Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #17

Satu Pesawat Dua Hati

Burung raksasa besi besar terbang menembus langit beratap langit cerah siang itu, gumpalan awan putih seraya kapas empuk terasa ringan menjadi pembaringan terlihat berada diatas kepakan sayap kembar burung besi terus meleset cepat menuju London.

Burung besi raksaksa bernomor punggung HS777, berlogo bintang bersinar telah berangkat dari Bandar Udara Husein Sastranegara menuju Bandara Headhrow London.

Terasa terhempas lembut dorongan double mesin jet pesawat semakin melesat berjalan cepat menembus tanpa halangan yang pasti ketika berjalan didarat dan lautan.

Cerahnya langit membiru memayungi kecilnya burung besi terus mengepakan dua sayap besarnya membawa dua insan berhati penuh keraguan cinta dan ketidak yakinan tampak terlihat dari dua sisi kaca bagian kanan wajah mereka berdua.

Penuh riasu dan kegundahan pandangan dua mata Salwa melihat pada gumpalan awan putih terasa semakin nyaman untuk di ajaknya terbaring, tapi sayangnya kini cintanya tidak tahu kemana.

Yang katanya cintanya itu adalah jodoh pilihan Allah, tapi semakin seiring jalan penuh dengan keraguan akan sikap Firman, tentu membuat Salwa seraya hanya ingin terbaring tidur diatas gumpalan nyamannya segumpalan awan putih tanpa ingin dirinya ditemani siapapun, termasuk Firman.

Firman sedikit melempar senyuman pada segumpalan awan putih pemilik wajah tampan dengan kumis kecilnya memayungi bibir kecil, tetapi segumpalan awan putih seraya hanya terdiam karena hatinya sudah jatuh hati pada gadis cantik berkerudung putih, terduduk di belakangnya. Makin tersenyum Firman wajahnya ketika melihat bayangan Salwa terduduk diatas segumpalan awan putih.

"Salwa?" guman dalam hati Firman seraya memanggil ragu Salwa.

"Firman?" yang sontak terdengar kecil suara bahtinnya Salwa terpanggil juga dengan menjawab sambil tersenyum.

"Maaf, Salwa. Bukannya aku ingin pergi jauh menghindar untuk meninggalkanmu, tapi tidak tahu kenapa hatiku terumbar rasa keraguanku untuk tidak menancapkan namamu pada relung hati ini. Serasa keraguan semakin menusuk sukma hatiku ini, walau aku sadar setiap harinya hembusan semilir angin sejuk itu selalu membisikanku, bila kamu adalah jodohku pililhan Allah," guman dalam hati Firman melirik kursi sisi kirinya yang kebetulan kosong tidak ada penumpang lainnya selain dirinya saja.

"Aku juga sama, Fir. Tidak tahu kenapa serasa relung hati terdalamku ini selalu berkata, bila semakin ada keraguan ketidak yakinan samudra cinta yang selalu kita berdua arungi. Padahal hampir setiap hari aku selalu meniupkan terompet cinta untuk mengingatkan kamu padaku selalu. Tapi kenapa malahan hati ini semakin yang ada hanya keraguan dengan sikapmu itu, yang padahal aku selalu bersiap kapan kamu mau menyematkan lingkaran cincin cinta itu pada jemari manisku ini. Hanya harapan dan waktu kosong terbuang penuh kesia-siaan yang aku lakukan untukmu, saat ini aku mungkin telah jauh darimu, sejauh hatiku untuk pegi meninggalkanmu. Maaf'kan aku tidak percaya lagi bila kamu itu adalah jodohku pilihan Allah." sahut dalam hati Salwa berapa kali bibir kecilnya mengecup jari manisnya yang merindukan sejak dari dulu kapan jari manisnya itu di sematkan cincin cinta.

Tidak banyak penumpang yang terlihat didalam pesawat, hanya berapa penumpang yang masih terjaga dari tidurnya, padahal jarak antara Bandung-London cukup lumayan memakan waktu, yaitu sekitar 8 jam.

Terasa lelah dan pegel-pegel juga pantat bila terlalu lama duduk, tapi tidak pada Salwa hanya dibawa tersenyum dan kadang-kadang dua matanya diajak tersenyum melihat gumpalan awan mengajak tersenyum.

Karena dirinya sudah lelah sejak dari tadi, mungkin dua matanya ingin sekejap terpejam melepas lelah, kepalanya lalu mendarat pada headrest kursi yang begitu nyaman sekali.

"Selamat siang?" sapa penuh senyuman ramah pramugari berkain kebaya biru muda salur batik serta dengan atasan putih berenda pelangi.

"Bisa saya bantu?" tanya lagi penuh senyuman pramugari yang nemteknya bernama Atika disisi dada kanannya. Makin menunduk Atika perhatikan tangan kanan Firman selalu mengusap perutnya, mungkin saja dirinya lupa makan, tentu sakit maagnya kambuh lagi.

"Maag saya kambuh." jawab Firman pelan sambil menahan sakit sambil melirik menoleh kesisi kiri belakang hanya terlihat selimut bludru menutupi wajahnya Salwa.

"Baik, saya akan segera mengambilkan obat sakit maag dan makanan," jawab Atika mulai ikut cemas melihat tangan kanannya Firman terus mengelus perutnya.

Atika lalu beranjak jalan sedikit melirik kearah Salwa, wajah kanannya masih terbaring diatas headrest dengan tertutup selimut bludru.

Lihat selengkapnya