menujukan tiket pada petugas, setelah itu baru di perbolehkan untuk masuk pada pintu jembatan penghubungn antara bandara dan pesawat, yang biasa disebut garbarata, tapi sebelum masuk pintu jembatan penghubung garbarata tetap ada petugas yang akan mengcroscek lagi tiket calon penumpang.

Kini giliran Firman yang mengantri didepan, tangan kanannya penuh sopan santun menyodorkan tiket pada petugas yang akan mengeceknya dan memberikan nomor kursi yang akan di dudukinya.

Sesaat tiket di cek oleh pertugas yang dua tangannya terus menyentuh tombol keyboard berwarna dasar hitam dan dua matanya fokus pada layar komputer yang ada di hadapannya.

"Mungkin saja aku salah melihat tadi? guman ragu tapi perasaan hatinya Firman masih terpancing penasaran saat dirinya seperti melihat Salwa ketika mobil yang di kemudikan Bagyo menyalip mobil avanza silver tadi.

"Pak?" panggilan petugas maskapai penerbangan setelah selesai mengecek dan mendapatkan nomor kursi pesawat.

"Pak ini pas boarding sudah selesai," lagi-lagi panggilan sopan gadis petugas maskapai penerangan yang pesawatnya akan segera dinaiki Firman.

"Iya, iya terima kasih." cepat tangan kanan Firman mengambil tiket lagi, dengan sopan sambil berdiri membungkukan setengah badannya gadis petugas pas boarding mengarahkan tangan kanannya pada Firman di persilahkan masuk.

Didepan Firman sudah siap-siap lelaki petugas boarding pas sudah menunggu dan akan kembali lagi mengecek tiket Firman, tapi kenapa langkahnya tidak jadi.

Malahan dua langkah Firman melirik pada pintu berkaca ruangan pas boarding, memang terlihat berapa calon penumpang masuk dan terduduk menunggu antrian lagi.

"Silahkan Pak, bisa tunjukan tiketnya," terdengar ramah seraya memanggil Firman agar menunjukan tiketnya sebelum masuk jembatan garbarata.

"Bang Kusin! Sudah, sudah di sini saja saya turunnya!" kata Salwa pada Bang Kusin padahal mau bantuin masuk baqa tas koper.

"Tapi?" mungkin karena takut telat Salwa cepat turun dari mobil disela Bang Kusin karean pintu masuk keberangkatan luar negeri masih ada didepan.

"Brak!" suara pintu mobil ditutup.

"Lagian juga Bang Kusin lama bangat setir mobilnya!" makin ketakutan ketinggalan pesawat, Salwa setengah menyalahkan Bang Kusin cuman terdiam menahan kaget saat Salwa menuntup pintu bagasi belakang ditutup rada kencang sontak bikin calon penumpang yang berjalan disamping mobil sempat melirik.

"Neng Salwa?" tidak enak hati Bang Kusin.

"Sudah sana, Bang Kusin pulang saja!" sempat Bang Kusin akan mendekati Salwa malahan mengusirnya pergi.

"Pelan salah. Lebih kencang salah! Pusing ahhh!" gerutu Bang Kusin sambil garuk-garuk kepalanya lalu masuk kedalam mobil berjalan susuri halaman bandara yang semakin siang, semakin banyak naik dan turunnya penumpang dari pesawat.

"Semoga Firman bisa menjaga dirinya di London," guman tersenyum penuh percaya dirinya Bagyo seraya mendoakan Firman. Baru saja tangan kirinya akan mengoper gigi satu dari netral tidak jadi, sontak Bagyo akan beranjak keluar tidak jadi saat dirinya masih terduduk dibelakang kemudi setir mobil melihat Salwa berlari kearah pintu masuk keberangkatan luar negeri.

"Salwa ..." tapi tetap Bagyo harus turun dari mobil dan akan mengejar Salwa.

"Tin ... Tin ..." tapi saat bagyo akan mengejar Salwa, dirinya malahan di kejutkan dengan taksi putih dibelakang mobilnya membunyikan klakson.

"Iya ... tunggu sebentar!" cepat Bagyo kembali lagi duduk dibelakang kemudi setir mobil untuk sedikit memajukan mobil karena menghalangi laju jalan taksi putih dibelakang yang akan menurunkan penumpang.

"Itu? Itu Salwa mau kemana dia?" cepat Bagyo turun lagi berlari cepat, padahal dua dengkul kakinya tidak mungkin bisa secepat berlari ketika dirinya masih muda dulu.

Lihat selengkapnya